Harga Pupuk Sawit Terancam Naik, Dolar AS Tembus Rp17.700 Bikin Petani Jambi Cemas

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani sawit di Jambi membeli pupuk sawit mahal akibat kenaikan dolar AS. ( Poto : Imcnews.id ).

Petani sawit di Jambi membeli pupuk sawit mahal akibat kenaikan dolar AS. ( Poto : Imcnews.id ).

Jambi, jemarionline.com – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menyentuh Rp17.700 mulai memicu kekhawatiran di kalangan petani sawit di Jambi.

Penguatan mata uang asing tersebut dikhawatirkan akan membuat harga pupuk sawit semakin mahal, terutama pupuk nonsubsidi yang selama ini menjadi kebutuhan utama petani kelapa sawit rakyat.

Kondisi itu mulai dirasakan di sejumlah daerah sentra sawit, seperti Kabupaten Batang Hari hingga Tanjung Jabung Barat.

Meski harga tandan buah segar (TBS) sawit masih bertahan cukup baik, para petani mulai waswas terhadap potensi lonjakan biaya produksi jika kurs dolar terus menguat.

Indonesia masih mengimpor beberapa bahan baku pupuk dari luar negeri, seperti kalium atau potash, fosfat, sulfur, hingga amonia.

Ketika dolar AS naik, biaya impor otomatis ikut meningkat. Dampaknya, produsen dan distributor pupuk menyesuaikan harga jual di tingkat pasar.

Situasi ini membuat petani sawit menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi mereka membutuhkan pupuk untuk menjaga produktivitas kebun, namun di sisi lain harga pupuk terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.

Harga Pupuk Sawit Melonjak di Batang Hari

Kenaikan harga pupuk paling terasa di Kabupaten Batang Hari, Jambi. Dalam dua bulan terakhir, sejumlah toko pertanian mulai menaikkan harga berbagai jenis pupuk nonsubsidi.

Di Toko Pertanian Bina Usaha, Kecamatan Muara Bulian, harga pupuk naik cukup signifikan dibanding sebelumnya. Kondisi itu langsung memengaruhi daya beli masyarakat, khususnya petani sawit.

Gina, salah satu karyawan toko, mengatakan kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi sebelum isu penguatan dolar AS ramai dibicarakan. Menurutnya, lonjakan harga mulai muncul ketika harga plastik ikut meningkat beberapa waktu lalu.

“Memang sebelum kabar dolar ini naik, harga pupuk sudah lebih dulu naik. Sekira dua bulan terakhir sejak harga plastik naik, pupuk juga ikut naik. Jika dolar naik, kemungkinan harga naik lagi,” ujarnya.

Saat ini, pupuk NPK Mutiara ukuran 50 kilogram naik dari Rp700 ribu menjadi Rp830 ribu per karung.

Sementara pupuk Urea melonjak dari Rp400 ribu menjadi Rp600 ribu. Adapun pupuk KCL kini dijual sekitar Rp480 ribu dari sebelumnya Rp380 ribu per karung.

Menurut Gina, lonjakan harga kali ini jauh lebih besar dibanding kenaikan normal sebelumnya.

Biasanya harga hanya naik bertahap sekitar Rp2 ribu hingga Rp5 ribu. Namun sekarang, kenaikannya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu rupiah sekaligus.

Baca Juga :  Hari Otonomi Daerah 2026, Pemkot Sungai Penuh Tegaskan Inovasi Daerah dan Perkuat Pelayanan Publik

“Kalau biasanya naik sedikit-sedikit, sekarang naiknya bisa sampai puluhan ribu. Memang ini sudah ganti harga, bukan naik biasa lagi,” katanya.

Pembelian Pupuk Menurun Drastis

Mahalnya harga pupuk membuat petani mulai mengurangi pembelian. Banyak pembeli datang ke toko hanya untuk menanyakan harga sebelum akhirnya memutuskan membeli dalam jumlah lebih sedikit.

Pantauan di toko pertanian tersebut menunjukkan aktivitas penjualan menurun cukup tajam setelah harga pupuk melonjak. Jika sebelumnya toko mampu menjual hingga 10 karung per hari, kini penjualan hanya berkisar dua karung per hari.

“Pembeli banyak yang mengeluh. Ada juga yang bilang kenapa naiknya cepat sekali,” tutur Gina.

Ia berharap harga pupuk dapat kembali stabil agar petani dan pedagang tidak semakin terbebani oleh kondisi ekonomi saat ini.

“Kalau harga terus seperti ini, bukan pembeli saja yang tertekan, pedagang juga ikut susah,” ungkapnya.

Saat ini petani sawit juga tidak lagi mendapatkan pupuk subsidi dari pemerintah. Kelapa sawit tidak masuk dalam daftar komoditas strategis penerima subsidi pupuk. Akibatnya, petani harus membeli pupuk nonsubsidi dengan harga pasar yang terus bergerak naik.

Petani Sawit Khawatir Produktivitas Kebun Menurun

Petani sawit di Kecamatan Muara Bulian, Rudi, mengaku mulai cemas terhadap dampak penguatan dolar AS. Menurutnya, kenaikan kurs mata uang asing hampir selalu diikuti kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya produksi pertanian.

“Kalau dolar terus naik, pasti harga lainnya ikut naik juga, termasuk pupuk,” katanya.

Saat ini harga sawit di tingkat petani berada di kisaran Rp2.700 hingga Rp2.800 per kilogram. Angka tersebut memang naik dibanding sebelumnya yang berkisar Rp2.500 hingga Rp2.600 per kilogram.

Namun, harga itu masih lebih rendah dibanding harga di tingkat RAM sawit atau loading ramp yang sudah mencapai Rp3.050 per kilogram.

