Selisih Harga Sawit Jambi dan Riau Jadi Sorotan, Ini Rincian Terbaru yang Perlu Diketahui

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 17 Mei 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: TRIBUN JAMBI

Foto: TRIBUN JAMBI

Jambi, Jemarionline.com – Pergerakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Indonesia kembali menarik perhatian pelaku industri. Dua provinsi utama, Jambi dan Riau, mencatat perbedaan harga yang memunculkan diskusi di kalangan petani dan pengamat komoditas.

Perbedaan harga ini tidak hanya mencerminkan kondisi pasar lokal, tetapi juga menunjukkan bagaimana industri sawit Indonesia bergerak mengikuti tekanan global minyak nabati.

Jambi Catat Harga Sawit Lebih Stabil

Di Jambi, harga TBS bergerak relatif stabil meski tetap mengalami fluktuasi kecil. Pada periode terbaru Mei 2026, harga TBS usia produktif 10–20 tahun berada di kisaran Rp3.860 per kilogram.

Pemerintah daerah bersama tim penetapan harga terus memantau pergerakan pasar agar harga tetap sesuai kondisi riil di lapangan. Mereka juga menyesuaikan harga berdasarkan kualitas buah dan rendemen CPO dari pabrik kelapa sawit.

Petani di Jambi merasakan perubahan harga secara bertahap karena sistem penetapan dilakukan secara berkala.

Riau Tawarkan Harga TBS Lebih Tinggi

Riau sebagai sentra utama sawit nasional mencatat harga TBS yang sedikit lebih tinggi dibanding Jambi. Pada periode yang sama, harga di beberapa wilayah Riau berada di kisaran Rp3.900–Rp3.950 per kilogram.

Perusahaan dan pabrik kelapa sawit di Riau menjalankan efisiensi pengolahan yang lebih tinggi sehingga mampu memberikan harga yang lebih kompetitif kepada petani.

Baca Juga :  Tokoh Adat Enam Luhah Siapkan Gelar Kehormatan untuk Wali Kota Alfin

Kondisi ini membuat Riau sering menjadi acuan harga sawit di wilayah Sumatra.

Perbedaan Harga Dipengaruhi Struktur Industri

Sejumlah faktor menyebabkan selisih harga antara Jambi dan Riau. Kualitas buah menjadi salah satu faktor utama. Pabrik di Riau mengolah TBS dengan rendemen lebih tinggi sehingga menghasilkan CPO lebih banyak.

Selain itu, biaya distribusi turut memengaruhi harga akhir. Beberapa wilayah Jambi menghadapi jarak lebih jauh ke pabrik pengolahan sehingga biaya angkut meningkat.

Pola kemitraan antara petani dan perusahaan juga menciptakan variasi harga di masing-masing daerah.

Harga CPO Global Menentukan Arah Pasar

Harga minyak sawit mentah atau CPO di pasar global berperan besar dalam menentukan harga TBS di tingkat petani. Ketika harga CPO naik, pabrik biasanya menaikkan harga beli TBS dari petani.

Dalam beberapa periode terakhir, harga CPO nasional bergerak di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Kondisi ini menjaga harga sawit tetap bergerak aktif di berbagai daerah.

Petani Rasakan Dampak Langsung Fluktuasi Harga

Perubahan harga antara Jambi dan Riau berdampak langsung pada pendapatan petani. Petani swadaya merasakan dampak paling cepat ketika harga turun karena mereka tidak memiliki kontrak tetap dengan pabrik.

Baca Juga :  Gaji PPPK Paruh Waktu di Jambi Dipastikan Dibayar, Plt Kadisdik Umar MY Tegaskan

Sementara itu, petani plasma mendapatkan stabilitas harga yang lebih baik melalui sistem kemitraan dengan perusahaan.

Namun, ketidakpastian harga tetap menjadi tantangan utama di sektor perkebunan sawit.

Pemerintah Daerah Atur Penetapan Harga Berkala

Pemerintah provinsi di Jambi dan Riau menetapkan harga TBS secara berkala melalui tim penetapan harga. Tim ini melibatkan dinas perkebunan, perusahaan, dan perwakilan petani.

Mereka menyesuaikan harga berdasarkan data lapangan, kualitas buah, serta kondisi pasar CPO nasional.

Langkah ini menjaga transparansi harga dan mencegah perbedaan harga yang tidak wajar di tingkat pabrik.

Selisih Harga Pengaruhi Distribusi Pasar

Perbedaan harga antara Jambi dan Riau juga memengaruhi pola distribusi sawit. Petani cenderung memilih menjual ke wilayah dengan harga lebih tinggi jika memungkinkan.

Kondisi ini menciptakan persaingan tidak langsung antar daerah dalam menarik pasokan TBS dari petani.

Prospek Harga Sawit Masih Fluktuatif

Harga sawit diperkirakan masih bergerak fluktuatif mengikuti kondisi pasar global. Permintaan dari negara besar seperti India dan Tiongkok ikut menentukan arah harga CPO.

Selain itu, kebijakan energi nabati dan biodiesel juga berpotensi mendorong kenaikan permintaan sawit di masa depan.

Berita Terkait

Pungli Parkir Merajalela di Sungai Penuh, Warga Desak Pemkot Terapkan Bayar Nontunai
Kemenag Kerinci Gelar Persiapan Duta OMI Tingkat Provinsi
Cek Endra Serahkan SK Golkar Sungai Penuh Kepada Hutri Randa
Kanwil Kemenkum Jambi Mendorong Pelindungan Kekayaan Intelektual Kopi Kerinci Menuju Pasar Global
Festival Kopi Kerinci 2026 Dibuka Bupati Monadi Suguhkan Kopi Gratis
KONI Jambi Beri Penghargaan Atlet Berprestasi di Peringatan Hari Olahraga Nasional 2026
Tolak Blokir Sertifikat Tanah, Warga Kenali Asam Mengadu ke Kanwil KemenHAM Jambi
Perumda Tirta Batanghari Tambah Jam Aliran Air Saat Kemarau
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 12:36 WIB

Pungli Parkir Merajalela di Sungai Penuh, Warga Desak Pemkot Terapkan Bayar Nontunai

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Kemenag Kerinci Gelar Persiapan Duta OMI Tingkat Provinsi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:56 WIB

Cek Endra Serahkan SK Golkar Sungai Penuh Kepada Hutri Randa

Minggu, 20 September 2026 - 20:24 WIB

Kanwil Kemenkum Jambi Mendorong Pelindungan Kekayaan Intelektual Kopi Kerinci Menuju Pasar Global

Minggu, 20 September 2026 - 20:20 WIB

Festival Kopi Kerinci 2026 Dibuka Bupati Monadi Suguhkan Kopi Gratis

Berita Terbaru