Virus Hanta Bisa Menyerupai ISPA hingga Demam Berdarah, Dinkes Kukar Minta Tenaga Medis Waspada

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Niaga.Asia)

(Foto: Niaga.Asia)

Jakarta, Jemarionline.com – Kekhawatiran terhadap penyebaran Virus Hanta kembali meningkat setelah sejumlah daerah memperkuat kewaspadaan dini terhadap penyakit tersebut. Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) meminta tenaga medis meningkatkan kewaspadaan karena gejala virus hanta sering menyerupai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga demam berdarah.

Kemiripan gejala tersebut membuat tenaga kesehatan perlu lebih teliti saat memeriksa pasien dengan keluhan demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan.

Virus Hanta merupakan penyakit zoonosis yang menyebar melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui urin, air liur, kotoran, atau debu yang terkontaminasi.

Gejala Virus Hanta Mirip Penyakit Umum

Dinas Kesehatan mengingatkan bahwa gejala awal virus hanta sering membuat pasien dan tenaga medis sulit membedakannya dengan penyakit lain.

Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami:

  • Demam
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Tubuh lemas
  • Batuk
  • Sesak napas ringan

Gejala tersebut sangat mirip dengan ISPA, flu berat, hingga demam berdarah. Karena itu, tenaga medis perlu melakukan pemeriksaan lebih mendalam apabila menemukan pasien dengan riwayat kontak lingkungan kotor atau paparan tikus.

Dalam beberapa kasus, virus hanta juga dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat atau gagal ginjal ketika pasien terlambat mendapatkan penanganan.

Dinkes Kukar Minta Tenaga Medis Tingkatkan Kewaspadaan

Dinas Kesehatan Kukar meminta seluruh fasilitas kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kasus virus hanta.

Selain memantau pasien dengan gejala mencurigakan, tenaga medis juga perlu aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Langkah tersebut muncul setelah Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan surat kewaspadaan terkait virus hanta menyusul laporan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di kapal pesiar MV Hondius.

Beberapa daerah lain di Indonesia juga mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi penyebaran virus tersebut.

Baca Juga :  Pola Hidup Sehat Jadi Kunci Menjaga Daya Tahan Tubuh di Musim Pancaroba

Dinas kesehatan di Kalimantan Timur, NTB, hingga Karawang turut mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat dan tenaga kesehatan.

Kemenkes Perkuat Pengawasan Virus Hanta

Kementerian Kesehatan RI memastikan belum menemukan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di Indonesia hingga saat ini.

Meski begitu, Kemenkes tetap memperkuat pengawasan karena Indonesia sudah mencatat kasus Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), salah satu penyakit akibat virus hanta.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kasus melalui sistem surveilans nasional.

Data Kemenkes mencatat ratusan kasus suspek dan puluhan kasus terkonfirmasi HFRS sepanjang 2024 hingga 2026. Kasus tersebut muncul di beberapa wilayah Indonesia.

Karena itu, pemerintah meminta fasilitas kesehatan meningkatkan deteksi dini terhadap pasien dengan gejala mencurigakan.

Tikus Menjadi Sumber Penularan Utama

Virus hanta tidak menyebar luas antarmanusia seperti COVID-19. Virus ini lebih sering menular melalui paparan hewan pengerat yang terinfeksi.

Seseorang dapat tertular ketika:

  • Menghirup debu yang terkontaminasi kotoran tikus
  • Menyentuh urin atau air liur tikus
  • Membersihkan area kotor tanpa perlindungan
  • Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi

Karena itu, Dinkes meminta masyarakat lebih memperhatikan kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.

Musim hujan juga meningkatkan risiko karena populasi tikus biasanya bertambah dan lebih sering masuk ke permukiman warga.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

Meski kewaspadaan meningkat, pemerintah meminta masyarakat tidak panik menghadapi isu virus hanta.

Pakar kesehatan menilai risiko penularan virus hanta masih jauh lebih rendah dibanding penyakit menular yang menyebar melalui kontak antarmanusia.

Namun demikian, masyarakat tetap perlu menjaga kebersihan lingkungan dan segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala mencurigakan setelah kontak dengan area yang banyak tikus.

