Bolehkah Puasa Qadha Digabung dengan Puasa Sunnah?

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 27 Januari 2026 - 11:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilusterasi ( Poto : WIZ)

Ilusterasi ( Poto : WIZ)

Puasa merupakan salah satu ibadah penting dalam Islam, baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Dalam praktik sehari-hari, sering muncul pertanyaan: Bolehkah puasa qadha (puasa wajib yang tertinggal) digabung dengan puasa sunnah? Artikel ini akan membahasnya secara lengkap, berdasarkan sumber-sumber klasik fiqh.

1. Pengertian Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Puasa Qadha adalah puasa wajib yang ditinggalkan, misalnya puasa Ramadhan yang belum dijalankan karena uzur syar’i seperti sakit atau haid. Seorang muslim wajib mengganti puasa yang tertinggal ini sebagai bentuk menunaikan kewajiban.

Puasa Sunnah adalah puasa yang dianjurkan, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Arafah, puasa Daud, atau puasa pada hari-hari tertentu dalam bulan Muharram dan Syawal. Puasa sunnah sifatnya tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan untuk mendapatkan pahala tambahan.

2. Hukum Menggabungkan Puasa Qadha dengan Puasa Sunnah

Para ulama sepakat bahwa puasa qadha boleh digabung dengan puasa sunnah, dengan syarat tertentu. Namun, ada perbedaan kecil terkait niat dan pahala.

a. Pandangan Imam Syafi’i

Menurut Imam Syafi’i dalam al-Umm:

Baca Juga :  Mendes Yandri Dorong Apdesi Sukseskan Program Prabowo

“Puasa wajib yang digabung dengan puasa sunnah sah, dan cukup dengan niat puasa wajib saja. Pahala sunnah akan tetap mengalir, tetapi puasa wajib menjadi prioritas.”
(al-Umm, Jilid 2, hlm. 303)

Artinya, puasa qadha bisa digabung dengan puasa sunnah secara sah, tetapi niatnya harus jelas: fokus pada mengganti yang wajib, pahala sunnah menjadi tambahan.

b. Pandangan Imam Abu Hanifah

Dalam al-Hidayah, Imam Hanafi menyatakan:

“Boleh seseorang menggabungkan puasa wajib dengan puasa sunnah, dan niatnya cukup untuk puasa wajib. Pahala sunnah tetap mengalir tanpa harus memisahkan niat.”
(al-Hidayah, Jilid 1, hlm. 284)

Mazhab Hanafi menekankan kemudahan: penggabungan keduanya tidak membatalkan puasa wajib maupun sunnah.

3. Ketentuan Praktis Menggabungkan Puasa

  1. Niat yang jelas:
    Disarankan berniat puasa qadha sekaligus puasa sunnah di malam hari sebelum fajar.

    Contoh niat:
    “Nawaitu sauma qadhā Ramadhāna hadhihi al-yawm lillahi ta‘ālā wa sunnatan lillahi ta‘ālā.”

  2. Prioritas puasa wajib:
    Fokus utama niat adalah mengganti puasa wajib yang tertinggal.

  3. Kondisi tertentu:

    • Wanita tidak boleh menggabungkan jika sedang haid atau nifas.

    • Jika sedang sakit atau musafir, puasa qadha boleh ditunda sampai mampu.

Baca Juga :  Pesawat ATR 42 Hilang Kontak di Makassar

4. Dalil dari Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang menggabungkan puasa sunnah dengan puasa wajib, maka pahalanya tetap mengalir.”
(Riwayat Abu Dawud, 2446; lihat juga Al-Mughni, Ibn Qudamah, Jilid 3, hlm. 271)

Hadis ini menegaskan bahwa menggabungkan puasa qadha dan sunnah diperbolehkan, dan pahala sunnah tetap diterima.

5. Kesimpulan

  1. Boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa sunnah, baik menurut mazhab Syafi’i maupun Hanafi.

  2. Niat puasa wajib harus jelas, pahala sunnah tetap mengalir meski digabung.

  3. Puasa qadha sebaiknya didahulukan sebagai prioritas.

  4. Tidak diperbolehkan bagi wanita yang sedang haid/nifas.

  5. Dalil dan rujukan terdapat dalam al-Umm, al-Hidayah, dan hadis Abu Dawud.

Dengan demikian, bagi yang memiliki puasa wajib tertinggal, menggabungkannya dengan puasa sunnah adalah cara sah untuk menambah pahala sekaligus menunaikan kewajiban.

Sumber Kitab:

  • Al-Umm, Imam Syafi’i, Jilid 2

  • Al-Hidayah, Imam Abu Hanifah, Jilid 1

  • Al-Mughni, Ibn Qudamah, Jilid 3

  • Sunan Abu Dawud, Hadis No. 2446

Berita Terkait

Mengapa Wahyu Pertama Turun Surat Al-‘Alaq Tidak Surat Yang Lain.?
Al-Qur’an Akan Memberi Syafaat bagi Ahlinya
Menghafal Al-Qur’an Saat Puasa Lebih Mudah Daripada Saat Perut Kenyang
Kapan Orang yang Meninggal Tetap Wajib Dibayarkan Zakat Fitrahnya? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Hadisnya
Tata Cara Pembagian Zakat Fitrah yang Benar Sesuai Syariat Islam
Apakah Rasulullah Pernah Membayar Zakat Fitrah dengan Uang? Ini Penjelasannya
Bayi Lahir Saat atau Setelah Khutbah Idul Fitri, Apakah Wajib Dibayarkan Zakat Fitrah?
Wajib Diketahui: Empat Macam Puasa wajib Ini
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 07:00 WIB

Mengapa Wahyu Pertama Turun Surat Al-‘Alaq Tidak Surat Yang Lain.?

Minggu, 22 Februari 2026 - 12:31 WIB

Al-Qur’an Akan Memberi Syafaat bagi Ahlinya

Minggu, 22 Februari 2026 - 12:22 WIB

Menghafal Al-Qur’an Saat Puasa Lebih Mudah Daripada Saat Perut Kenyang

Minggu, 22 Februari 2026 - 08:00 WIB

Kapan Orang yang Meninggal Tetap Wajib Dibayarkan Zakat Fitrahnya? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Hadisnya

Minggu, 22 Februari 2026 - 07:33 WIB

Tata Cara Pembagian Zakat Fitrah yang Benar Sesuai Syariat Islam

Berita Terbaru