Jemarionline – Harga emas melanjutkan kenaikan tajam dan berhasil mencapai All-Time High (ATH) atau rekor tertinggi baru sebesar US$4.600 per ons, Senin (12/01). Sementara itu, Bitcoin masih stagnan di kisaran US$90.000, belum menunjukkan pergerakan signifikan sejak November 2025.
Kenaikan emas ini dipicu oleh krisis kepercayaan pasar terhadap independensi The Federal Reserve (The Fed). Investor bereaksi cepat setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ) membuka investigasi terhadap Ketua Fed, Jerome Powell, terkait dugaan penyalahgunaan dana renovasi gedung pusat.
Powell menyebut langkah tersebut sebagai tekanan politik terkait perbedaan kebijakan suku bunga dengan pemerintahan sebelumnya. Situasi ini mendorong investor beralih ke emas sebagai aset aman (safe haven), meningkatkan permintaan logam mulia secara signifikan.
Analisis Teknis Emas
Menurut para analis, emas kini memasuki fase price discovery setelah menembus level tertinggi sebelumnya. Penutupan harga di atas rekor saat ini dianggap sebagai konfirmasi kuat untuk melanjutkan tren bullish, dengan target psikologis berikutnya di US$5.000 per ons, yang juga bertepatan dengan level ekstensi Fibonacci 100%.
Meski demikian, emas memiliki level dukungan (support) yang solid di kisaran US$4.360 dan 50-day moving average (50 EMA) di US$4.255, yang dapat menahan koreksi harga jika volatilitas pasar meningkat.
Bitcoin Masih Diam
Di sisi lain, pasar cryptocurrency menunjukkan stabilitas sementara. Bitcoin stagnan di US$90.000, menunjukkan bahwa sentimen pasar masih condong pada aset tradisional sebagai safe haven. Para analis menilai volatilitas Bitcoin kemungkinan akan tetap tinggi, tetapi investor masih menunggu katalis yang dapat memicu pergerakan signifikan.









