Jakarta, Jemarionline.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa Indonesia berhasil menurunkan impor bensin menjadi sekitar 20 juta kiloliter (KL) per tahun. Menurutnya, pencapaian tersebut terjadi setelah pemerintah meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar di dalam negeri melalui pengembangan kilang minyak.
Bahlil mengatakan kebijakan tersebut justru memicu keberatan dari sejumlah importir BBM. Ia menegaskan pemerintah akan terus mengurangi ketergantungan terhadap impor demi memperkuat ketahanan energi nasional dan menghemat devisa negara.
Produksi Dalam Negeri Terus Meningkat
Bahlil menjelaskan konsumsi bensin nasional saat ini mencapai sekitar 40 juta KL setiap tahun. Sementara itu, kilang dalam negeri kini mampu memproduksi sekitar 20 juta KL bensin.
Peningkatan kapasitas tersebut terjadi setelah pemerintah mengembangkan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek itu membantu Indonesia meningkatkan produksi BBM sehingga kebutuhan impor semakin berkurang.
Bahlil Targetkan Impor Terus Menurun
Bahlil menegaskan pemerintah tidak ingin bergantung pada impor bensin dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah akan terus meningkatkan produksi dalam negeri sekaligus mengembangkan energi alternatif.
Menurutnya, Indonesia dapat mengurangi impor lebih jauh apabila pemerintah berhasil memperluas penggunaan bahan bakar berbasis nabati, seperti bioetanol. Ia menilai keberhasilan program biodiesel B50 dapat menjadi contoh untuk pengembangan campuran etanol pada bensin.
Program E20 Jadi Langkah Berikutnya
Pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol E20 mulai tahun 2028. Melalui program tersebut, pemerintah berharap konsumsi bensin impor dapat berkurang sekitar 4 juta KL setiap tahun.
Bahlil menyebut sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Brasil, telah lebih dahulu memanfaatkan campuran etanol sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar. Karena itu, Indonesia juga ingin menerapkan langkah serupa sesuai kondisi dalam negeri.
Hemat Devisa dan Perkuat Rupiah
Selain mengurangi impor, pemerintah juga ingin menekan pengeluaran devisa untuk membeli BBM dari luar negeri. Saat ini Indonesia mengeluarkan sekitar US$30 miliar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor bahan bakar.
Bahlil menilai pengurangan impor akan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bahkan, pemerintah juga mulai mempertimbangkan penggunaan mata uang selain dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan energi dengan negara lain.
Importir Dinilai Kehilangan Peluang Bisnis
Menurut Bahlil, sejumlah importir menyampaikan keberatan karena volume impor bensin terus menurun. Meski demikian, pemerintah tetap memprioritaskan kepentingan nasional dengan memperkuat industri pengolahan minyak di dalam negeri.
Ia menegaskan seluruh kebijakan energi harus mendukung kemandirian energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri, serta meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.









