Jambi, jemarionline.com – Sosialisasi pencegahan radikalisme sekolah menjadi fokus utama dalam kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi bersama Densus 88 Antiteror Polri.
Kegiatan ini berlangsung di Lapangan SMAN 10 Kota Jambi pada Senin (18/5).
Sejak awal, kegiatan ini menekankan pentingnya menjaga lingkungan pendidikan dari pengaruh paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Selain itu, para peserta mengikuti rangkaian acara dengan serius. Pihak sekolah menghadirkan kepala sekolah, guru, dan siswa untuk mendengarkan materi secara langsung.
Dengan demikian, seluruh peserta memperoleh pemahaman yang sama tentang bahaya penyebaran paham radikal di lingkungan pendidikan.
Sekolah Didorong Jadi Benteng Utama Nilai Kebangsaan
Kasi Ketenagaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMA Disdik Provinsi Jambi, Domrah, menegaskan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa.
Oleh karena itu, ia meminta sekolah memperkuat pengawasan terhadap aktivitas peserta didik.
Selain itu, Domrah menegaskan bahwa sekolah tidak boleh memberi ruang bagi paham yang bertentangan dengan Pancasila.
Bahkan, ia menekankan bahwa guru harus lebih aktif membimbing siswa dalam kegiatan belajar maupun kegiatan ekstrakurikuler.
“Kami ingin memastikan sekolah di SMA Jambi benar-benar bersih dari radikalisme. Karena itu, sosialisasi ini kami lakukan agar siswa tidak mudah terpengaruh,” kata Domrah.
Selanjutnya, ia mengajak seluruh guru untuk memperkuat pengawasan. Dengan demikian, seluruh aktivitas siswa tetap berada dalam koridor nilai Pancasila dan NKRI.
Densus 88 Soroti Penyebaran Radikalisme di Dunia Digital
Sementara itu, perwakilan Densus 88 Antiteror Polri, AKP Sudiro, menjelaskan bahwa penyebaran radikalisme kini berkembang melalui media digital.
Bahkan, kelompok radikal memanfaatkan media sosial sebagai sarana utama propaganda.
Di sisi lain, ia menilai pelajar menjadi kelompok yang rentan terhadap pengaruh tersebut. Hal ini terjadi karena intensitas penggunaan internet di kalangan remaja sangat tinggi.
“Kelompok radikal memanfaatkan internet untuk menyebarkan paham yang menyesatkan. Oleh sebab itu, siswa harus cerdas memilih dan memilah informasi,” ujar Sudiro.
Lebih lanjut, ia meminta siswa tidak langsung mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Selain itu, ia juga mendorong siswa untuk berpikir kritis saat menerima informasi di media sosial.
Siswa Diminta Aktif Menolak Paham Radikal
Selain memberikan edukasi, Densus 88 juga mengajak siswa untuk berperan aktif dalam pencegahan radikalisme.
Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam menjaga keamanan lingkungan sekolah.
Kemudian, siswa harusberani menolak segala bentuk ajakan yang mengarah pada intoleransi. Bahkan, mereka juga diminta melaporkan jika menemukan konten atau aktivitas yang mencurigakan.
Oleh karena itu, aparat berharap kesadaran siswa semakin meningkat. Dengan begitu, lingkungan sekolah tetap aman, sehat, dan kondusif.
Deklarasi Bersama Tegaskan Komitmen NKRI
Pada akhir kegiatan, seluruh peserta mengikuti deklarasi bersama. Kepala sekolah, guru, dan siswa SMAN 10 Kota Jambi menyatakan komitmen yang sama.
Mereka menolak segala bentuk paham radikalisme di lingkungan pendidikan.
Selain itu, mereka juga menegaskan kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Akhirnya, deklarasi ini menjadi simbol kerja sama antara sekolah dan aparat keamanan dalam menjaga persatuan bangsa.(ar)









