Muhadjir Effendy Datangi KPK, Kasus Korupsi Kuota Haji Rp622 Miliar Masuk Babak Baru

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Muhadjir Effendy datang ke KPK untuk menjalani pemeriksaan.( Poto : SindoNews ).

Muhadjir Effendy datang ke KPK untuk menjalani pemeriksaan.( Poto : SindoNews ).

Jakarta, jemarionline.com – Nama Muhadjir Effendy kembali menjadi perhatian publik setelah hadir memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan korupsi kuota haji.

Kedatangan mantan Menteri Agama ad interim 2022 itu menarik sorotan karena sebelumnya ia sempat meminta penundaan pemeriksaan.

Muhadjir tiba di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026) sekitar pukul 17.55 WIB. Ia mengenakan batik lengan panjang dan kopiah hitam saat memasuki gedung pemeriksaan.

Di depan awak media, Muhadjir hanya memberikan komentar singkat sebelum menjalani pemeriksaan.

“Enggak, enggak. Kan sudah diumumin jadwal pemeriksaan,” ujar Muhadjir.

KPK memanggil Muhadjir sebagai saksi untuk menggali informasi terkait tata kelola penyelenggaraan ibadah haji, terutama mengenai pembagian kuota tambahan haji pada periode 2023–2024.

KPK Fokus Dalami Pengelolaan Kuota Haji

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan penyidik membutuhkan keterangan Muhadjir untuk memahami proses penyelenggaraan haji di Kementerian Agama. Penyidik juga ingin mengetahui mekanisme pembagian kuota tambahan yang berlaku saat itu.

Menurut Budi, penyidik terus menelusuri proses distribusi kuota tambahan agar dapat membandingkan praktik di lapangan dengan aturan resmi pemerintah.

“Kalau kita bicara terkait perkara ini, tempus-nya kan 2023–2024. Tentunya bagaimana pengetahuan saksi terkait tata kelola penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama,” kata Budi.

Ia menegaskan penyidik ingin mengetahui alur pembagian kuota tambahan secara detail. Karena itu, setiap keterangan saksi memiliki peran penting dalam penyidikan.

“Karena tentu itu dibutuhkan juga untuk melihat bagaimana proses ataupun mekanisme yang semestinya dilakukan, khususnya terkait dengan pembagian ketika mendapatkan kuota haji tambahan tersebut,” lanjutnya.

Muhadjir pernah menjabat sebagai Menteri Agama ad interim. Posisi itu membuat penyidik menilai keterangannya penting untuk membantu mengurai kebijakan dan mekanisme pengelolaan kuota haji di internal kementerian.

Baca Juga :  Tidak Semua Guru Diangkat PNS, PPPK Jadi Skema Utama ASN

Permintaan Penundaan Sempat Menarik Perhatian

Sebelum memenuhi panggilan KPK, Muhadjir sempat meminta penjadwalan ulang pemeriksaan. Saat itu, KPK bahkan membuka kemungkinan untuk mengubah jadwal pemeriksaan sesuai permintaan tersebut.

Namun, Muhadjir akhirnya tetap datang menjalani pemeriksaan sesuai agenda penyidik.

Kasus dugaan korupsi kuota haji memang terus menyita perhatian masyarakat. Banyak warga mengikuti perkembangan kasus ini karena persoalan haji menyangkut kepentingan jutaan umat Islam di Indonesia.

Setiap tahun, calon jemaah harus menunggu antrean panjang untuk berangkat ke Tanah Suci. Karena itu, masyarakat menuntut pemerintah menjaga transparansi dan keadilan dalam pembagian kuota haji tambahan.

Empat Orang Sudah Menyandang Status Tersangka

KPK terus mengembangkan penyidikan kasus korupsi kuota haji. Dalam perkembangan terbaru, penyidik menetapkan dua tersangka baru, yakni Ismail Adham dan Asrul Azis Taba.

Ismail menjabat sebagai Direktur Operasional PT Makassar Toraja atau Maktour.

Sementara itu, Asrul menduduki posisi Komisaris PT Raudah Eksati Utama sekaligus mantan Ketua Umum Asosiasi Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri).

