Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin cepat dan mulai memicu kekhawatiran terhadap masa depan sejumlah profesi bergengsi. Mantan petinggi Google memperingatkan bahwa lulusan hukum dan kedokteran berpotensi menghadapi persaingan serius dari teknologi AI dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jad Tarifi, mantan eksekutif Google sekaligus pendiri perusahaan AI Integral. Ia menilai sistem pendidikan tradisional, terutama di bidang hukum dan medis, bergerak jauh lebih lambat dibandingkan kemajuan teknologi AI.
AI Berkembang Lebih Cepat dari Pendidikan Tinggi
Menurut Tarifi, program studi seperti kedokteran dan hukum membutuhkan waktu pendidikan yang sangat panjang. Masalahnya, ketika mahasiswa akhirnya lulus, kemampuan AI diperkirakan sudah berkembang hingga mampu melakukan banyak tugas profesional yang sebelumnya hanya bisa dikerjakan manusia.
Ia bahkan menilai gelar profesional yang memakan waktu bertahun-tahun berisiko menjadi kurang relevan karena AI terus belajar dan meningkatkan kemampuannya secara eksponensial. Sistem AI modern kini mampu menganalisis data medis, membaca dokumen hukum, hingga memberikan rekomendasi berbasis jutaan referensi dalam waktu sangat singkat.
Tarifi juga mengkritik metode pembelajaran yang masih berfokus pada hafalan informasi. Menurutnya, model seperti itu mudah digantikan oleh AI yang memiliki kapasitas memori dan pencarian data jauh lebih besar.
Bukan Berarti Dokter dan Pengacara Akan Hilang
Meski terdengar ekstrem, pernyataan tersebut bukan berarti profesi dokter atau pengacara akan sepenuhnya hilang. Tarifi menekankan bahwa kemampuan manusia tetap penting, terutama dalam aspek yang sulit digantikan mesin, seperti:
-
empati terhadap pasien atau klien
-
komunikasi interpersonal
-
pengambilan keputusan etis
-
pemahaman konteks sosial dan emosional
Keterampilan manusia inilah yang dinilai akan menjadi pembeda utama di era AI.
AI Sudah Mulai Masuk ke Dunia Profesional
Saat ini, teknologi AI sudah digunakan dalam berbagai pekerjaan profesional, misalnya:
-
membantu analisis diagnosis medis
-
menyusun dokumen hukum dan kontrak
-
riset kasus hukum secara otomatis
-
analisis data pasien dan prediksi risiko penyakit
Karena itu, banyak ahli menilai masa depan pekerjaan bukanlah manusia vs AI, melainkan manusia yang mampu bekerja bersama AI.
Beberapa pengamat bahkan menyebut perubahan akibat AI bisa setara dengan revolusi industri karena dampaknya terhadap pasar kerja global sangat besar.
Pesan untuk Generasi Muda
Alih-alih menghindari pendidikan tinggi, Tarifi menyarankan mahasiswa untuk mulai mengembangkan keterampilan yang tidak mudah diotomatisasi, seperti:
-
berpikir kritis
-
kreativitas
-
kemampuan adaptasi teknologi
-
kolaborasi dengan sistem AI
Dengan kata lain, AI bukan hanya ancaman, tetapi juga alat baru yang akan mengubah cara profesional bekerja di masa depan.









