Kabut Asap Pekat Selimuti Jambi, Warga Desak Pembagian Masker Gratis

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peristiwakebakaran lahan terjadi di kawasan samping Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi pada Senin (24/8).(poto: oegopost.id).

Peristiwakebakaran lahan terjadi di kawasan samping Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi pada Senin (24/8).(poto: oegopost.id).

Jambi, Jemarionline.com – Kabut asap karhutla Jambi kian pekat mengepung sejumlah wilayah di Provinsi Jambi hingga memicu lonjakan keluhan gangguan pernapasan, Sabtu (17/10/2026). Warga mengeluhkan kualitas udara yang merosot drastis dibanding hari sebelumnya karena menimbulkan batuk parah dan dada sesak saat beraktivitas di luar rumah.

Kondisi langit di wilayah perbatasan Kabupaten Muaro Jambi dan Kota Jambi tampak temaram sepanjang hari. Guyuran hujan berintensitas ringan sebelumnya ternyata belum sanggup mengurai partikel abu pekat yang melayang di udara bebas.

Jarak pandang mendatar di jalan lintas antarwilayah bahkan anjlok tajam hingga berada di bawah satu kilometer. Para pengendara sepeda motor memilih memperlambat laju kendaraan demi menghindari risiko kecelakaan lalu lintas akibat pekatnya kepungan asap.

Tingkat ketebalan asap justru terus meningkat tajam saat waktu beranjak dari sore menuju malam hari. Situasi berbahaya tersebut memaksa para pengguna jalan mengenakan masker seadanya guna membentengi saluran napas dari paparan racun udara.

Jarak Pandang Turun Drastis dan Memicu Gangguan Pernapasan

Masyarakat kini meluapkan rasa kecewa mendalam terhadap lambannya perhatian serta aksi cepat tanggap pemerintah daerah. Mereka menyayangkan belum adanya inisiatif nyata aparat setempat dalam mendistribusikan bantuan masker medis maupun masker khusus partikulat ke tengah pemukiman.

Baca Juga :  Tips Orang Tua Kurangi Gadget Anak Saat Liburan Sekolah

Salah seorang warga lokal, Alfi (48), mengungkapkan kekesalannya atas ketiadaan bantuan pelindung pernapasan dari instansi berwenang. Padahal ancaman partikel mikro berbahaya sudah mencemari udara yang masyarakat hirup setiap detik tanpa jeda.

“Sampai hari ini belum ada pembagian masker dari pemerintah. Kondisi udara sudah seburuk ini, tapi respons di lapangan sangat lambat,” cetus Alfi saat ditemui di lokasi, Sabtu (17/10/2026).

Alfi menuturkan bahwa daya tahan fisiknya kini merosot tajam akibat terus-menerus mengisap udara beracun saat beraktivitas harian. Rasa tidak nyaman terus menyerang saluran tenggorokannya sehingga memicu rasa cemas jika harus keluar rumah.

“Dada terasa sesak setiap kali keluar rumah, tenggorokan gatal dan batuk-batuk. Sekarang tidak berani keluar tanpa masker,” imbuh Alfi dengan nada cemas.

Warga Beli Masker Mandiri Akibat Ketiadaan Bantuan Pemerintah

Kondisi serupa dialami oleh Nofliardi (51), seorang pedagang harian yang menggantungkan nafkah dari perjalanan dini hari menuju pasar tradisional. Ia membeberkan bahwa konsentrasi kabut asap paling pekat selalu menyergap para pengendara jalanan pada rentang pagi subuh dan sore hari.

Rute perdagangan yang ia lalui setiap fajar menyajikan pemandangan abu-abu pekat yang sangat menusuk paru-paru. Paparan polusi tanpa henti tersebut akhirnya merusak kesehatan fisiknya selama melakoni pekerjaan sehari-hari di jalan raya.

Baca Juga :  Kebakaran Lahan Sungai Buluh Hanguskan Kebun Karet Warga Rimbo Tengah

“Sudah beberapa hari ini saya batuk terus karena tiap pagi terobos asap tebal ke pasar naik motor. Selama ini masker beli sendiri pakai uang pribadi, beli eceran,” ungkap Nofliardi dengan raut lelah.