RAM sawit merupakan tempat penampungan dan transaksi jual beli tandan buah segar dari petani sebelum dikirim ke pabrik kelapa sawit. Perbedaan harga ini membuat keuntungan petani tidak terlalu besar setelah dipotong biaya angkut dan operasional kebun.

Bagi petani, pupuk menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas tanaman sawit. Jika pemupukan berkurang akibat harga mahal, produksi buah sawit berpotensi turun dalam jangka panjang.

Selain itu, kondisi ini juga dapat memengaruhi pendapatan petani kecil yang sangat bergantung pada hasil panen sawit setiap bulan.

Baca Juga :  ASN dan Poligami: Aturan Hukum dan Sorotan Publik Karena Kasus Perselingkuhan

Petani Tanjab Barat Belum Rasakan Dampak Langsung

Berbeda dengan kondisi di Batang Hari, sebagian petani sawit di Kecamatan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, mengaku belum merasakan dampak langsung dari kenaikan dolar AS.

Agus, petani sawit asal Merlung, mengatakan aktivitas penjualan TBS sawit masih berjalan normal. Harga jual di tingkat petani juga belum mengalami perubahan signifikan.

“Belum ada dampaknya. Harga sawit masih normal seperti biasa, mungkin baru naik dolarnya ya, belum ada dampaknya,” ujarnya.

Saat ini harga TBS sawit di wilayah Merlung berada di kisaran Rp3.200 per kilogram. Harga tersebut bergantung pada usia tanaman dan kualitas buah sawit yang dipanen.

Agus juga menyebut kenaikan dolar belum memengaruhi biaya operasional kebun maupun upah pekerja panen. Sistem pembayaran upah masih berjalan seperti biasa berdasarkan jumlah hasil panen.

“Upah panen masih tetap seperti biasa, tidak ada kenaikan atau penurunan,” katanya.

Meski demikian, ia meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap mahalnya harga pupuk yang sudah lama membebani petani sawit.

Di wilayah Merlung, harga pupuk NPK Mutiara ukuran 50 kilogram mencapai Rp800 ribu per karung. Sementara pupuk Urea berada di kisaran Rp450 ribu hingga Rp500 ribu per karung.

“Harga pupuk mahal sekali. Padahal pupuk sangat penting untuk pertumbuhan sawit. Kalau tidak rutin dipupuk, buah sawit jadi sedikit,” ujarnya.

Menurut Agus, tanaman kelapa sawit idealnya mendapat pemupukan tiga kali dalam setahun dengan dosis sesuai usia tanaman.

Langkah itu penting agar produksi buah tetap optimal dan kualitas panen terjaga.

Penguatan Dolar Bisa Tekan Sektor Perkebunan

Penguatan dolar AS tidak hanya berdampak pada harga pupuk, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai distribusi sektor perkebunan secara keseluruhan.

Jika harga pupuk terus naik, biaya produksi sawit rakyat akan semakin besar.

Kondisi ini bisa membuat petani mengurangi penggunaan pupuk demi menekan pengeluaran.

Dalam jangka panjang, produktivitas kebun sawit rakyat berisiko menurun dan berdampak pada pendapatan masyarakat di daerah sentra perkebunan.

Karena itu, petani berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga pupuk sekaligus memperkuat pasokan bahan baku dalam negeri agar sektor perkebunan tidak terlalu bergantung pada impor.(ar)

Berita Terkait

Tirta Mayang dan IAIMA Jambi Teken MoU Kolaborasi Baru
Pria di Batang Hari Bawa Koper Rp230 Juta, Ternyata Uang Mainan
UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional
Warga SAD Demo di Merangin, Protes Bantuan Tak Merata
Hakim Jatuhkan Vonis 5 Terdakwa Kredit BNI PT PAL Jambi
Serapan APBD Tebo Baru 25 Persen, PAD Justru Naik
Empat Raperbup Batang Hari Dibahas di Kemenkum Jambi
Perancang Hukum Jambi Jalani Uji Kompetensi Naik ke Madya
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 21:00 WIB

Tirta Mayang dan IAIMA Jambi Teken MoU Kolaborasi Baru

Kamis, 21 Mei 2026 - 20:00 WIB

Pria di Batang Hari Bawa Koper Rp230 Juta, Ternyata Uang Mainan

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:00 WIB

UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:00 WIB

Warga SAD Demo di Merangin, Protes Bantuan Tak Merata

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:00 WIB

Hakim Jatuhkan Vonis 5 Terdakwa Kredit BNI PT PAL Jambi

Berita Terbaru

“Kalau terbukti, ya kami tindak,” kata Purbaya di Jakarta Pusat, Kamis (21/5).( Poto : istimewa )

Pemerintahan

Purbaya Siap Copot Dirjen Bea Cukai Jika Terbukti Terima Suap

Kamis, 21 Mei 2026 - 22:00 WIB

Perumda Air Minum Tirta Mayang Kota Jambi dan Institut Agama Islam Muhammad Azim (IAIMA) Jambi melalui penandatanganan MoU di Aula Griya Mayang, Kamis (21/05/2026).( Poto : JAMBIlink).

Daerah

Tirta Mayang dan IAIMA Jambi Teken MoU Kolaborasi Baru

Kamis, 21 Mei 2026 - 21:00 WIB

UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional ( Poto : JambiPrima.com ).

Daerah

UKW Jambi ke-13 Dorong Wartawan Lebih Profesional

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:00 WIB

Ratusan warga Suku Anak Dalam (SAD) menggelar aksi di Kantor Bupati Merangin, Kamis (21/05/2026).( Poto : JambiPrima.com).

Daerah

Warga SAD Demo di Merangin, Protes Bantuan Tak Merata

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:00 WIB