Aceh, jemarionline.com – Banjir Aceh Utara kembali terjadi setelah Krueng Peuto meluap dan menggenangi ratusan rumah warga di Kecamatan Lhoksukon, Senin (25/5/2026).
Air setinggi 80 sentimeter hingga satu meter masuk ke tiga desa dan menghambat aktivitas warga.
Banjir melanda Desa Krueng Lt, Desa Kumbang Lt, dan Desa Dayah Lt. Warga menilai kerusakan tanggul sungai membuat air lebih mudah masuk ke permukiman saat hujan turun.
Warga Sudah Dua Kali Menghadapi Banjir
Muhammad, warga Desa Kumbang Lt, mengatakan banjir kali ini menjadi yang kedua selama Mei 2026. Menurut dia, hujan ringan saja sudah membuat debit Krueng Peuto naik dengan cepat.
Ia menyebut desa mereka kini tidak lagi memiliki tanggul yang mampu menahan luapan sungai.
“Sedikit saja hujan, air sungai langsung penuh lalu masuk ke rumah warga,” kata Muhammad.
Warga mulai khawatir karena banjir datang semakin sering. Meski air biasanya surut dalam satu hingga dua hari, lumpur yang tertinggal membuat warga harus bekerja ekstra membersihkan rumah.
Mereka harus mencuci perabot, membersihkan lantai, hingga mengangkut lumpur dari halaman rumah.
Ratusan Kepala Keluarga Terdampak
Camat Lhoksukon, Kamaruddin KS, mencatat ratusan kepala keluarga terkena dampak banjir di tiga desa tersebut.
Desa Kumbang Lt mengalami dampak paling besar dengan 210 kepala keluarga terdampak. Di Desa Krueng Lt, banjir mengganggu 93 kepala keluarga, sedangkan Desa Dayah Lt mencatat 97 kepala keluarga terdampak.
Petugas kecamatan terus memantau kondisi banjir dan debit air sungai di lokasi terdampak.
“Kami terus memantau perkembangan banjir. Sampai sekarang warga masih bertahan di rumah masing-masing,” ujar Kamaruddin.
Genangan Air Hambat Akses Jalan
Luapan sungai juga menggenangi jalan penghubung Kecamatan Cot Girek dan Kecamatan Lhoksukon.
Pengendara harus memperlambat kendaraan saat melintas karena genangan cukup tinggi di beberapa titik. Warga juga khawatir arus air semakin deras jika hujan kembali turun.
Kondisi itu membuat aktivitas masyarakat ikut terganggu, terutama warga yang bekerja di luar desa dan petani yang mengangkut hasil kebun.
Sebagian warga memilih menunda perjalanan sampai kondisi jalan kembali aman.
Warga Desak Pembangunan Tanggul
Warga meminta pemerintah segera membangun tanggul permanen di sepanjang aliran Krueng Peuto agar banjir tidak terus berulang.
Menurut warga, tanggul menjadi kebutuhan penting karena aliran sungai langsung mengarah ke permukiman penduduk.
Muhammad mengatakan masyarakat sudah lama menyampaikan permintaan tersebut, terutama setelah banjir besar yang melanda Aceh Utara pada akhir 2025 lalu.
“Kalau tanggul belum dibangun, banjir akan terus datang. Kami paling repot saat membersihkan lumpur setelah air surut,” ujarnya.
Pemerintah Kecamatan Lhoksukon memasukkan pembangunan tanggul ke dalam usulan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Aceh Utara.
Pemerintah daerah menyusun usulan itu setelah banjir besar pada November 2025 merusak sejumlah wilayah di sekitar Krueng Peuto.
Sampai sekarang warga masih menunggu realisasi pembangunan tanggul tersebut. Mereka berharap pemerintah segera memulai pekerjaan agar banjir tahunan tidak terus mengganggu kehidupan masyarakat.(ar)