Nofliardi menilai dinas terkait semestinya berinisiatif turun langsung ke titik-titik keramaian publik untuk membagikan pelindung wajah cuma-cuma. “Harusnya dinas terkait turun ke jalan membagikan masker ke masyarakat,” keluhnya mengharapkan kepedulian nyata para pemangku kebijakan.

Penyelidikan lapangan menunjukkan bahwa petaka polusi udara di Jambi berakar dari pembakaran lahan gambut lokal yang tak kunjung padam. Hembusan angin kencang turut mengangkut pasokan kabut asap kiriman dari daerah tetangga yang mengalami kebakaran hutan serupa.

Akumulasi asap lintas wilayah tersebut kini mengunci ruang gerak masyarakat di bawah ancaman penyakit saluran pernapasan menahun. Warga terdampak mendesak seluruh pemangku kepentingan segera mengerahkan unit pemadam api gabungan secara intensif guna memadamkan bara gambut hingga tuntas.

Selain pemadaman total titik api, masyarakat menuntut dinas kesehatan segera menggelar operasi pembagian masker massal gratis di kantong-kantong permukiman terparah. Langkah perlindungan darurat tersebut sangat krusial guna mencegah ledakan kasus infeksi pernapasan akut di tengah masyarakat Jambi.(ar)

Berita Terkait

Cara Pindah BPJS Mandiri ke PBI Gratis: Simak Syarat dan Tahapan Resminya
Ratusan Orang Diduga Keracunan Usai Menyantap Makanan Restoran Korea di Bandung
Cara Efektif Mengatasi Kutu Beras dan Ngengat Lemari Dapur
Kebiasaan Harian Perkotaan yang Picu Risiko Perlemakan Hati
Ubi Jalar vs Pisang: Mana Terbaik untuk Gula Darah?
Hipertensi Geser Merokok Jadi Pemicu Utama Serangan Jantung di Indonesia
Edukasi Nyeri Punggung Bawah: RS M Djamil Imbau Warga Tak Sepelekan Sakit Pinggang
7 Kebiasaan Mudah yang Bikin Rambut Tampak Lebih Tebal
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Kabut Asap Pekat Selimuti Jambi, Warga Desak Pembagian Masker Gratis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:11 WIB

Cara Pindah BPJS Mandiri ke PBI Gratis: Simak Syarat dan Tahapan Resminya

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:36 WIB

Ratusan Orang Diduga Keracunan Usai Menyantap Makanan Restoran Korea di Bandung

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:49 WIB

Cara Efektif Mengatasi Kutu Beras dan Ngengat Lemari Dapur

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Kebiasaan Harian Perkotaan yang Picu Risiko Perlemakan Hati

Berita Terbaru

Deretan Huawei Nova 16s Series dengan kamera 200 MP resmi hadir di Indonesia mengusung baterai 7.000 mAh.(poto: AI).

Teknologi

Huawei Nova 16s Series Rilis di RI Bawa Kamera 200 MP

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:07 WIB

Ilustarsi Seorang warga sedang bertransaksi membeli emas Antam di outlet Pegadaian, Kamis (22/10/2026).(poto: AI).

Ekonomi

Harga Emas Antam Pegadaian 22 Oktober 2026 Turun Tipis

Kamis, 22 Okt 2026 - 13:20 WIB

Petugas Mantri BRI menjelaskan tabel simulasi angsuran KUR kepada pelaku usaha mikro di warung kelontong.(ilustrasi poto: AI).

Ekonomi

Simulasi Angsuran KUR BRI 2026 Pinjaman Rp 60 Juta

Kamis, 22 Okt 2026 - 13:14 WIB

Emas batangan Antam kemasan CertiCard pecahan 1 gram bersanding dengan kalkulator di atas meja kayu.(poto: AI).

Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini 22 Oktober 2026 Turun Tipis

Kamis, 22 Okt 2026 - 13:09 WIB