Jemarionline.com, Pemerintah Prancis menggelontorkan dana darurat sebesar 70 juta euro atau sekitar Rp1,22 triliun. Langkah ini diambil untuk meredam dampak krisis energi yang melanda kawasan Eropa.
Krisis energi terjadi akibat lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global.
Pemerintah memprioritaskan tiga sektor utama. Ketiganya adalah transportasi, pertanian, dan perikanan. Sektor-sektor ini dinilai paling terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar.
Untuk sektor transportasi darat, pemerintah menyiapkan dana sekitar 50 juta euro. Bantuan diberikan dalam bentuk subsidi bahan bakar. Perusahaan kecil dan menengah akan menerima potongan harga sebesar 0,20 euro per liter.
Sementara itu, sektor pertanian mendapat keringanan pajak bahan bakar. Kebijakan ini berlaku selama satu bulan untuk membantu petani menekan biaya produksi.
Di sektor perikanan, pemerintah mengalokasikan sekitar 5 juta euro. Bantuan ini digunakan untuk menutup biaya operasional yang meningkat. Saat ini, biaya bahan bakar bisa mencapai 35 persen dari total pengeluaran nelayan.
Selain bantuan langsung, pemerintah juga menawarkan dukungan tambahan. Pelaku usaha dapat menunda pembayaran pajak dan iuran sosial tanpa denda. Ada juga akses pinjaman hingga 50.000 euro melalui program khusus.
Kebijakan ini berlaku sepanjang April 2026. Pemerintah masih memantau perkembangan situasi global yang belum stabil.
Salah satu penyebab utama krisis ini adalah terganggunya jalur distribusi energi dunia, termasuk di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute penting pengiriman minyak global.









