China dan Jepang Kembali Bersitegang, Insiden Jet Tempur di Laut Pasifik Picu Kekhawatiran Kawasan

China dan Jepang Memanas, Jet Tempur Tiongkok Diduga Kunci Radar Pesawat Militer Jepang

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jemarionline.com – Ketegangan antara China dan Jepang kembali meningkat setelah insiden yang melibatkan jet tempur kedua negara di kawasan Laut Pasifik dekat Okinawa. Pemerintah Jepang menuding pesawat tempur milik China melakukan manuver berbahaya saat berhadapan dengan pesawat patroli Jepang di wilayah udara internasional.

Insiden itu langsung menarik perhatian dunia internasional karena terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer China di kawasan Asia Timur. Jepang menilai tindakan tersebut berpotensi memicu salah perhitungan yang dapat meningkatkan risiko konflik regional.

Media Jepang melaporkan jet tempur China mendekati pesawat patroli milik Pasukan Bela Diri Jepang saat operasi pengawasan berlangsung. Tokyo juga menyebut jet tempur China sempat mengarahkan radar tempur ke pesawat Jepang.

Dalam dunia penerbangan militer, penguncian radar sering dianggap sebagai bentuk ancaman serius karena sistem itu biasa digunakan sebelum peluncuran senjata.

Jepang Ajukan Protes Diplomatik

Pemerintah Jepang langsung menyampaikan protes diplomatik kepada Beijing setelah insiden tersebut terjadi. Tokyo meminta China mencegah tindakan serupa agar situasi keamanan kawasan tetap stabil.

Menteri Pertahanan Jepang menyebut tindakan pilot China sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan penerbangan militer di kawasan.

“Langkah seperti ini bisa memicu situasi yang tidak diinginkan,” ujar pejabat Kementerian Pertahanan Jepang seperti dikutip NHK World.

Jepang juga menilai aktivitas militer China di sekitar Okinawa meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Tokyo kini memperkuat pengawasan udara dan laut untuk memantau pergerakan armada China di Pasifik Barat.

China Bantah Tuduhan Jepang

Pemerintah China membantah tuduhan yang disampaikan Jepang. Beijing menegaskan operasi militer mereka berlangsung sesuai hukum internasional dan dilakukan di wilayah perairan internasional.

Juru bicara militer China justru menuduh pesawat Jepang melakukan pengintaian jarak dekat terhadap armada kapal induk mereka.

Baca Juga :  Iran Peringatkan AS soal Invasi Darat, Ancam Mematikan

Menurut China, aktivitas militer Jepang di dekat area latihan meningkatkan risiko insiden di udara. Beijing meminta Tokyo menghentikan pengawasan yang mereka anggap provokatif.

China juga menegaskan bahwa latihan militer tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin angkatan laut mereka di kawasan Pasifik.

Aktivitas Kapal Induk China Jadi Sorotan

Kehadiran kapal induk China di kawasan dekat Jepang menjadi perhatian serius bagi Tokyo dan negara sekutu mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing terus memperluas operasi militernya hingga ke Pasifik Barat.

Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan kapal induk Liaoning dan Shandong milik China beberapa kali menjalankan latihan penerbangan intensif di kawasan tersebut.

Jet tempur J-15 milik China terlihat melakukan banyak lepas landas dan pendaratan selama latihan berlangsung. Aktivitas itu menunjukkan peningkatan kemampuan operasi kapal induk China di wilayah laut terbuka.

Pengamat militer menilai langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Beijing untuk memperluas pengaruh militer mereka di Asia Timur dan Pasifik.

Jepang Tingkatkan Kesiagaan Militer

Situasi keamanan yang semakin tegang membuat Jepang meningkatkan kesiagaan militer, terutama di wilayah Okinawa dan Kepulauan Ryukyu.

Pasukan Bela Diri Jepang kini lebih sering mengerahkan jet tempur untuk memantau pesawat militer China yang mendekati wilayah udara mereka.

Pemerintah Jepang juga mempercepat modernisasi sistem pertahanan nasional. Tokyo mulai menambah kekuatan jet tempur generasi baru dan memperluas kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat.

Selain itu, Jepang meningkatkan kemampuan radar dan sistem pengawasan laut untuk menghadapi aktivitas militer China yang terus bertambah.

Taiwan dan Sengketa Wilayah Perkeruh Situasi

Hubungan China dan Jepang memang sering memanas akibat sengketa wilayah dan isu geopolitik di Asia Timur.

