Rupiah Diproyeksi Sentuh Rp17.400 per Dolar AS, Seberapa Kuat Fiskal Indonesia Menahan Tekanan?

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 April 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Jemarionline.com – Tekanan terhadap rupiah kembali menjadi sorotan. Sejumlah proyeksi menempatkan nilai tukar rupiah berpotensi menyentuh Rp17.400 per dolar AS apabila tekanan global berlanjut.

Proyeksi itu memunculkan pertanyaan besar.

Seberapa kuat fiskal Indonesia mampu menahan guncangan jika tekanan kurs terus meningkat?

Pertanyaan ini penting karena pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan. Kondisi tersebut juga bisa menjalar ke inflasi, subsidi energi, biaya impor, hingga APBN.

Karena itu, perhatian kini tidak hanya tertuju pada rupiah, tetapi juga pada daya tahan fiskal nasional.

Mengapa Rupiah Berpotensi Menyentuh Rp17.400?

Ada beberapa faktor yang mendorong tekanan terhadap mata uang Garuda.

Penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama.

Saat investor global mencari aset aman, arus modal sering bergerak keluar dari negara berkembang.

Akibatnya, mata uang seperti rupiah ikut tertekan.

Selain itu, ketegangan geopolitik global, harga energi yang tinggi, dan ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat ikut memperberat sentimen pasar.

Di sisi lain, pasar juga menyoroti ruang fiskal Indonesia.

Jika tekanan eksternal bertahan lama, beban ekonomi domestik bisa ikut meningkat.

Karena itu, proyeksi Rp17.400 mulai banyak diperbincangkan.

Dampak Jika Rupiah Menyentuh Rp17.400

Pelemahan kurs bukan hanya soal angka.

Ada dampak riil yang bisa terasa.

1. Biaya Impor Naik

Saat rupiah melemah, biaya impor bahan baku dan barang modal ikut naik.

Akibatnya, industri yang bergantung pada impor menghadapi tekanan biaya produksi.

2. Risiko Inflasi Meningkat

Harga barang impor yang naik bisa mendorong inflasi.

Selain itu, harga energi juga bisa terdampak.

Karena itu, pelemahan kurs sering berkaitan erat dengan tekanan harga.

3. Subsidi Fiskal Bisa Tertekan

Ini yang paling disorot.

Jika harga energi global naik bersamaan dengan rupiah melemah, beban subsidi dapat membesar.

Tekanan seperti itu bisa menguji ketahanan fiskal pemerintah.

Baca Juga :  Inflasi April 2026 Diprediksi Melandai Usai Lebaran, Namun Risiko Harga Energi Masih Mengintai

4. Dunia Usaha Hadapi Risiko Tambahan

Perusahaan dengan utang dolar atau ketergantungan impor bisa menghadapi tekanan baru.

Margin bisa menyusut.

Biaya operasional juga berpotensi meningkat.

Seberapa Kuat Fiskal Indonesia Menahan Tekanan?

Inilah inti pembahasannya.

Meski tekanan ada, Indonesia masih memiliki beberapa bantalan fiskal.

Pertama, pemerintah masih menjaga disiplin anggaran.

Defisit fiskal baseline 2026 masih diproyeksikan dekat batas 3 persen, meski pasar terus mengawasi risikonya.

Kedua, pemerintah punya instrumen pengelolaan fiskal yang lebih matang dibanding masa lalu.

Mulai dari pengelolaan utang, reformasi penerimaan, sampai strategi subsidi yang lebih adaptif.

Ketiga, Bank Indonesia dan pemerintah masih punya koordinasi kebijakan.

Faktor itu penting untuk menjaga kepercayaan pasar.

Karena itu, banyak analis menilai fiskal Indonesia masih punya daya tahan, meski tekanan meningkat.

Namun Tantangannya Tidak Ringan

Meski punya bantalan, tantangannya tetap besar.

Jika rupiah melemah terlalu dalam, tekanan fiskal bisa membesar.

Terutama jika:

  • Harga minyak terus naik
  • Subsidi energi membengkak
  • Arus modal keluar meningkat
  • Yield obligasi naik
  • Penerimaan negara melambat

Jika beberapa faktor itu terjadi bersamaan, ruang fiskal bisa menyempit.

Karena itu, pasar terus mencermati respons pemerintah.

Peran Bank Indonesia Jadi Krusial

Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia memegang peran penting.

Intervensi pasar valas, stabilisasi rupiah, dan kebijakan suku bunga menjadi instrumen utama.

Bahkan survei Reuters menunjukkan banyak ekonom memperkirakan BI menahan suku bunga demi menjaga stabilitas rupiah.

Langkah itu penting untuk menahan volatilitas.

Selain itu, stabilitas moneter ikut menopang persepsi terhadap fiskal.

Karena pasar biasanya menilai keduanya secara bersamaan.

Apakah Indonesia Pernah Menghadapi Situasi Serupa?

Ya.

Indonesia pernah menghadapi tekanan kurs dalam beberapa periode.

Namun saat ini fondasi ekonomi dinilai berbeda.

Cadangan devisa, koordinasi kebijakan, dan tata kelola fiskal dinilai lebih baik dibanding masa krisis sebelumnya.

