Jambi, Jemarionline.com – Pergerakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Indonesia kembali menarik perhatian pelaku industri. Dua provinsi utama, Jambi dan Riau, mencatat perbedaan harga yang memunculkan diskusi di kalangan petani dan pengamat komoditas.
Perbedaan harga ini tidak hanya mencerminkan kondisi pasar lokal, tetapi juga menunjukkan bagaimana industri sawit Indonesia bergerak mengikuti tekanan global minyak nabati.
Jambi Catat Harga Sawit Lebih Stabil
Di Jambi, harga TBS bergerak relatif stabil meski tetap mengalami fluktuasi kecil. Pada periode terbaru Mei 2026, harga TBS usia produktif 10–20 tahun berada di kisaran Rp3.860 per kilogram.
Pemerintah daerah bersama tim penetapan harga terus memantau pergerakan pasar agar harga tetap sesuai kondisi riil di lapangan. Mereka juga menyesuaikan harga berdasarkan kualitas buah dan rendemen CPO dari pabrik kelapa sawit.
Petani di Jambi merasakan perubahan harga secara bertahap karena sistem penetapan dilakukan secara berkala.
Riau Tawarkan Harga TBS Lebih Tinggi
Riau sebagai sentra utama sawit nasional mencatat harga TBS yang sedikit lebih tinggi dibanding Jambi. Pada periode yang sama, harga di beberapa wilayah Riau berada di kisaran Rp3.900–Rp3.950 per kilogram.
Perusahaan dan pabrik kelapa sawit di Riau menjalankan efisiensi pengolahan yang lebih tinggi sehingga mampu memberikan harga yang lebih kompetitif kepada petani.
Kondisi ini membuat Riau sering menjadi acuan harga sawit di wilayah Sumatra.
Perbedaan Harga Dipengaruhi Struktur Industri
Sejumlah faktor menyebabkan selisih harga antara Jambi dan Riau. Kualitas buah menjadi salah satu faktor utama. Pabrik di Riau mengolah TBS dengan rendemen lebih tinggi sehingga menghasilkan CPO lebih banyak.
Selain itu, biaya distribusi turut memengaruhi harga akhir. Beberapa wilayah Jambi menghadapi jarak lebih jauh ke pabrik pengolahan sehingga biaya angkut meningkat.
Pola kemitraan antara petani dan perusahaan juga menciptakan variasi harga di masing-masing daerah.
Harga CPO Global Menentukan Arah Pasar
Harga minyak sawit mentah atau CPO di pasar global berperan besar dalam menentukan harga TBS di tingkat petani. Ketika harga CPO naik, pabrik biasanya menaikkan harga beli TBS dari petani.
Dalam beberapa periode terakhir, harga CPO nasional bergerak di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Kondisi ini menjaga harga sawit tetap bergerak aktif di berbagai daerah.
Petani Rasakan Dampak Langsung Fluktuasi Harga
Perubahan harga antara Jambi dan Riau berdampak langsung pada pendapatan petani. Petani swadaya merasakan dampak paling cepat ketika harga turun karena mereka tidak memiliki kontrak tetap dengan pabrik.
Sementara itu, petani plasma mendapatkan stabilitas harga yang lebih baik melalui sistem kemitraan dengan perusahaan.
Namun, ketidakpastian harga tetap menjadi tantangan utama di sektor perkebunan sawit.
Pemerintah Daerah Atur Penetapan Harga Berkala
Pemerintah provinsi di Jambi dan Riau menetapkan harga TBS secara berkala melalui tim penetapan harga. Tim ini melibatkan dinas perkebunan, perusahaan, dan perwakilan petani.
Mereka menyesuaikan harga berdasarkan data lapangan, kualitas buah, serta kondisi pasar CPO nasional.
Langkah ini menjaga transparansi harga dan mencegah perbedaan harga yang tidak wajar di tingkat pabrik.
Selisih Harga Pengaruhi Distribusi Pasar
Perbedaan harga antara Jambi dan Riau juga memengaruhi pola distribusi sawit. Petani cenderung memilih menjual ke wilayah dengan harga lebih tinggi jika memungkinkan.
Kondisi ini menciptakan persaingan tidak langsung antar daerah dalam menarik pasokan TBS dari petani.
Prospek Harga Sawit Masih Fluktuatif
Harga sawit diperkirakan masih bergerak fluktuatif mengikuti kondisi pasar global. Permintaan dari negara besar seperti India dan Tiongkok ikut menentukan arah harga CPO.
Selain itu, kebijakan energi nabati dan biodiesel juga berpotensi mendorong kenaikan permintaan sawit di masa depan.









