Impor Indonesia Naik 13,40% Januari–April 2026, Bahan Baku Jadi Pendorong Utama

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Realisasi arus peti kemas IPC awal triwulan II 2026( poto : istimewa )

Ilustrasi Realisasi arus peti kemas IPC awal triwulan II 2026( poto : istimewa )

Jakarta, jemarionline.com – Lonjakan impor bahan baku menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan impor Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia mencapai US$ 86,51 miliar, naik 13,40% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 76,29 miliar.

Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya kebutuhan industri domestik terhadap bahan baku produksi, mesin, perlengkapan industri, serta produk kimia. Aktivitas manufaktur yang terus bergerak ikut memperkuat permintaan impor di awal tahun 2026.

Impor Migas dan Nonmigas Sama-Sama Menguat

BPS melaporkan seluruh komponen impor mengalami kenaikan, baik migas maupun nonmigas. Impor migas tercatat sebesar US$ 12,93 miliar, naik 17,58% secara tahunan.

Sementara itu, impor nonmigas mencapai US$ 73,58 miliar atau tumbuh 12,70% dibanding periode yang sama tahun 2025. Kenaikan di dua sektor ini menunjukkan kebutuhan energi dan industri masih tinggi di dalam negeri.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa seluruh golongan penggunaan barang mengalami peningkatan impor pada periode tersebut.

Baca Juga :  Indonesia Optimistis Capai Target Investasi 2026, Sejalan Proyeksi Bank Dunia

Bahan Baku Jadi Penyumbang Terbesar

Dari seluruh kategori impor, bahan baku dan penolong menjadi penyumbang utama kenaikan. Nilainya mencapai US$ 61,82 miliar, naik 11,67% secara tahunan.

Kelompok ini memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan impor nasional dengan andil sebesar 8,47%. Kondisi ini menunjukkan industri dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.

Komoditas utama dalam kelompok ini meliputi bahan bakar mineral (HS 27), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), serta berbagai produk kimia (HS 38).

Mesin, Elektrik, dan Plastik Mendominasi Nonmigas

Pada kategori nonmigas, tiga kelompok barang menjadi komoditas impor terbesar Indonesia. Ketiganya adalah mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.

Ketiga kelompok tersebut menyumbang sekitar 37,37% dari total impor nonmigas nasional. Kontribusi ini menunjukkan ketergantungan industri terhadap peralatan produksi dan bahan pendukung masih cukup tinggi.

Baca Juga :  Profitabilitas Asuransi Umum dan Reasuransi Tetap Kuat di Awal 2026, Laba Capai Rp4,22 Triliun

Impor mesin dan peralatan mekanis tercatat sebesar US$ 12,67 miliar dengan volume 1,56 juta ton. Sementara mesin dan perlengkapan elektrik mencapai US$ 11,12 miliar dengan volume 870 ribu ton.

Adapun impor plastik dan produk turunannya mencapai US$ 3,71 miliar dengan volume 2,34 juta ton, yang digunakan untuk berbagai kebutuhan industri dan manufaktur.

Asal Negara Impor dan Dampaknya ke Neraca Dagang

Dari sisi negara asal, kenaikan impor terutama berasal dari Tiongkok, Australia, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa. Sebaliknya, impor dari Jepang tercatat mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

BPS menilai tingginya impor bahan baku, mesin, dan perlengkapan industri mencerminkan aktivitas produksi domestik yang masih kuat. Namun, peningkatan impor ini juga memberi tekanan pada surplus neraca perdagangan Indonesia pada awal 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan industri berjalan beriringan dengan meningkatnya ketergantungan terhadap bahan baku impor, terutama untuk menjaga stabilitas produksi nasional.(ar)

Berita Terkait

10 Saham Melemah Tajam, Investor Diminta Waspadai Risikonya
Harga Emas Stagnan Meski Timur Tengah Memanas, Ini Penyebabnya
Harga Bitcoin Tembus Rp1,17 Miliar, Minat Investor Kembali Menguat
IHSG Anjlok Hampir 2 Persen, Kembali ke Level 6.100
Harga Emas di Titik Kritis, Analis Waspadai Koreksi ke US$3.000
IHSG Berpeluang Menguat, Simak Rekomendasi 4 Saham Hari Ini
IHSG Banjir Kabar Baik, Optimisme Investor Kian Menguat
IHSG Anjlok 1,89 Persen, Investor Asing Ramai Lepas Saham Ini
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 09:00 WIB

10 Saham Melemah Tajam, Investor Diminta Waspadai Risikonya

Senin, 27 Juli 2026 - 08:00 WIB

Harga Emas Stagnan Meski Timur Tengah Memanas, Ini Penyebabnya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:00 WIB

Harga Bitcoin Tembus Rp1,17 Miliar, Minat Investor Kembali Menguat

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:00 WIB

IHSG Anjlok Hampir 2 Persen, Kembali ke Level 6.100

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:00 WIB

Harga Emas di Titik Kritis, Analis Waspadai Koreksi ke US$3.000

Berita Terbaru

Sumber : Arianti Widya/Viva.co.id

OTOMOTIF

Jelang GIIAS 2026, Harga Mobil MPV Mulai Rp167 Jutaan

Senin, 27 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teknologi

Apple TV 2026: Jadwal Rilis, Rumor, dan Spesifikasi Terbaru

Senin, 27 Jul 2026 - 07:00 WIB