Jakarta, Jemarionline.com – NASA memantau pergerakan asteroid 2026 JH2 saat objek ini melintas dekat Bumi pada Mei 2026. Tim astronom menggunakan teleskop dan sistem pelacakan untuk mengikuti lintasan batu luar angkasa tersebut sejak awal deteksi.
Teleskop survei di Arizona menemukan asteroid ini pada 10 Mei 2026. Sejak saat itu, ilmuwan langsung mengumpulkan data untuk menghitung orbit dan kecepatan objek tersebut.
NASA kemudian memasukkan asteroid 2026 JH2 ke dalam kategori Near-Earth Object (NEO) karena lintasannya mendekati orbit Bumi.
Ilmuwan Klasifikasikan Asteroid sebagai Objek Dekat Bumi
Tim peneliti mengukur ukuran asteroid ini sekitar 15 hingga 35 meter. Ilmuwan membandingkan ukurannya dengan bangunan tinggi atau bus besar untuk memudahkan pemahaman publik.
Para astronom menghitung kecepatan asteroid ini mencapai lebih dari 32.000 kilometer per jam. Mereka menggunakan data tersebut untuk memprediksi jalur lintasan secara akurat.
NASA mengelompokkan asteroid ini sebagai tipe Apollo karena orbitnya mendekati orbit Bumi dan Matahari.
Asteroid Melintas Lebih Dekat dari Orbit Bulan
Asteroid 2026 JH2 melewati Bumi dengan jarak sekitar 56.000 hingga 91.000 kilometer. Jarak ini membuat asteroid tersebut melintas lebih dekat dibandingkan Bulan yang berjarak sekitar 384.000 kilometer dari Bumi.
Ilmuwan membandingkan jarak tersebut dengan seperempat jarak Bumi–Bulan untuk memberi gambaran yang lebih jelas kepada publik.
Meskipun jaraknya terlihat dekat, NASA menegaskan bahwa jalur asteroid ini tidak bersinggungan dengan Bumi.
NASA Pastikan Tidak Ada Ancaman Tabrakan
NASA memantau seluruh data orbit asteroid 2026 JH2 secara real-time. Tim ilmuwan menghitung jalur pergerakan asteroid dan memastikan objek ini tidak akan menabrak Bumi.
Para peneliti juga menggunakan model simulasi komputer untuk memperkirakan posisi asteroid dalam beberapa hari ke depan. Hasil simulasi menunjukkan asteroid ini terus menjauh setelah titik terdekatnya.
NASA kemudian menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap fenomena ini.
Ilmuwan Manfaatkan Momen untuk Penelitian
Tim astronom menggunakan kesempatan ini untuk mempelajari karakteristik asteroid secara langsung. Mereka mengamati bentuk, ukuran, kecepatan, dan komposisi batuan dari asteroid tersebut.
Observatorium di berbagai negara juga ikut mengumpulkan data tambahan untuk meningkatkan akurasi sistem deteksi asteroid.
Para ilmuwan menggunakan hasil pengamatan ini untuk meningkatkan teknologi pelacakan objek luar angkasa di masa depan.
Asteroid Bisa Diamati dari Bumi
Pengamat langit dengan teleskop kuat dapat melihat asteroid 2026 JH2 sebagai titik cahaya kecil yang bergerak cepat di langit malam.
Beberapa observatorium dunia menyiarkan pergerakan asteroid ini melalui teleskop digital agar masyarakat bisa mengikuti fenomena tersebut secara langsung.
Komunitas astronom amatir juga ikut mengamati pergerakan asteroid ini untuk menambah data pengamatan publik.
Ilmuwan Pelajari Potensi Dampak Asteroid Sejenis
Para peneliti mempelajari asteroid seperti 2026 JH2 untuk memahami risiko objek luar angkasa terhadap Bumi. Mereka menggunakan data ini untuk memperbaiki sistem deteksi dini asteroid.
Tim riset juga mengembangkan metode baru untuk menghitung jalur orbit lebih cepat dan lebih akurat.
NASA mengembangkan sistem pertahanan planet untuk menghadapi kemungkinan ancaman asteroid besar di masa depan.
Fenomena Ini Jadi Pengingat Aktivitas Luar Angkasa
Asteroid 2026 JH2 menunjukkan bahwa Bumi terus bergerak di lingkungan luar angkasa yang aktif. Ribuan objek kecil melintas di sekitar planet kita setiap tahun.
Ilmuwan terus memantau objek-objek tersebut untuk menjaga keamanan Bumi dan memperkuat sistem peringatan dini.
Peristiwa ini juga meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya penelitian antariksa. (man)









