Dolar AS Diprediksi Tembus Rp 18.200 Pekan Depan, Rupiah Kian Tertekan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dolar AS / Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Dolar AS / Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Jakarta, Jemarionline..com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir. Tekanan global yang terus meningkat membuat pasar mulai khawatir terhadap pergerakan mata uang Indonesia dalam jangka pendek.

Sejumlah analis memperkirakan dolar AS bisa menyentuh level Rp 18.200 pada pekan depan apabila tekanan pasar terus berlanjut. Prediksi tersebut muncul setelah dolar AS bergerak mendekati Rp 18.000 di pasar spot.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai level Rp 18.000 menjadi titik penting bagi pergerakan rupiah. Jika level tersebut terlewati, peluang penguatan dolar AS dinilai semakin besar.

“Kalau sudah menembus Rp 18.000, potensi menuju Rp 18.200 cukup terbuka,” ujar Ibrahim, Jumat (29/5).

Tekanan terhadap rupiah muncul akibat kombinasi faktor global dan domestik. Investor global saat ini lebih memilih menyimpan dana dalam bentuk dolar AS karena kondisi ekonomi dunia belum stabil.

Situasi geopolitik di Timur Tengah juga ikut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Akibatnya, banyak mata uang negara berkembang mengalami pelemahan, termasuk rupiah.

Selain itu, pasar masih menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve. Ekspektasi suku bunga tinggi membuat dolar AS terus menguat dalam beberapa pekan terakhir.

Investor Mulai Kurangi Aset Berisiko

Pelaku pasar mulai mengurangi kepemilikan aset berisiko karena ketidakpastian global belum mereda. Kondisi itu memicu arus modal keluar dari sejumlah negara berkembang.

Investor asing juga terlihat lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar saham maupun obligasi Indonesia. Mereka memilih menunggu situasi global lebih stabil sebelum kembali masuk ke pasar domestik.

Tekanan tersebut ikut memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, IHSG bergerak fluktuatif dan sempat mengalami tekanan jual.

Baca Juga :  BI Menggunakan Cadangan Devisa untuk Menahan Tekanan Rupiah

Saham sektor perbankan dan perusahaan besar menjadi salah satu yang paling banyak dilepas investor. Kondisi itu menunjukkan pasar masih sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Harga Barang Impor Bisa Naik

Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor di dalam negeri. Perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri akan menghadapi kenaikan biaya produksi.

Kondisi itu dapat memicu kenaikan harga sejumlah produk konsumsi. Barang elektronik, kebutuhan industri, hingga bahan pangan impor berisiko mengalami penyesuaian harga apabila rupiah terus melemah.

Tidak hanya itu, perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS juga harus menyiapkan biaya lebih besar untuk pembayaran cicilan dan bunga pinjaman.

Tekanan kurs sering kali membuat dunia usaha menahan ekspansi karena biaya operasional ikut meningkat. Jika kondisi berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi dapat ikut melambat.

Sektor Wisata Bisa Mendapat Keuntungan

Di tengah pelemahan rupiah, sektor pariwisata justru melihat peluang baru. Nilai tukar dolar AS yang tinggi membuat biaya liburan di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing.

Pelaku industri wisata menilai kondisi ini bisa meningkatkan jumlah kunjungan turis mancanegara, terutama ke daerah tujuan wisata populer seperti Bali.

Ketua DPD ASITA Bali I Putu Winastra mengatakan penguatan dolar AS dapat membantu pelaku usaha wisata yang menggunakan transaksi mata uang asing.

Menurutnya, wisatawan asing memiliki daya beli lebih tinggi ketika dolar AS menguat terhadap rupiah.

Meski begitu, pelaku usaha tetap harus memperhitungkan kenaikan harga barang impor yang digunakan untuk kebutuhan operasional hotel dan restoran.

Bank Indonesia Terus Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia diperkirakan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di pasar keuangan. Langkah tersebut penting untuk mengurangi tekanan yang terlalu besar terhadap mata uang nasional.

Baca Juga :  IHSG Tertekan, Ini Sinyal yang Dinilai Jadi Pemicu Pelemahan Pasar

Bank sentral biasanya masuk ke pasar valas melalui transaksi spot maupun pembelian surat berharga negara. Strategi tersebut bertujuan menjaga kepercayaan investor dan mengendalikan volatilitas pasar.

Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi. Kebijakan itu bertujuan menjaga daya tarik investasi di Indonesia.

Ekonom menilai stabilitas rupiah menjadi faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, koordinasi pemerintah dan bank sentral perlu berjalan optimal dalam menghadapi tekanan global.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Pakar ekonomi meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. Fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari dinamika ekonomi global yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Masyarakat disarankan mengelola pengeluaran secara bijak dan mengurangi pembelian barang impor yang tidak mendesak.

Pelaku usaha juga perlu memperkuat efisiensi operasional agar mampu menghadapi kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah.

Sementara itu, investor tetap perlu memperhatikan fundamental aset sebelum mengambil keputusan investasi. Langkah tersebut penting agar tidak terjebak sentimen pasar jangka pendek.

Rupiah Masih Bergantung pada Sentimen Global

Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan masih sangat bergantung pada kondisi global. Pasar akan terus memantau kebijakan suku bunga AS, perkembangan geopolitik, dan arus modal asing.

Jika tekanan global mulai mereda, rupiah memiliki peluang untuk kembali stabil. Namun, apabila ketidakpastian meningkat, dolar AS berpotensi melanjutkan penguatan.

Saat ini, level Rp 18.000 menjadi perhatian utama pelaku pasar. Banyak investor menilai angka tersebut menjadi batas psikologis penting bagi pergerakan rupiah.

Pemerintah dan Bank Indonesia kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan pasar global yang terus berubah. (man)

Berita Terkait

Kenaikan Pertamax Dinilai Tak Picu Inflasi Besar, Pemerintah Sebut Dampaknya Terbatas
IHSG Tertekan, Ini Sinyal yang Dinilai Jadi Pemicu Pelemahan Pasar
Warga Sangihe Mengungsi ke Dataran Tinggi Usai Gempa M 7,7 Guncang Filipina Selatan
SIM Keliling Jakarta Hari Ini Buka di Dua Lokasi, Ini Syarat dan Biaya Perpanjangan
300 Personel Polisi Amankan Yellow Run 2026 di GBK, Lalu Lintas Diatur Situasional
Menkeu: Pemerintah Fokus Jaga Kekuatan Fondasi Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global
MAAM Laporkan Abu Janda ke Polda Sumbar Terkait Ucapan “Bar-bar”
Gunung Marapi Erupsi 6 Kali di Mei 2026, Total 47 Letusan Sepanjang Tahun Masih Status Waspada
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 23:00 WIB

Kenaikan Pertamax Dinilai Tak Picu Inflasi Besar, Pemerintah Sebut Dampaknya Terbatas

Senin, 8 Juni 2026 - 23:00 WIB

IHSG Tertekan, Ini Sinyal yang Dinilai Jadi Pemicu Pelemahan Pasar

Senin, 8 Juni 2026 - 16:34 WIB

Warga Sangihe Mengungsi ke Dataran Tinggi Usai Gempa M 7,7 Guncang Filipina Selatan

Minggu, 7 Juni 2026 - 06:42 WIB

SIM Keliling Jakarta Hari Ini Buka di Dua Lokasi, Ini Syarat dan Biaya Perpanjangan

Minggu, 7 Juni 2026 - 06:18 WIB

300 Personel Polisi Amankan Yellow Run 2026 di GBK, Lalu Lintas Diatur Situasional

Berita Terbaru