Manila, Jemarionline.com – Pertama, Pemerintah Filipina resmi ajukan persetujuan AS untuk tingkatkan impor minyak Rusia. Selain itu, langkah ini demi amankan pasokan energi di tengah gejolak global. Akibatnya, Manila hindari risiko krisis seperti Timur Tengah.
Ketergantungan Impor Minyak Jadi Pemicu Utama
Kedua, Filipina impor 90% kebutuhan minyak dari luar. Misalnya, ketergantungan Timur Tengah rentan gangguan konflik. Sementara itu, harga Brent fluktuatif US$75-85 per barel. Dengan demikian, Rusia jadi opsi murah US$60.
Lebih lanjut, Menteri Energi Raphael Lotilla konfirmasi negosiasi. “Kami butuh diversifikasi aman,” katanya. Filipina DOE
Strategi Diplomatik ke AS
Untuk memulai, AS sanksi Rusia pasca-Ukraina 2022. Selanjutnya, sekutu seperti Filipina wajib minta waiver. Di sisi lain, India & China sudah impor bebas Rusia.
Pertama-tama, permintaan dispensasi via Kementerian Luar Negeri. Kedua, jamin transaksi tidak dukung militer Rusia. Oleh karena itu, Washington pertimbangkan karena aliansi Indo-Pasifik.
Alternatif Sumber Energi Lain
Lebih dari itu, Filipina incar minyak Venezuela & Iran. Sementara, tingkatkan LNG Australia + Qatar. Akibatnya, cadangan strategis naik 30 hari jadi 60 hari.
Langkah pertama, tender impor baru Q1 2026. Langkah kedua, subsidi BBM domestik. Dengan begitu, inflasi energi terkendali 4-5%.
Dampak Ekonomi & Geopolitik
Secara keseluruhan, keberhasilan waiver stabilkan harga listrik Filipina. Di samping itu, perkuat posisi Manila lawan China Laut China Selatan.
Jemarionline