Baca Juga :  Saudi Gelar Forum Umrah dan Ziyarah 2026 dengan Layanan Canggih

Salah satu sumber ketegangan terbesar berasal dari sengketa Kepulauan Senkaku di Laut China Timur. China dan Jepang sama-sama mengklaim wilayah tersebut.

Selain sengketa wilayah, isu Taiwan ikut memperburuk hubungan kedua negara. Jepang beberapa kali menyatakan stabilitas Taiwan sangat penting bagi keamanan kawasan.

Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Beijing karena China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah mereka.

Amerika Serikat Ikut Pantau Situasi

Amerika Serikat sebagai sekutu utama Jepang terus memantau perkembangan situasi di kawasan Indo-Pasifik. Washington berulang kali menegaskan dukungan mereka terhadap keamanan Jepang.

Selain Amerika Serikat, beberapa negara seperti Australia dan Filipina juga menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya aktivitas militer China di kawasan.

Negara-negara tersebut menilai manuver berbahaya di udara dan laut dapat meningkatkan risiko bentrokan yang tidak disengaja.

Risiko Konflik di Asia Timur Meningkat

Pengamat hubungan internasional menilai insiden seperti penguncian radar sangat berbahaya karena dapat memicu salah persepsi antar militer.

Dalam kondisi tegang, pilot atau operator militer bisa mengambil keputusan cepat yang memicu bentrokan langsung.

Meski begitu, Jepang dan China masih menjaga komunikasi diplomatik untuk mencegah situasi berkembang menjadi konflik terbuka.

Pakar keamanan internasional menyebut komunikasi langsung antar militer menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko salah perhitungan di kawasan Indo-Pasifik.

Ketegangan antara China dan Jepang diperkirakan masih akan terus berlangsung seiring meningkatnya aktivitas militer Beijing di Pasifik dan respons negara-negara tetangga yang memperkuat pertahanan mereka.

Banyak pihak berharap kedua negara menahan diri dan mengutamakan dialog agar stabilitas keamanan Asia Timur tetap terjaga. (man)

Berita Terkait

Petugas Bandara Jeddah Lakukan Penyitaan Rokok Milik Jemaah Haji Indonesia
Rusia dan Ukraina Tukar 205 Tawanan Perang, Dimediasi AS di Tengah Memanasnya Konflik
Indonesia–Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama 2026–2030 di Minsk
Kamboja Deportasi Ribuan WNA Ilegal, Didominasi Kasus Penipuan Daring
Penembakan Saat Jamuan Malam Trump Gegerkan AS, Pelaku Dipastikan Tidak Terkait Iran
PBB dan Kemlu RI Ungkap Penyerang Praka Rico Adalah Israel, Fakta Ini Mengejutkan
Polandia Borong Emas Saat Dunia Cemas, Rusia Justru Jual Cadangan, Ada Apa?
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions, Arteta: Ini Momen Luar Biasa
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 15:00 WIB

Petugas Bandara Jeddah Lakukan Penyitaan Rokok Milik Jemaah Haji Indonesia

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:00 WIB

Rusia dan Ukraina Tukar 205 Tawanan Perang, Dimediasi AS di Tengah Memanasnya Konflik

Sabtu, 16 Mei 2026 - 14:00 WIB

Indonesia–Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama 2026–2030 di Minsk

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:00 WIB

China dan Jepang Kembali Bersitegang, Insiden Jet Tempur di Laut Pasifik Picu Kekhawatiran Kawasan

Rabu, 6 Mei 2026 - 16:00 WIB

Kamboja Deportasi Ribuan WNA Ilegal, Didominasi Kasus Penipuan Daring

Berita Terbaru

Perumda Air Minum Tirta Mayang Kota Jambi dan Institut Agama Islam Muhammad Azim (IAIMA) Jambi melalui penandatanganan MoU di Aula Griya Mayang, Kamis (21/05/2026).( Poto : JAMBIlink).

Daerah

Tirta Mayang dan IAIMA Jambi Teken MoU Kolaborasi Baru

Kamis, 21 Mei 2026 - 21:00 WIB

UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional ( Poto : JambiPrima.com ).

Daerah

UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:00 WIB

Ratusan warga Suku Anak Dalam (SAD) menggelar aksi di Kantor Bupati Merangin, Kamis (21/05/2026).( Poto : JambiPrima.com).

Daerah

Warga SAD Demo di Merangin, Protes Bantuan Tak Merata

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:00 WIB