Meski sudah berstatus tersangka, keduanya belum menjalani penahanan.

Sebelumnya, KPK lebih dulu menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut sebagai tersangka.

Penyidik juga menjerat staf khususnya, Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex, dalam perkara yang sama.

Saat ini, KPK menahan Gus Yaqut dan Gus Alex untuk kepentingan penyidikan lanjutan.

Dengan penambahan dua nama baru, total tersangka dalam kasus dugaan korupsi kuota haji kini mencapai empat orang.

Kerugian Negara Tembus Rp622 Miliar

KPK memperkirakan kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp622 miliar.

Baca Juga :  KPK Dorong Reformasi UU Tipikor untuk Dukung Aksesi OECD

Penyidik menduga praktik penyalahgunaan kewenangan terjadi dalam pengelolaan kuota tambahan haji dan penunjukan pihak tertentu dalam layanan penyelenggaraan ibadah haji.

Nilai kerugian yang sangat besar membuat publik semakin menyoroti tata kelola haji nasional.

Banyak pihak mendesak pemerintah memperbaiki sistem distribusi kuota agar lebih terbuka dan mudah diawasi.

Selain itu, kasus ini juga memicu kekhawatiran masyarakat terhadap integritas pelayanan ibadah haji.

Sebab, masyarakat menilai pengelolaan haji harus mengutamakan keadilan dan kepentingan calon jemaah.

Pengamat kebijakan publik menilai kasus ini dapat menjadi momentum evaluasi besar bagi sistem pengawasan di Kementerian Agama.

Pemerintah dinilai perlu memperkuat transparansi agar praktik titipan kuota maupun penyalahgunaan jabatan tidak kembali terjadi.

Dampak Kasus Korupsi Kuota Haji bagi Masyarakat

Kasus dugaan korupsi kuota haji tidak hanya menimbulkan persoalan hukum, tetapi juga memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan ibadah haji nasional.

Banyak calon jemaah rela menunggu bertahun-tahun demi mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci. Karena itu, dugaan permainan dalam pembagian kuota tambahan memunculkan rasa kecewa di tengah masyarakat.

Jika praktik penyimpangan benar-benar terjadi, maka sebagian calon jemaah berpotensi kehilangan hak keberangkatan yang seharusnya mereka peroleh melalui jalur resmi.

Di sisi lain, KPK memastikan proses penyidikan terus berjalan. Penyidik masih memeriksa saksi, mengumpulkan dokumen, dan memperkuat alat bukti untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat.

Pemeriksaan terhadap Muhadjir Effendy menjadi bagian penting dalam upaya mengurai proses pengambilan keputusan terkait pembagian kuota haji tambahan.

Hingga kini, KPK belum mengungkap jadwal pemeriksaan saksi berikutnya. Namun, publik terus menunggu perkembangan kasus yang menyeret sejumlah tokoh penting tersebut.(ar)

Berita Terkait

Tiga Gubernur Tinjau Penanganan Bencana Gempa Magnitudo 7,7 di NTT
Subsidi Energi Rp 233 Triliun, Konsumsi BBM Naik
KPK Tetapkan Staf Admin Tersangka Pemerasan Bupati Pemalang
Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel
Hasil Survei Capres Terbaru: Dedi Mulyadi Salip Elektabilitas Prabowo Subianto
Rekonstruksi Kasus Santri Terbakar Lombok Ungkap Fakta Baru Soal Kelalaian
Garuda Indonesia Resmi Jadi Holding Maskapai BUMN
Mahkamah Konstitusi Putuskan Sisa Kuota Internet Tidak Hangus
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:35 WIB

Tiga Gubernur Tinjau Penanganan Bencana Gempa Magnitudo 7,7 di NTT

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:26 WIB

Subsidi Energi Rp 233 Triliun, Konsumsi BBM Naik

Senin, 3 Agustus 2026 - 07:36 WIB

KPK Tetapkan Staf Admin Tersangka Pemerasan Bupati Pemalang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel

Kamis, 30 Juli 2026 - 06:00 WIB

Hasil Survei Capres Terbaru: Dedi Mulyadi Salip Elektabilitas Prabowo Subianto

Berita Terbaru