JAMBI – Kasus dugaan peretasan sistem perbankan kembali mencuat. Kali ini, Bank Jambi dilaporkan menjadi korban serangan siber yang menyebabkan dana nasabah hilang hingga puluhan miliar rupiah. Sebagian dari uang tersebut diketahui telah dialihkan ke aset kripto oleh pelaku.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa total dana nasabah yang terdampak dalam peristiwa ini mencapai ratusan miliar rupiah. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp19 miliar berhasil dilacak mengalir ke transaksi mata uang kripto, yang diduga dilakukan untuk menyamarkan jejak keuangan pelaku.
Ribuan Rekening Nasabah Terdampak
Serangan siber tersebut diduga menyasar sistem layanan digital bank, sehingga memengaruhi ribuan rekening nasabah. Data sementara menunjukkan lebih dari 6.000 rekening ikut terdampak dalam insiden ini.
Akibat kejadian tersebut, sejumlah nasabah melaporkan adanya pengurangan saldo secara tiba-tiba. Total kerugian yang dilaporkan bahkan diperkirakan mencapai sekitar Rp143 miliar.
Pihak Bank Jambi langsung mengambil langkah darurat dengan memperketat sistem keamanan dan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem teknologi informasi mereka.
Layanan Digital Sempat Dibatasi
Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, layanan digital seperti mobile banking dan beberapa transaksi elektronik sempat dibatasi sementara. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari proses investigasi internal serta penguatan sistem keamanan.
Meski demikian, layanan perbankan secara bertahap mulai dipulihkan setelah dilakukan pengecekan terhadap sistem.
Aparat Lakukan Penyelidikan
Kasus ini kini dalam proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum. Pihak kepolisian bekerja sama dengan berbagai lembaga terkait untuk melacak aliran dana yang telah berpindah, termasuk yang masuk ke jaringan kripto.
Selain itu, otoritas perbankan juga turut memantau perkembangan kasus ini guna memastikan perlindungan terhadap nasabah serta meningkatkan keamanan sistem perbankan daerah.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman kejahatan siber di sektor keuangan semakin kompleks, terutama dengan penggunaan aset digital seperti kripto yang dapat mempersulit proses pelacakan dana.
Pihak berwenang berharap penyelidikan dapat segera mengungkap pelaku serta mengupayakan pengembalian dana yang hilang kepada para nasabah.









