JEMARIONLINE.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mayoritas saham bergerak di zona hijau dan mendorong indeks melonjak lebih dari 2 persen hingga akhir sesi pertama perdagangan.
Data perdagangan menunjukkan IHSG menguat 2,34 persen atau sekitar 134 poin. Indeks berhasil mencapai level 5.881,23 saat penutupan sesi I. Pada awal perdagangan, IHSG bahkan sempat menyentuh level 5.939,23.
Penguatan tersebut menjadi angin segar bagi pelaku pasar setelah IHSG mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa pekan terakhir. Investor mulai kembali memburu sejumlah saham unggulan yang sebelumnya terkoreksi dalam.
Mayoritas Saham Berada di Zona Hijau
Kinerja positif IHSG didukung oleh banyaknya saham yang menguat sepanjang sesi perdagangan.
Sebanyak 543 saham mencatat kenaikan harga. Sementara itu, 151 saham mengalami penurunan dan 118 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan sentimen pasar yang jauh lebih positif dibanding beberapa hari sebelumnya.
Selain IHSG, indeks saham unggulan LQ45 juga menunjukkan performa yang kuat. Indeks tersebut naik 2,46 persen dan mencerminkan penguatan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Aktivitas transaksi juga berlangsung sangat ramai. Pelaku pasar membukukan volume perdagangan sekitar 31,68 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp19,94 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat menembus lebih dari 2 juta kali transaksi.
Saham Blue Chip Jadi Motor Penguatan
Sejumlah saham unggulan atau blue chip menjadi pendorong utama kenaikan IHSG.
Di sektor perbankan, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI mencatat kenaikan sekitar 7,65 persen. Harga saham emiten tersebut naik ke level Rp3.520 per lembar saham.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menunjukkan performa positif. Saham bank swasta terbesar di Indonesia itu menguat sekitar 5,83 persen hingga mencapai Rp5.450 per saham.
Penguatan saham-saham perbankan memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan indeks. Investor menilai sektor keuangan masih memiliki prospek yang menarik setelah berbagai langkah stabilisasi ekonomi yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia.
DSSA dan BNBR Melesat Dua Digit
Selain saham perbankan, beberapa emiten juga mencatat lonjakan harga yang signifikan.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu saham dengan kenaikan tertinggi. Harga saham DSSA melonjak sekitar 16,30 persen hingga mencapai Rp785 per saham.
Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga mencuri perhatian investor. Saham perusahaan tersebut melesat sekitar 12,37 persen dan ditutup di level Rp109 per saham pada sesi pertama perdagangan.
Lonjakan kedua saham tersebut ikut memperkuat optimisme pasar terhadap peluang pemulihan bursa dalam jangka pendek.
IHSG Masih Menghadapi Tantangan
Meski berhasil menguat tajam, IHSG masih menghadapi tantangan besar sepanjang tahun 2026.
Data perdagangan menunjukkan IHSG masih mencatat koreksi sekitar 31,98 persen secara year to date. Artinya, indeks masih berada jauh di bawah posisi awal tahun.
Sebelumnya, berbagai sentimen negatif menekan pasar saham Indonesia. Ketegangan geopolitik global, pelemahan rupiah, hingga keluarnya dana asing sempat memicu aksi jual besar-besaran di bursa.
Karena itu, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.
Dana Asing Masih Keluar dari Bursa
Di tengah penguatan IHSG, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net foreign sell.
Sepanjang tahun 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai sekitar Rp64,25 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa dana asing belum sepenuhnya kembali masuk ke pasar saham Indonesia.
Meski demikian, sejumlah analis melihat penguatan IHSG dalam beberapa hari terakhir sebagai sinyal awal pemulihan pasar. Mereka menilai stabilisasi rupiah dan kebijakan ekonomi yang lebih agresif dapat membantu meningkatkan kepercayaan investor.
Optimisme Pasar Mulai Kembali
Penguatan IHSG kali ini memberi harapan baru bagi pelaku pasar modal. Banyak investor mulai melihat peluang setelah harga sejumlah saham unggulan turun cukup dalam selama beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar kembali melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat. Langkah itu ikut mendorong kenaikan indeks secara keseluruhan.
Namun, analis tetap mengingatkan investor untuk memperhatikan manajemen risiko. Volatilitas pasar masih cukup tinggi dan berbagai sentimen global dapat memengaruhi pergerakan IHSG dalam waktu singkat.









