Jakarta, Jemarionline.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan akhir pekan. Pelemahan tersebut membuat IHSG turun ke level 6.100-an dan memicu tekanan pada sejumlah saham perbankan besar.
Selain itu, aksi jual investor juga membuat saham-saham unggulan sektor keuangan mengalami koreksi cukup dalam.
IHSG Ditutup Melemah
Berdasarkan data perdagangan RTI, IHSG ditutup di level 6.127 atau turun sekitar 0,05 persen pada Jumat, 29 Mei 2026. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.230 sebelum akhirnya melemah hingga area terendah 6.111.
Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp49,94 triliun dengan lebih dari 46 miliar saham berpindah tangan.
Selain itu, sebanyak 409 saham tercatat melemah, sementara hanya 271 saham yang berhasil menguat.
Saham Big Bank Jadi Pemberat IHSG
Tekanan terbesar datang dari saham sektor perbankan atau big bank.
Saham BBCA turun sekitar 4,60 persen. Selain itu, BBRI melemah 3,91 persen dan BBNI turun 3,65 persen.
Di sisi lain, BMRI juga ikut terkoreksi sekitar 1,21 persen.
Karena kapitalisasi pasar bank-bank besar sangat dominan di Bursa Efek Indonesia, pelemahan saham tersebut langsung memberi tekanan besar terhadap IHSG.
Investor Khawatir Tekanan Pasar Berlanjut
Pelaku pasar mulai mencermati berbagai sentimen eksternal dan domestik yang memengaruhi pergerakan indeks.
Selain itu, ketidakpastian global, tekanan nilai tukar rupiah, dan aksi jual asing masih menjadi perhatian utama investor dalam beberapa pekan terakhir.
Akibatnya, volatilitas pasar saham Indonesia masih cukup tinggi.
Saham Perbankan Tetap Jadi Sorotan
Meski mengalami koreksi, saham sektor perbankan tetap menjadi perhatian investor karena memiliki pengaruh besar terhadap IHSG.
Selain itu, banyak investor masih memantau prospek suku bunga, pertumbuhan kredit, dan kondisi ekonomi nasional sebelum kembali melakukan akumulasi saham bank besar.
Dengan demikian, pergerakan saham sektor keuangan diperkirakan masih akan menentukan arah IHSG dalam waktu dekat.
Pasar Saham Masih Fluktuatif
Sepanjang 2026, IHSG beberapa kali mengalami tekanan tajam akibat sentimen global dan aksi jual besar di saham unggulan.
Namun di sisi lain, sejumlah analis menilai pasar masih memiliki peluang rebound jika sentimen eksternal mulai membaik.









