Jemarionline.com, Rencana kunjungan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) ke Solo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sempat diwarnai dugaan intervensi. Salah satu anggota rombongan, Arif Ikhsan, mengaku menerima tawaran uang dalam jumlah besar agar agenda tersebut dibatalkan.
Arif menyebut, dirinya dihubungi oleh seseorang tak dikenal melalui sambungan telepon pada malam hari, sekitar 12 April 2025. Dalam percakapan itu, ia ditawari uang sebesar Rp300 juta hingga Rp350 juta dengan syarat rombongan TPUA tidak melanjutkan perjalanan ke Solo, termasuk kunjungan ke UGM dan kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Meski tawaran tersebut cukup besar, Arif menegaskan bahwa dirinya menolak. Ia menyatakan tidak mengetahui identitas pihak yang menghubunginya dan memilih untuk tetap menjalankan agenda yang telah direncanakan sebelumnya.
“Kami tidak tergoda dengan tawaran itu dan tetap berangkat sesuai rencana,” ujarnya.
Kunjungan TPUA ke Solo dan UGM sendiri berkaitan dengan isu yang tengah menjadi perhatian publik, yakni dugaan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo. Agenda tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mereka mencari klarifikasi langsung terhadap pihak terkait.
Pada akhirnya, rombongan TPUA tetap mendatangi Universitas Gadjah Mada pada pertengahan April 2025. Selain itu, kunjungan ke kediaman Jokowi di Solo juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan mereka.
Namun demikian, hingga kini belum ada kejelasan mengenai siapa pihak yang diduga menawarkan uang tersebut. Informasi yang beredar masih sebatas pengakuan dari pihak TPUA dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak lain.
Kasus ini pun menambah panjang polemik yang berkembang di tengah masyarakat terkait isu yang diangkat oleh TPUA, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai adanya dugaan upaya untuk mempengaruhi jalannya aksi tersebut.









