Gunung Es Raksasa Antartika A23a Berubah Jadi Biru, Tanda Pencairan Meningkat

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 15 Januari 2026 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

itra satelit A23a di Antartika menampilkan kolam air lelehan berwarna biru di permukaan gunung es, fenomena yang dikenal sebagai blue mush.
(Credit Foto: NASA Earth Observatory / MODIS Terra)

itra satelit A23a di Antartika menampilkan kolam air lelehan berwarna biru di permukaan gunung es, fenomena yang dikenal sebagai blue mush. (Credit Foto: NASA Earth Observatory / MODIS Terra)

Jemarionline – Gunung es raksasa A23a di Antartika kini menunjukkan perubahan warna menjadi biru cerah, fenomena yang dikenal sebagai ‘blue mush’. Perubahan ini menandai proses pencairan dan fragmentasi yang semakin cepat setelah bongkahan es tersebut mengambang di Samudra Selatan hampir empat dekade.

A23a pertama kali terlepas dari Filchner-Ronne Ice Shelf pada 1986 dan sempat terperangkap di dasar laut selama bertahun-tahun. Setelah akhirnya bebas sekitar tahun 2020, gunung es ini mulai terapung bebas, berputar mengikuti arus laut, dan perlahan menjauh dari benua es. Selama perjalanannya, bongkahan es ini terus mengalami perubahan bentuk akibat gesekan dengan air laut, angin, dan suhu yang lebih hangat.

Fenomena Blue Mush
Foto satelit NASA Terra yang diambil pada 26 Desember 2025 menunjukkan permukaan A23a dipenuhi kolam air lelehan berwarna biru cerah. Lapisan air ini terbentuk ketika es di permukaan kehilangan struktur padatnya, sehingga air mencair menumpuk di cekungan kecil pada bongkahan es.

Baca Juga :  Peneliti Temukan Solusi Cuci Baju di Luar Angkasa Tanpa Banyak Air

“Kolom air yang terlihat menunjukkan bahwa struktur es sudah melemah secara signifikan dan proses pecahnya gunung es terus dipercepat,” kata Ted Scambos, ilmuwan iklim dari University of Colorado Boulder, dikutip dari Live Science. Fenomena ini merupakan indikator bahwa A23a sudah memasuki fase akhir kehidupannya sebagai bongkahan es raksasa.

Menurut Chris Shuman, pensiunan glasiolog yang meneliti sejarah A23a, warna biru yang masih terlihat setelah bertahun-tahun menunjukkan sejarah panjang es ini dan bagaimana ia berubah seiring waktu. Seiring pecahnya bongkahan es, fragmen-fragmen besar terlepas dari bongkahan utama, mempercepat degradasi A23a.

Dampak Perubahan Iklim
Meski pencairan gunung es terapung seperti A23a tidak langsung menaikkan permukaan laut, karena es sudah mengapung, fenomena ini tetap menjadi indikator penting perubahan iklim global. Perubahan warna dan fragmentasi bongkahan es memberikan gambaran bagaimana sistem es di Antartika merespons pemanasan global dan memengaruhi dinamika lautan sekitarnya.

Kisah A23a menyoroti interaksi kompleks antara formasi es terbesar di planet ini dengan lingkungan sekitarnya. Dari kejayaannya sebagai raksasa es yang mengambang di Samudra Selatan hingga masa akhirnya yang berwarna biru dan terfragmentasi, A23a menjadi studi kasus penting bagi ilmuwan yang memantau perubahan iklim dan sistem es Antartika.

Baca Juga :  Kota-kota Besar di Asia Terancam Banjir Akibat Kenaikan Permukaan Laut dan Curah Hujan Ekstrem

Pemantauan Masa Depan
Komunitas ilmuwan terus memantau perubahan A23a melalui citra satelit. Beberapa bulan mendatang diperkirakan akan menunjukkan pecahan-pecahan es yang semakin banyak terlepas, serta perubahan warna yang semakin intens. Observasi ini tidak hanya penting untuk memahami nasib A23a, tetapi juga sebagai indikator awal bagaimana formasi es lain di Antartika mungkin bereaksi terhadap pemanasan global.

Kisah A23a mengingatkan kita bahwa perubahan iklim bukan hanya soal suhu dan cuaca; dampaknya terlihat nyata pada sistem bumi yang luas, termasuk bongkahan es raksasa yang telah bertahan puluhan tahun. Fenomena blue mush menjadi simbol visual dari bagaimana planet kita sedang berubah di bawah tekanan pemanasan global.

Berita Terkait

Peluang Emas Beasiswa Main Video Game Senilai Rp270 Juta di USV
Interpol Tangkap 5.811 Penipu Online, Aset Rp4,7 Triliun Disita
Gempa Venezuela Perparah Krisis, Sanksi Internasional Hambat Pemulihan
Harga Minyak Melambung ke US$81, Iran Tinggalkan Negosiasi dengan AS
Jepang Sudah Habiskan Rp1.200 Triliun, Yen Tetap Terpuruk terhadap Dolar AS
Trump Dikecam Partainya Sendiri Usai Teken Kesepakatan Damai dengan Iran
Kapal Tanker Minyak Iran Akhirnya Lolos dari Blokade AS, Ekspor Kembali Berjalan
AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Tegaskan Perjuangan Israel Belum Berakhir
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:00 WIB

Peluang Emas Beasiswa Main Video Game Senilai Rp270 Juta di USV

Senin, 13 Juli 2026 - 13:00 WIB

Interpol Tangkap 5.811 Penipu Online, Aset Rp4,7 Triliun Disita

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:00 WIB

Gempa Venezuela Perparah Krisis, Sanksi Internasional Hambat Pemulihan

Selasa, 23 Juni 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Melambung ke US$81, Iran Tinggalkan Negosiasi dengan AS

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:00 WIB

Jepang Sudah Habiskan Rp1.200 Triliun, Yen Tetap Terpuruk terhadap Dolar AS

Berita Terbaru