JAKARTA, Jemarionline.com – Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan. Aset kripto terbesar di dunia itu turun mendekati level 70.000 dollar AS setelah pasar merespons kombinasi sentimen negatif dari aksi jual yang dilakukan Strategy serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan Bitcoin yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Selain Bitcoin, sebagian besar aset kripto utama juga bergerak di zona merah karena investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Pada perdagangan terbaru, Bitcoin sempat menyentuh area sekitar 70.000 dollar AS dan bahkan turun di bawah level tersebut dalam beberapa sesi. Kondisi ini menandai salah satu posisi terendah Bitcoin dalam beberapa minggu terakhir.
Aksi Jual Strategy Picu Kekhawatiran Pasar
Salah satu faktor yang membebani pergerakan Bitcoin berasal dari perusahaan Strategy, yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy.
Perusahaan tersebut menjual 32 Bitcoin senilai sekitar 2,5 juta dollar AS. Penjualan ini menjadi aksi pelepasan Bitcoin pertama yang dilakukan perusahaan sejak 2022. Meskipun jumlahnya relatif kecil dibanding total kepemilikan Strategy, pasar tetap memberikan respons negatif.
Investor menilai langkah tersebut sebagai sinyal bahwa tekanan di pasar kripto masih cukup besar. Karena itu, sentimen pelaku pasar berubah menjadi lebih berhati-hati.
Namun demikian, pendiri Strategy, Michael Saylor, tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Bahkan, perusahaan tersebut mengindikasikan kemungkinan melakukan pembelian kembali dalam jumlah yang lebih besar pada masa mendatang.
Ketidakpastian Iran Tekan Aset Berisiko
Selain faktor internal pasar kripto, perkembangan geopolitik juga ikut memengaruhi pergerakan harga Bitcoin.
Ketidakpastian terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran investor global. Laporan terbaru menyebutkan negosiasi antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan yang jelas. Bahkan, sejumlah perkembangan politik dan militer membuat pasar semakin waspada terhadap potensi eskalasi konflik.
Dalam situasi seperti itu, investor biasanya mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan obligasi pemerintah.
Akibatnya, minat terhadap aset berisiko termasuk saham teknologi dan mata uang kripto ikut menurun. Kondisi tersebut memberi tekanan tambahan terhadap harga Bitcoin dan aset digital lainnya.
Arus Keluar ETF Bitcoin Perburuk Sentimen
Tekanan terhadap Bitcoin juga datang dari arus keluar dana pada produk ETF Bitcoin spot.
Data pasar menunjukkan investor institusi telah menarik dana dalam jumlah besar dari ETF Bitcoin selama beberapa minggu terakhir. Nilai arus keluar bahkan mencapai lebih dari 3 miliar dollar AS dalam periode tiga minggu.
Selain itu, ETF Bitcoin di Amerika Serikat juga mencatat gelombang penjualan yang cukup besar. Kondisi tersebut menunjukkan sebagian investor institusi memilih mengurangi risiko di tengah ketidakpastian global.
Karena itu, tekanan jual tidak hanya berasal dari investor ritel, tetapi juga dari pelaku pasar institusional yang memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga.
Altcoin Ikut Mengalami Pelemahan
Penurunan Bitcoin turut menyeret berbagai aset kripto lainnya.
Ethereum sebagai aset kripto terbesar kedua juga mencatat pelemahan. Sementara itu, XRP, Solana, Cardano, BNB, hingga Dogecoin bergerak melemah mengikuti arah pasar yang cenderung negatif.
Di sisi lain, sebagian investor memilih menunggu perkembangan terbaru terkait kondisi geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global sebelum kembali masuk ke pasar kripto.
Sikap tersebut membuat volume transaksi cenderung lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
Likuidasi Besar Percepat Penurunan Harga
Selain sentimen fundamental, pasar kripto juga menghadapi gelombang likuidasi yang cukup besar.
Data terbaru menunjukkan likuidasi di pasar kripto mencapai ratusan juta dollar AS dalam waktu 24 jam. Kondisi tersebut mempercepat penurunan harga karena sistem secara otomatis menutup posisi trader yang menggunakan leverage tinggi.
Ketika harga bergerak turun dengan cepat, likuidasi biasanya menciptakan tekanan jual tambahan. Akibatnya, harga aset dapat jatuh lebih dalam dalam waktu singkat.
Fenomena ini sering muncul saat pasar berada dalam kondisi penuh ketidakpastian seperti yang terjadi saat ini.
Investor Masih Menunggu Kepastian
Saat ini, pelaku pasar terus memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, investor juga menunggu arah baru arus dana institusional ke ETF Bitcoin.
Jika ketegangan geopolitik mereda dan arus keluar ETF mulai berkurang, Bitcoin berpeluang menemukan kembali momentum positifnya.
Sebaliknya, jika konflik semakin memanas dan investor terus menarik dana dari pasar kripto, tekanan terhadap Bitcoin dapat berlanjut dalam jangka pendek.









