Jemarionline – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menerima pemotongan anggaran sekitar Rp69,38 miliar atau 4,5% dari alokasi awal tahun 2026. Pemangkasan ini dilakukan di tengah lonjakan bencana alam yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, termasuk banjir dan longsor. Meski demikian, Basarnas memastikan operasi Search and Rescue (SAR) tetap berjalan.
Pemotongan Anggaran & Alasan Pemerintah
-
Anggaran Basarnas awal: Rp1,55 triliun
-
Anggaran pasca pemotongan: Rp1,48 triliun
-
Alasan: sebagian dana dialihkan ke program prioritas lain seperti bantuan sosial dan pertahanan.
Meski anggaran dipangkas, Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menegaskan kesiapan lembaga untuk menjalankan operasi SAR tetap menjadi prioritas.
Tantangan Basarnas di Tengah Bencana
-
Tahun 2025: lebih dari 2.760 operasi SAR di seluruh Indonesia.
-
Menyasar korban bencana alam, kecelakaan laut, dan transportasi darat.
-
Pemotongan anggaran di tengah lonjakan bencana menambah tantangan logistik, SDM, dan kesiapan peralatan.
“Pemangkasan anggaran bukan hal ideal di tengah banyak bencana. Namun kami akan memastikan operasi SAR tetap optimal,” ujar Kepala Basarnas.
Dampak dan Respons
-
Wilayah terdampak bencana: Jawa Barat, Sumatra, Kalimantan
-
Operasi SAR tetap dijalankan dengan sumber daya yang ada.
-
Pemerintah bersama DPR dan OJK diminta mengevaluasi langkah strategis agar Basarnas tetap efektif.
Langkah Strategis Basarnas
-
Koordinasi dengan TNI, Polri, BPBD, dan relawan lokal.
-
Prioritaskan SAR cepat dan penyelamatan warga terdampak.
-
Mengoptimalkan teknologi seperti drone, radar, dan peralatan komunikasi.