Baca Juga :  Wabah Virus Hanta di Kapal Pesiar: Kronologi, Gejala, dan Respons WHO terhadap 147 Penumpang Terjebak

Perbincangan di media sosial juga ikut meningkatkan perhatian publik terhadap virus hanta. Sebagian warganet bahkan sempat membandingkan virus tersebut dengan pandemi COVID-19.

Namun banyak pengguna internet mengingatkan bahwa hantavirus sudah lama dikenal dan bukan virus baru.

Tenaga Medis Perlu Perkuat Deteksi Dini

Kementerian Kesehatan meminta fasilitas layanan kesehatan memperkuat deteksi dini dan pelaporan apabila menemukan pasien dengan gejala yang mengarah ke virus hanta.

Selain itu, tenaga medis juga perlu memperhatikan riwayat aktivitas pasien, terutama jika pasien sering berada di lingkungan kotor, gudang, area banjir, atau lokasi dengan populasi tikus tinggi.

Pemerintah juga terus memperkuat sistem surveilans nasional untuk memantau perkembangan kasus secara berkala.

Langkah tersebut bertujuan mempercepat penanganan apabila muncul kasus baru di daerah tertentu.

Cara Mencegah Penularan Virus Hanta

Dinas kesehatan mengimbau masyarakat melakukan langkah pencegahan sederhana agar terhindar dari risiko penularan virus hanta.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain:

  • Menjaga kebersihan rumah
  • Menutup makanan rapat
  • Membersihkan area kotor memakai masker
  • Menghindari kontak langsung dengan tikus
  • Menutup akses masuk tikus ke rumah
  • Membuang sampah secara rutin

Selain itu, masyarakat juga perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan ketika mengalami demam tinggi, sesak napas, atau gejala lain setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus.

Kewaspadaan Menjadi Langkah Utama

Peningkatan kewaspadaan terhadap virus hanta menunjukkan bahwa pemerintah dan tenaga kesehatan mulai memperkuat antisipasi terhadap penyakit zoonosis di Indonesia.

Meski Indonesia belum menemukan kasus HPS, pemerintah tetap meminta masyarakat dan tenaga medis tidak lengah.

Kemiripan gejala virus hanta dengan ISPA hingga demam berdarah membuat deteksi dini menjadi langkah penting agar pasien bisa mendapatkan penanganan lebih cepat. (man)

Berita Terkait

7 Kebiasaan Mudah yang Bikin Rambut Tampak Lebih Tebal
AirPods Bisa Ganggu Alat Pacu Jantung? Dokter Jelaskan Fakta dan Risikonya
5 Herbal untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Secara Alami, Mudah Ditemukan
Gejala Sinusitis: Mengira Flu Biasa? Hidung Tersumbat Bisa Jadi Tanda Sinus
Bahaya Kekurangan Gizi Mikro pada Anak yang Sering Tak Disadari
Mulai Juni 2026, Pasien BPJS Wajib Kontrol Sesuai Jadwal atau Tak Dilayani
RSUD Soedjono Selong Mulai Vaksinasi MR, Pegawai Jadi Sasaran Awal
70 Juta Warga RI Diperkirakan Idap Penyakit Hati, Banyak yang Tak Menyadarinya
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:00 WIB

7 Kebiasaan Mudah yang Bikin Rambut Tampak Lebih Tebal

Minggu, 14 Juni 2026 - 07:00 WIB

AirPods Bisa Ganggu Alat Pacu Jantung? Dokter Jelaskan Fakta dan Risikonya

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:00 WIB

5 Herbal untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Secara Alami, Mudah Ditemukan

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:00 WIB

Gejala Sinusitis: Mengira Flu Biasa? Hidung Tersumbat Bisa Jadi Tanda Sinus

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:00 WIB

Bahaya Kekurangan Gizi Mikro pada Anak yang Sering Tak Disadari

Berita Terbaru

Sumber : Arianti Widya/Viva.co.id

OTOMOTIF

Jelang GIIAS 2026, Harga Mobil MPV Mulai Rp167 Jutaan

Senin, 27 Jul 2026 - 10:00 WIB

Teknologi

Apple TV 2026: Jadwal Rilis, Rumor, dan Spesifikasi Terbaru

Senin, 27 Jul 2026 - 07:00 WIB