Jemarionline – Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Ia berada di antara dua bulan agung, Rajab dan Ramadhan, sehingga sering kali terlewatkan oleh banyak orang. Padahal, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus terhadap bulan ini, baik melalui ibadah puasa maupun penjelasan tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya.
Hal ini ditegaskan dalam berbagai hadis sahih dan penjelasan ulama klasik dalam kitab-kitab fiqh dan hadis.
-
Bulan yang Sering Dilalaikan Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, yaitu antara Rajab dan Ramadhan.”
(HR. An-Nasa’i no. 2357)
Penjelasan Ulama Klasik
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan:
“Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan karena berada di antara dua musim ibadah besar.”
(Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 130)
Maknanya, ibadah yang dilakukan pada waktu yang dilalaikan manusia memiliki nilai lebih besar di sisi Allah SWT.
-
Bulan Diangkatnya Amal kepada Allah
Dalam hadis yang sama, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bulan ini adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku suka amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.”
(HR. An-Nasa’i)
Keterangan Kitab Klasik
Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa pengangkatan amal tahunan terjadi di bulan Sya’ban, sedangkan pengangkatan harian dan mingguan terjadi pada waktu lain.
(Faydh al-Qadīr, Juz 4)
Hikmahnya adalah dianjurkan memperbanyak amal saleh agar catatan amal tahunan ditutup dalam keadaan terbaik.
-
Rasulullah ﷺ Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Penjelasan Ulama
Imam An-Nawawi menyatakan bahwa hadis ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah di bulan Sya’ban.
(Syarh Shahih Muslim, Juz 8)
Puasa di bulan Sya’ban dihukumi sunnah muakkadah.
-
Malam Nisfu Sya’ban: Malam Penuh Ampunan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah melihat makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah no. 1390)
Pandangan Ulama Klasik
Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban terdapat banyak atsar dan hadis.
(Majmū‘ al-Fatāwā, Juz 23)
Imam As-Suyuthi juga membahas keutamaannya dalam kitab Husnul Bayan fi Lailati Nishfi Sya‘ban.
Perlu dicatat bahwa meskipun keutamaan malam Nisfu Sya’ban diakui banyak ulama, tidak ada ibadah khusus berjamaah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
-
Bulan Persiapan Menuju Ramadhan
Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa bulan Sya’ban ibarat latihan sebelum memasuki Ramadhan.
(Lathā’if al-Ma‘ārif)
Amalan yang dianjurkan antara lain puasa sunnah, memperbanyak istighfar, memperbaiki niat, dan mempersiapkan diri secara ruhani untuk Ramadhan.
-
Waktu Terakhir Mengqadha Puasa Ramadhan
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Aku memiliki utang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari no. 1950)
Penjelasan Fiqh
Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa menunda qadha puasa hingga masuk Ramadhan tanpa uzur termasuk perbuatan makruh.
(Al-Mughnī, Juz 3)
Kesimpulan
Bulan Sya’ban memiliki banyak keistimewaan, di antaranya sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, bulan diangkatnya amal tahunan, bulan yang paling banyak digunakan Rasulullah ﷺ untuk berpuasa sunnah, serta mengandung malam Nisfu Sya’ban yang penuh ampunan. Selain itu, Sya’ban juga menjadi masa persiapan ruhani dan waktu ideal untuk menyelesaikan qadha puasa Ramadhan.
Ulama klasik sepakat bahwa Sya’ban bukan sekadar bulan pengantar Ramadhan, melainkan bulan ibadah yang memiliki nilai tinggi di sisi Allah SWT.
Referensi Kitab Klasik :
-Lathā’if al-Ma‘ārif – Ibnu Rajab Al-Hanbali
-Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
-Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi
-Majmū‘ al-Fatāwā – Ibnu Taimiyah
-Faydh al-Qadīr – Al-Munawi
-Al-Mughnī – Ibnu Qudamah
-Husnul Bayan fi Lailati Nishfi Sya‘ban – As-Suyuthi









