Jemarionline, Bogota – Sebuah pesawat bermesin ganda milik maskapai negara Kolombia, Satena, mengalami kecelakaan fatal di kawasan pegunungan timur Kolombia, dekat perbatasan Venezuela. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 15 orang dipastikan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Pesawat jenis Beechcraft 1900 itu lepas landas dari Cúcuta, kota perbatasan Kolombia, menuju Ocaña pada Rabu (28/1/2026) siang waktu setempat. Namun, pesawat dilaporkan kehilangan kontak dengan pengatur lalu lintas udara beberapa saat sebelum jadwal pendaratan.
Menurut otoritas penerbangan di Bogota, pesawat tersebut hanya dijadwalkan menempuh penerbangan singkat sekitar 23 menit. Di dalamnya terdapat 13 penumpang dan dua awak. Hingga kini, tidak ditemukan tanda-tanda adanya korban selamat.
Seluruh penumpang dan awak pesawat meninggal dunia, ujar seorang pejabat otoritas penerbangan kepada kantor berita AFP.
Pemerintah Kolombia segera mengerahkan Angkatan Udara untuk melakukan pencarian dan evakuasi. Namun, operasi tersebut menghadapi tantangan besar karena lokasi jatuhnya pesawat berada di wilayah Pegunungan Andes bagian timur yang dikenal terjal, tertutup hutan lebat, serta memiliki kondisi cuaca yang cepat berubah.
Gubernur Norte de Santander, William Villamizar, menyampaikan bahwa hingga kini tujuh jenazah telah berhasil ditemukan, sementara proses pencarian korban lainnya masih terus berlangsung.
Wilayah sekitar lokasi kejadian juga diketahui sebagai daerah yang sebagian dikuasai oleh kelompok gerilyawan Tentara Pembebasan Nasional atau ELN, sehingga menambah kompleksitas operasi di lapangan.
Tragedi ini turut menewaskan sejumlah tokoh politik. Di antara korban terdapat Diógenes Quintero (36), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kolombia, serta Carlos Salcedo, seorang calon anggota parlemen yang dijadwalkan maju dalam pemilihan mendatang.
Pihak berwenang menyatakan bahwa penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan. Hingga saat ini belum ada indikasi resmi apakah faktor cuaca, teknis pesawat, atau hal lain yang menjadi pemicu jatuhnya pesawat tersebut.
Kolombia dikenal memiliki banyak wilayah dengan akses darat yang terbatas, terutama di daerah pegunungan dan hutan. Kondisi ini membuat transportasi udara menjadi sarana utama mobilitas, meski risikonya tetap tinggi, khususnya di wilayah terpencil.









