Jakarta – Mantan kepala badan intelijen luar negeri Inggris, Sir Alex Younger, mengungkapkan bahwa Iran memiliki kekuatan yang jauh lebih tangguh dari perkiraan dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.
Dalam analisis terbarunya, Younger menilai pendekatan yang diambil oleh Iran membuat negara tersebut mampu bertahan dari berbagai tekanan, bahkan dalam situasi konflik yang memanas sekalipun.
Strategi Militer Fleksibel
Menurut Younger, salah satu kunci kekuatan Iran terletak pada strategi militernya yang fleksibel dan adaptif. Negara tersebut tidak menempatkan seluruh kekuatan militernya di satu titik, melainkan menyebarkannya ke berbagai wilayah.
Selain itu, komando lapangan juga diberikan kewenangan lebih besar untuk mengambil keputusan cepat. Langkah ini membuat respons Iran terhadap serangan menjadi lebih efektif dan sulit diprediksi.
“Iran menunjukkan kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam tekanan yang tinggi,” ujar Younger.
Terapkan Eskalasi Horizontal
Iran juga disebut menerapkan strategi “eskalasi horizontal”, yaitu memperluas area konflik dengan menyerang berbagai target dalam jangkauan yang lebih luas. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan tekanan terhadap lawan tanpa harus terlibat dalam satu titik pertempuran besar.
Strategi tersebut dinilai efektif dalam mengimbangi kekuatan militer yang lebih besar dari pihak lawan.
Pengaruh Besar di Jalur Energi Global
Tak hanya dari sisi militer, Iran juga memanfaatkan posisinya dalam jalur distribusi energi dunia. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak global.
Ancaman terhadap jalur ini dapat berdampak luas pada stabilitas ekonomi dunia, sehingga meningkatkan tekanan terhadap pihak-pihak yang berkonflik dengan Iran.
Opsi AS dan Israel Dinilai Tidak Ideal
Younger menegaskan bahwa opsi yang dimiliki Amerika Serikat dan Israel saat ini semakin terbatas.
Menurutnya, bagi Iran konflik ini merupakan persoalan eksistensial atau menyangkut kelangsungan negara. Sementara bagi Amerika Serikat, konflik masih dianggap sebagai bagian dari pilihan strategis.
Perbedaan sudut pandang ini membuat Iran dinilai lebih siap menghadapi konflik jangka panjang.
Kesimpulan
Dengan strategi militer yang adaptif dan kemampuan memanfaatkan faktor geopolitik, Iran dinilai berhasil memperkuat posisinya di tengah tekanan global. Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel kini dihadapkan pada situasi yang semakin kompleks dengan pilihan yang tidak mudah.









