Eks Direktur CIA Tanggapi Isu Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 9 Maret 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Eks Direktur CIA Tanggapi Isu Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Eks Direktur CIA Tanggapi Isu Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Isu mengenai kemungkinan Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi baru Iran mendapat sorotan dari mantan Direktur Central Intelligence Agency.

Mantan kepala badan intelijen Amerika Serikat tersebut, David Petraeus, menilai langkah tersebut berpotensi memperumit hubungan Iran dengan negara-negara Barat. Menurutnya, keputusan itu bisa memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah yang selama ini sudah dipenuhi berbagai ketegangan geopolitik.

Respons Mantan Direktur CIA

David Petraeus menyampaikan bahwa apabila Iran ingin membuka ruang dialog dengan Barat, negara itu seharusnya mempertimbangkan figur yang lebih moderat dalam kepemimpinan.

Ia mengkhawatirkan bahwa jika Mojtaba benar-benar memegang posisi tertinggi di Iran, kebijakan luar negeri Teheran bisa tetap berada pada jalur keras seperti yang selama ini terjadi.

Petraeus juga menilai pergantian kepemimpinan di Iran akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan negara tersebut dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Mojtaba Khamenei Disebut Figur Berpengaruh

Mojtaba merupakan putra dari Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade.

Baca Juga :  Sejarah Terbentuknya Selat Hormuz: Jalur Strategis yang Terbentuk dari Proses Alam

Meski tidak banyak tampil di hadapan publik, Mojtaba disebut memiliki pengaruh cukup besar di lingkaran elite politik Iran. Ia diyakini memiliki peran penting dalam berbagai keputusan strategis di dalam negeri.

Sejumlah pengamat menilai pengaruh Mojtaba di balik layar sudah terlihat selama bertahun-tahun, terutama dalam hubungan dengan kelompok politik dan militer di Iran.

Kedekatan dengan Garda Revolusi Iran

Salah satu faktor yang sering disorot adalah hubungan Mojtaba dengan Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran.

Organisasi militer elite tersebut memiliki peran besar dalam politik dan keamanan Iran. Kedekatan Mojtaba dengan kelompok tersebut membuat sebagian analis menilai bahwa kepemimpinannya dapat memperkuat posisi kelompok garis keras di dalam pemerintahan.

Hal ini juga menjadi perhatian bagi sejumlah negara Barat yang selama ini memiliki hubungan tegang dengan Teheran.

Baca Juga :  Iran Buka Akses Terbatas di Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Kapal Indonesia?

Kontroversi Dugaan Pewarisan Kekuasaan

Wacana mengenai Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran juga menimbulkan perdebatan.

Sebagian pihak menilai langkah tersebut menyerupai pola pewarisan kekuasaan dalam keluarga. Padahal, Revolusi Iran pada 1979 justru lahir untuk menolak sistem monarki yang dianggap terlalu berpusat pada kekuasaan keluarga tertentu.

Karena itu, munculnya nama Mojtaba dalam suksesi kepemimpinan memicu kritik dari sejumlah kalangan, baik di dalam Iran maupun di tingkat internasional.

Dampak bagi Politik Timur Tengah

Para analis menilai pergantian kepemimpinan di Iran akan berdampak besar terhadap dinamika politik kawasan Timur Tengah.

Arah kebijakan pemimpin baru nantinya akan memengaruhi hubungan Iran dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, serta memengaruhi stabilitas regional.

Jika kepemimpinan baru tetap mempertahankan kebijakan yang konfrontatif, ketegangan geopolitik di kawasan diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Berita Terkait

Voting DK PBB soal Selat Hormuz Ditunda Hingga Besok
Pemimpin Junta Myanmar Terpilih Jadi Presiden, Militer Kembali Kuasai Pemerintahan
Umrah Hanya untuk Warga Saudi, Jemaah Internasional Wajib Keluar
Saudi Gelar Forum Umrah dan Ziyarah 2026 dengan Layanan Canggih
Sejarah Terbentuknya Selat Hormuz: Jalur Strategis yang Terbentuk dari Proses Alam
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Investigasi PBB
Kejadian Drone di Rumah Menhan‑Menlu AS: Pentagon Siapkan Perlindungan Lebih Ketat
Harga Bensin di AS Lampaui US$4 per Galon, Warga Keluhkan Biaya Hidup
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 23:55 WIB

Voting DK PBB soal Selat Hormuz Ditunda Hingga Besok

Jumat, 3 April 2026 - 23:00 WIB

Pemimpin Junta Myanmar Terpilih Jadi Presiden, Militer Kembali Kuasai Pemerintahan

Jumat, 3 April 2026 - 10:00 WIB

Umrah Hanya untuk Warga Saudi, Jemaah Internasional Wajib Keluar

Jumat, 3 April 2026 - 01:00 WIB

Saudi Gelar Forum Umrah dan Ziyarah 2026 dengan Layanan Canggih

Kamis, 2 April 2026 - 13:00 WIB

Sejarah Terbentuknya Selat Hormuz: Jalur Strategis yang Terbentuk dari Proses Alam

Berita Terbaru

Rekor Baru Penumpang Kereta Cepat Whoosh Saat Lebaran 2026 ( dok.KCIC/KOMPAS.com )

Nasional

Rekor Baru Penumpang Kereta Cepat Whoosh Saat Lebaran 2026

Sabtu, 4 Apr 2026 - 11:00 WIB

Traktor Nusantara Buka Lowongan Management Trainee 2026

Bisnis

Traktor Nusantara Buka Lowongan Management Trainee 2026

Sabtu, 4 Apr 2026 - 10:00 WIB

KPK Periksa Bos Rokok HS Terkait Skandal Pita Cukai ( dok.metro TV/Candra )

Kriminal

KPK Periksa Bos Rokok HS Terkait Skandal Pita Cukai

Sabtu, 4 Apr 2026 - 09:00 WIB

Pejabat Muaro Jambi Dirotasi, Dua Sekretaris OPD Dilantik ( dok.JAMBIUPDATE.CO)

Daerah

Pejabat Muaro Jambi Dirotasi, Dua Sekretaris OPD Dilantik

Sabtu, 4 Apr 2026 - 08:00 WIB

Google Tuduh Korea Utara Serang Software Axios

Teknologi

Google Tuduh Korea Utara Serang Software Axios

Sabtu, 4 Apr 2026 - 07:00 WIB