Jambi, Jemarionline.com – Kabut asap karhutla Jambi kian pekat mengepung sejumlah wilayah di Provinsi Jambi hingga memicu lonjakan keluhan gangguan pernapasan, Sabtu (17/10/2026). Warga mengeluhkan kualitas udara yang merosot drastis dibanding hari sebelumnya karena menimbulkan batuk parah dan dada sesak saat beraktivitas di luar rumah.
Kondisi langit di wilayah perbatasan Kabupaten Muaro Jambi dan Kota Jambi tampak temaram sepanjang hari. Guyuran hujan berintensitas ringan sebelumnya ternyata belum sanggup mengurai partikel abu pekat yang melayang di udara bebas.
Jarak pandang mendatar di jalan lintas antarwilayah bahkan anjlok tajam hingga berada di bawah satu kilometer. Para pengendara sepeda motor memilih memperlambat laju kendaraan demi menghindari risiko kecelakaan lalu lintas akibat pekatnya kepungan asap.
Tingkat ketebalan asap justru terus meningkat tajam saat waktu beranjak dari sore menuju malam hari. Situasi berbahaya tersebut memaksa para pengguna jalan mengenakan masker seadanya guna membentengi saluran napas dari paparan racun udara.
Jarak Pandang Turun Drastis dan Memicu Gangguan Pernapasan
Masyarakat kini meluapkan rasa kecewa mendalam terhadap lambannya perhatian serta aksi cepat tanggap pemerintah daerah. Mereka menyayangkan belum adanya inisiatif nyata aparat setempat dalam mendistribusikan bantuan masker medis maupun masker khusus partikulat ke tengah pemukiman.
Salah seorang warga lokal, Alfi (48), mengungkapkan kekesalannya atas ketiadaan bantuan pelindung pernapasan dari instansi berwenang. Padahal ancaman partikel mikro berbahaya sudah mencemari udara yang masyarakat hirup setiap detik tanpa jeda.
“Sampai hari ini belum ada pembagian masker dari pemerintah. Kondisi udara sudah seburuk ini, tapi respons di lapangan sangat lambat,” cetus Alfi saat ditemui di lokasi, Sabtu (17/10/2026).
Alfi menuturkan bahwa daya tahan fisiknya kini merosot tajam akibat terus-menerus mengisap udara beracun saat beraktivitas harian. Rasa tidak nyaman terus menyerang saluran tenggorokannya sehingga memicu rasa cemas jika harus keluar rumah.
“Dada terasa sesak setiap kali keluar rumah, tenggorokan gatal dan batuk-batuk. Sekarang tidak berani keluar tanpa masker,” imbuh Alfi dengan nada cemas.
Warga Beli Masker Mandiri Akibat Ketiadaan Bantuan Pemerintah
Kondisi serupa dialami oleh Nofliardi (51), seorang pedagang harian yang menggantungkan nafkah dari perjalanan dini hari menuju pasar tradisional. Ia membeberkan bahwa konsentrasi kabut asap paling pekat selalu menyergap para pengendara jalanan pada rentang pagi subuh dan sore hari.
Rute perdagangan yang ia lalui setiap fajar menyajikan pemandangan abu-abu pekat yang sangat menusuk paru-paru. Paparan polusi tanpa henti tersebut akhirnya merusak kesehatan fisiknya selama melakoni pekerjaan sehari-hari di jalan raya.
“Sudah beberapa hari ini saya batuk terus karena tiap pagi terobos asap tebal ke pasar naik motor. Selama ini masker beli sendiri pakai uang pribadi, beli eceran,” ungkap Nofliardi dengan raut lelah.
Nofliardi menilai dinas terkait semestinya berinisiatif turun langsung ke titik-titik keramaian publik untuk membagikan pelindung wajah cuma-cuma. “Harusnya dinas terkait turun ke jalan membagikan masker ke masyarakat,” keluhnya mengharapkan kepedulian nyata para pemangku kebijakan.
Penyelidikan lapangan menunjukkan bahwa petaka polusi udara di Jambi berakar dari pembakaran lahan gambut lokal yang tak kunjung padam. Hembusan angin kencang turut mengangkut pasokan kabut asap kiriman dari daerah tetangga yang mengalami kebakaran hutan serupa.
Akumulasi asap lintas wilayah tersebut kini mengunci ruang gerak masyarakat di bawah ancaman penyakit saluran pernapasan menahun. Warga terdampak mendesak seluruh pemangku kepentingan segera mengerahkan unit pemadam api gabungan secara intensif guna memadamkan bara gambut hingga tuntas.
Selain pemadaman total titik api, masyarakat menuntut dinas kesehatan segera menggelar operasi pembagian masker massal gratis di kantong-kantong permukiman terparah. Langkah perlindungan darurat tersebut sangat krusial guna mencegah ledakan kasus infeksi pernapasan akut di tengah masyarakat Jambi.(ar)









