Tiga Tahun Tanpa Dana Desa, Desa di Kerinci Terancam Dilebur

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Jambihariini.com

Foto: Jambihariini.com

Kerinci, Jemarionline.com – Dana desa Kerinci tidak cair selama tiga tahun berturut-turut membuat kondisi Desa Semerah, Kecamatan Tanah Cogok, berada di ujung ketidakpastian. Hingga 2026, desa tersebut belum menerima kucuran anggaran dari pemerintah pusat akibat persoalan administrasi yang belum terselesaikan.

Situasi ini tidak hanya menghambat pembangunan, tetapi juga memicu kekhawatiran masyarakat terhadap masa depan desa. Jika kondisi terus berlanjut, pemerintah daerah berpotensi mengambil langkah ekstrem berupa peleburan desa.

Tiga Tahun Tanpa Dana Desa

Data yang dihimpun menunjukkan Desa Semerah tidak menerima dana desa sejak 2023 hingga 2026. Kondisi ini terjadi karena pemerintah desa belum menyelesaikan dokumen penting, terutama Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

Tanpa dokumen tersebut, pemerintah pusat tidak dapat mencairkan dana desa. Akibatnya, seluruh program pembangunan dan pelayanan masyarakat ikut terhambat.

Pemerintah Kabupaten Kerinci sebenarnya sudah berupaya memfasilitasi penyelesaian masalah ini. Namun hingga kini, proses tersebut belum menghasilkan solusi konkret.

Ancaman Peleburan Desa

Kondisi yang berlarut-larut membuat status Desa Semerah terancam. Regulasi menyebutkan bahwa desa yang tidak mampu mengelola pemerintahan dan keuangan secara mandiri dapat kehilangan statusnya.

Baca Juga :  Wakil Bupati Kerinci Hadiri Pelantikan Kordes Tani Merdeka di Kayu Aro dan Gunung Tujuh

Jika dalam waktu dekat tidak ada perbaikan, pemerintah daerah bisa menggabungkan desa tersebut dengan wilayah lain.

Langkah ini menjadi opsi terakhir untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

Akar Masalah Administrasi

Permasalahan utama yang menghambat pencairan dana desa terletak pada aspek administrasi. Penyusunan APBDes yang belum selesai menjadi kendala utama.

Selain itu, sejumlah laporan menyebut adanya persoalan internal di tingkat desa yang ikut memperlambat proses. Kondisi ini membuat mekanisme pencairan dana tidak dapat berjalan sesuai ketentuan.

Tanpa perbaikan administrasi, dana desa tidak akan bisa dicairkan, meskipun kebutuhan masyarakat semakin mendesak.

Dampak Langsung ke Masyarakat

Tidak cairnya dana desa berdampak langsung pada kehidupan warga. Pembangunan infrastruktur desa praktis terhenti karena tidak ada anggaran yang tersedia.

Selain itu, program pemberdayaan masyarakat juga tidak berjalan. Warga kehilangan berbagai bantuan yang sebelumnya menjadi penopang ekonomi desa.

Baca Juga :  Kopi Kerinci Tembus Pasar Tiongkok, Pemprov Ingin Ekspor Langsung dari Jambi

Pelayanan publik pun ikut terganggu. Aktivitas pemerintahan desa tidak berjalan maksimal akibat keterbatasan anggaran.

Upaya Penyelesaian Terus Berjalan

Pemerintah daerah terus mendorong penyelesaian masalah ini. Mereka berupaya memfasilitasi penyusunan APBDes agar dana desa bisa kembali dicairkan.

Namun, upaya tersebut membutuhkan kerja sama dari seluruh pihak di tingkat desa. Tanpa komitmen bersama, proses penyelesaian akan terus terhambat.

Selain itu, pemerintah juga harus memastikan bahwa setiap persyaratan administrasi terpenuhi sesuai aturan.

Harapan Warga dan Masa Depan Desa

Warga berharap pemerintah segera menemukan solusi agar dana desa bisa kembali mengalir. Mereka ingin pembangunan desa kembali berjalan seperti sebelumnya.

Selain itu, masyarakat juga ingin mempertahankan status desa agar tidak dilebur. Identitas dan sejarah desa menjadi hal penting bagi warga.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan administrasi desa memiliki peran krusial dalam menjaga keberlangsungan pemerintahan desa.

Berita Terkait

Daftar Lengkap Puluhan Kepala Sekolah yang Resmi Dilantik Pemkot Sungai Penuh
Bimtek BPD Sungai Penuh di Jambi Tuai Kritik Keras DPRD Soal Fasilitas Hotel
Pungli Parkir Merajalela di Sungai Penuh, Warga Desak Pemkot Terapkan Bayar Nontunai
Kemenag Kerinci Gelar Persiapan Duta OMI Tingkat Provinsi
Cek Endra Serahkan SK Golkar Sungai Penuh Kepada Hutri Randa
Kanwil Kemenkum Jambi Mendorong Pelindungan Kekayaan Intelektual Kopi Kerinci Menuju Pasar Global
Festival Kopi Kerinci 2026 Dibuka Bupati Monadi Suguhkan Kopi Gratis
KONI Jambi Beri Penghargaan Atlet Berprestasi di Peringatan Hari Olahraga Nasional 2026
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 21:15 WIB

Bimtek BPD Sungai Penuh di Jambi Tuai Kritik Keras DPRD Soal Fasilitas Hotel

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:36 WIB

Pungli Parkir Merajalela di Sungai Penuh, Warga Desak Pemkot Terapkan Bayar Nontunai

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Kemenag Kerinci Gelar Persiapan Duta OMI Tingkat Provinsi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:56 WIB

Cek Endra Serahkan SK Golkar Sungai Penuh Kepada Hutri Randa

Minggu, 20 September 2026 - 20:24 WIB

Kanwil Kemenkum Jambi Mendorong Pelindungan Kekayaan Intelektual Kopi Kerinci Menuju Pasar Global

Berita Terbaru

Deretan Huawei Nova 16s Series dengan kamera 200 MP resmi hadir di Indonesia mengusung baterai 7.000 mAh.(poto: AI).

Teknologi

Huawei Nova 16s Series Rilis di RI Bawa Kamera 200 MP

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:07 WIB

Ilustarsi Seorang warga sedang bertransaksi membeli emas Antam di outlet Pegadaian, Kamis (22/10/2026).(poto: AI).

Ekonomi

Harga Emas Antam Pegadaian 22 Oktober 2026 Turun Tipis

Kamis, 22 Okt 2026 - 13:20 WIB

Petugas Mantri BRI menjelaskan tabel simulasi angsuran KUR kepada pelaku usaha mikro di warung kelontong.(ilustrasi poto: AI).

Ekonomi

Simulasi Angsuran KUR BRI 2026 Pinjaman Rp 60 Juta

Kamis, 22 Okt 2026 - 13:14 WIB

Emas batangan Antam kemasan CertiCard pecahan 1 gram bersanding dengan kalkulator di atas meja kayu.(poto: AI).

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini 22 Oktober 2026 Turun Tipis

Kamis, 22 Okt 2026 - 13:09 WIB