Jakarta, Jemarionline.com – Harga emas Antam diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Sejumlah analis melihat peluang koreksi lanjutan setelah harga emas dunia mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir. Namun, harga emas Antam juga berpotensi kembali menguat apabila sentimen pasar berubah positif.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas Antam masih memiliki kecenderungan melemah seiring tekanan yang terjadi pada harga emas dunia. Menurutnya, koreksi harga masih mungkin terjadi sebelum pasar menemukan titik keseimbangan baru.
Selain itu, pelaku pasar terus memantau perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter yang memengaruhi pergerakan harga emas internasional.
Harga Emas Antam Berpotensi Turun
Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas Antam dapat turun sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per gram dari posisi sebelumnya. Ia mengaitkan potensi penurunan tersebut dengan pelemahan harga emas dunia yang masih berlanjut dalam jangka pendek.
Pada Kamis (4/6/2026), harga emas Antam tercatat turun Rp 15.000 menjadi Rp 2.759.000 per gram. Penurunan itu memperpanjang tren koreksi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Karena itu, investor jangka pendek masih perlu mencermati volatilitas pasar yang cukup tinggi.
Peluang Rebound Masih Terbuka
Meski menghadapi tekanan, Ibrahim melihat peluang rebound tetap terbuka.
Ia memproyeksikan harga emas Antam dapat bergerak menuju level resistance pertama di sekitar Rp 2.819.000 per gram. Jika momentum penguatan berlanjut, harga bahkan berpotensi mendekati resistance kedua di kisaran Rp 2.919.000 per gram.
Selain itu, sejumlah analis menilai tren harga emas dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah berhasil bertahan di area support penting.
Karena itu, investor masih memiliki peluang memperoleh keuntungan apabila harga kembali menguat dalam beberapa pekan ke depan.
Geopolitik Masih Jadi Faktor Utama
Perkembangan geopolitik global tetap menjadi faktor yang sangat memengaruhi harga emas.
Ketegangan di Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, dan kebijakan ekonomi negara-negara besar terus memengaruhi sentimen investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Saat ketidakpastian meningkat, investor biasanya mengalihkan dana ke emas untuk menjaga nilai aset mereka. Sebaliknya, penguatan dolar AS sering memberikan tekanan terhadap harga logam mulia.
Karena itu, arah harga emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan global.
Kinerja Emas Antam Sepanjang 2026
Meski mengalami koreksi dalam beberapa hari terakhir, harga emas Antam masih mencatat kinerja positif sepanjang tahun ini.
Harga emas Antam naik sekitar 10,8 persen dibandingkan posisi awal Januari 2026 yang berada di level Rp 2.488.000 per gram. Sementara itu, rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) tercatat pada 29 Januari 2026 di level Rp 3.168.000 per gram.
Data tersebut menunjukkan bahwa emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang menarik bagi masyarakat.
Investor Jangka Panjang Tetap Optimistis
Sejumlah analis menilai koreksi harga emas saat ini belum mengubah prospek jangka panjang logam mulia.
Kekhawatiran terhadap utang global, inflasi, risiko de-dolarisasi, dan tingginya permintaan emas dari bank sentral masih menjadi faktor pendukung harga emas ke depan.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga dapat meningkatkan minat investor terhadap aset yang dianggap aman.
Karena itu, banyak pelaku pasar masih memandang emas sebagai instrumen investasi yang relevan untuk diversifikasi portofolio. (man)