Baca Juga :  DJP Blokir 36 Rekening Wajib Pajak di 14 Bank, Tunggakan Capai Rp17 Miliar

Itu menjadi alasan banyak pihak tidak langsung melihat proyeksi Rp17.400 sebagai skenario krisis.

Sebaliknya, pasar melihatnya sebagai sinyal kewaspadaan.

Apa Dampaknya ke Masyarakat?

Pertanyaan ini penting.

Karena pelemahan rupiah tidak hanya memengaruhi pasar.

Dalam jangka tertentu, dampaknya bisa terasa pada:

  • Harga barang impor
  • Biaya elektronik dan gadget
  • Harga bahan baku industri
  • Potensi tekanan harga kebutuhan tertentu

Namun dampaknya sangat tergantung durasi pelemahan.

Jika hanya sementara, efeknya bisa terbatas.

Jika berkepanjangan, dampaknya bisa lebih luas.

Apa yang Bisa Menahan Rupiah?

Meski tekanan besar, ada faktor yang bisa menjadi penahan.

Di antaranya:

  • Intervensi Bank Indonesia
  • Stabilitas fiskal pemerintah
  • Arus investasi masuk
  • Harga komoditas ekspor yang kuat
  • Kepercayaan pasar terhadap kebijakan

Jika faktor-faktor itu terjaga, tekanan rupiah bisa mereda.

Karena itu, proyeksi Rp17.400 belum tentu menjadi skenario permanen.

Investor Kini Soroti Kredibilitas Fiskal

Selain kurs, pasar juga melihat respons kebijakan.

Investor biasanya tidak hanya fokus pada angka rupiah.

Mereka juga menilai apakah pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal.

Karena itu, kredibilitas kebijakan menjadi sangat penting.

Fitch bahkan menegaskan deviasi sementara belum otomatis memicu penurunan rating, selama arah konsolidasi fiskal tetap jelas.

Pesan ini memberi sinyal bahwa pasar masih melihat ruang kepercayaan.

Kesimpulan

Proyeksi rupiah menyentuh Rp17.400 per dolar AS memicu kekhawatiran, tetapi belum otomatis berarti krisis.

Tekanan memang nyata.

Namun Indonesia masih memiliki bantalan fiskal, koordinasi kebijakan, dan instrumen stabilisasi.

Meski begitu, tantangan tetap besar.

Karena itu, kekuatan fiskal Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga disiplin anggaran, stabilitas pasar, dan respons kebijakan yang cepat.

Jika semua berjalan terjaga, tekanan kurs bisa tetap terkendali.

Dan di situlah ketahanan fiskal Indonesia benar-benar diuji.

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS Usai BI Tahan Bunga Acuan
Harga Emas Antam Pegadaian 22 Oktober 2026 Turun Tipis
Simulasi Angsuran KUR BRI 2026 Pinjaman Rp 60 Juta
Harga Emas Antam Hari Ini 22 Oktober 2026 Turun Tipis
Daftar Lengkap Harga BBM Terkini di Seluruh SPBU Oktober 2026
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.046 per Dolar AS Tertekan Arus Modal Asing
Lonjakan Utang Global Kian Mengkhawatirkan, IMF Beri Peringatan Keras
FamilyMart Resmi Rilis Koleksi Merchandise Eksklusif Jujutsu Kaisen
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dollar AS Usai BI Tahan Bunga Acuan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Harga Emas Antam Pegadaian 22 Oktober 2026 Turun Tipis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:14 WIB

Simulasi Angsuran KUR BRI 2026 Pinjaman Rp 60 Juta

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 22 Oktober 2026 Turun Tipis

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:40 WIB

Daftar Lengkap Harga BBM Terkini di Seluruh SPBU Oktober 2026

Berita Terbaru

Desain tipis iPad mini 8 berlayar OLED tergeletak elegan di atas meja kerja kayu dengan stylus terpasang rapi di samping.(ilustrasi poto: AI).

Trending

Apple Rilis iPad Mini 8: Layar OLED dan Chip A20 Pro

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:47 WIB

Logo Apple berbahan logam perak dengan tekstur melingkar yang elegan, terpasang pada dinding beton gelap.(poto: AI).

Teknologi

Bocoran Acara Apple: MacBook Pro Layar Sentuh dan Chip M6

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:41 WIB

Aktivitas pelayanan nasabah di kantor BNI yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih Rp16,1 triliun pada kuartal III 2026.(ilustrasi poto: AI).

Bisnis

Laba Bersih BNI Tembus Rp16,1 Triliun pada Kuartal III 2026

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:36 WIB

Ponsel yang sedang diisi daya dengan powerbank di atas meja kerja, dikelilingi kabel charger dan laptop.(poto: AI).

Teknologi

5 Kebiasaan Pengisian Daya Ini Merusak Baterai HP Lebih Cepat

Senin, 26 Okt 2026 - 07:14 WIB

Pusat operasi siber bank memantau peringatan akses tidak sah dari agen AI pihak ketiga ke sistem rekening nasabah.(ilustrasi poto: AI).

Teknologi

Agen AI Masuk Rekening, Bank di AS Perketat Keamanan Data

Senin, 26 Okt 2026 - 07:03 WIB