Jambi, jemarionline.com – Pemerintah Provinsi Jambi menetapkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit turun ke level Rp3.860 per kilogram pada periode terbaru tahun 2026. Tim penetapan harga daerah menyesuaikan angka tersebut setelah mereka mengevaluasi kondisi pasar minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Penurunan ini langsung menjadi acuan transaksi di seluruh wilayah perkebunan sawit Jambi, mulai dari petani, pengepul, hingga pabrik pengolahan.
Petani Sawit Rasakan Dampak Langsung
Petani kelapa sawit di berbagai kabupaten Jambi langsung merasakan dampak dari penurunan harga ini. Mereka menjual hasil panen dengan harga lebih rendah dibanding periode sebelumnya, sehingga pendapatan harian ikut turun.
Banyak petani menyebut kondisi ini membuat mereka kesulitan menutup biaya operasional kebun. Harga pupuk, tenaga kerja, dan transportasi tetap tinggi, sementara harga jual TBS justru turun.
Seorang petani di Tanjung Jabung Barat menyampaikan keluhannya.
“Kami tetap keluarkan biaya yang sama, tapi harga jual turun. Jadi hasilnya makin tipis,” katanya.
Pemerintah Gunakan Harga CPO sebagai Acuan
Tim penetapan harga TBS Provinsi Jambi menggunakan harga CPO global sebagai dasar utama dalam menentukan harga TBS di tingkat petani. Mereka mengikuti pergerakan pasar internasional yang memengaruhi nilai komoditas sawit.
Ketika harga CPO turun, pabrik kelapa sawit langsung menyesuaikan harga pembelian TBS dari petani. Kondisi ini kemudian memicu penurunan harga di tingkat perkebunan.
Petani Lakukan Penyesuaian di Lapangan
Sebagian petani mulai menyesuaikan kondisi ini dengan mengatur ulang pengeluaran kebun. Mereka mengurangi frekuensi pemupukan dan menunda beberapa perawatan yang dianggap tidak mendesak.
Beberapa petani juga menahan hasil panen dalam jumlah tertentu untuk menghindari penjualan di harga rendah. Namun mereka tetap menghadapi risiko karena sawit membutuhkan perawatan rutin agar tetap produktif.
Harga Sebelumnya Lebih Tinggi
Pada periode sebelumnya, harga TBS di Jambi bertahan di atas Rp3.900 per kilogram. Bahkan pada kondisi tertentu, harga sempat mendekati Rp4.000 per kilogram untuk tanaman sawit yang sudah produktif.
Namun harga terus bergerak naik turun karena mengikuti kondisi pasar minyak sawit global yang cukup fluktuatif.
Tekanan Ekonomi di Tingkat Desa
Penurunan harga TBS tidak hanya memengaruhi petani, tetapi juga ekonomi desa secara keseluruhan. Banyak desa di Jambi bergantung pada perputaran uang dari sektor perkebunan sawit.
Saat harga turun, daya beli masyarakat ikut melemah. Pedagang kecil di sekitar perkebunan juga merasakan penurunan omzet karena aktivitas ekonomi berkurang.
Industri Sawit Tetap Pantau Pasar
Pelaku industri sawit terus memantau pergerakan harga CPO global. Mereka menilai fluktuasi harga seperti ini masih bagian dari siklus pasar komoditas.
Namun mereka juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga agar petani tidak terus berada dalam tekanan ekonomi.









