Harga Emas Berbalik Naik, Kabar Baik dari Timur Tengah Angkat Sentimen Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi emas. (Treasury)

Ilustrasi emas. (Treasury)

Jakarta, Jemarionline.com Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (4/6/2026) setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa sesi sebelumnya. Pelemahan dolar Amerika Serikat dan membaiknya situasi geopolitik di Timur Tengah mendorong investor kembali masuk ke pasar logam mulia. Harga emas spot naik sekitar 0,76% ke level US$ 4.468,9 per ons troi, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,59% ke US$ 4.492,8 per ons troi.

Penguatan tersebut memberi sinyal bahwa pasar mulai kembali melirik emas sebagai aset pelindung nilai. Selain itu, sejumlah analis melihat peluang penguatan lanjutan apabila sentimen global tetap mendukung pergerakan logam mulia.

Karena itu, pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi harga emas dalam jangka pendek.

Dolar AS Melemah, Emas Kembali Bersinar

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas.

Ketika nilai dolar turun, investor yang memegang mata uang lain dapat membeli emas dengan biaya yang lebih murah. Kondisi tersebut biasanya meningkatkan permintaan dan mendukung kenaikan harga logam mulia.

Selain itu, pergerakan dolar yang lebih lemah sering kali mendorong investor mencari alternatif investasi yang mampu menjaga nilai aset mereka.

Karena itu, emas kembali memperoleh dukungan dari pasar global setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga :  IHSG Turun 1%, Pasar Saham Tertekan di Awal Perdagangan

Kabar Baik dari Timur Tengah Dongkrak Optimisme

Sentimen positif juga datang dari perkembangan terbaru di Timur Tengah.

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah mencapai kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri permusuhan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Perkembangan tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap stabilitas kawasan dan membuka peluang tercapainya penyelesaian konflik yang lebih luas.

Selain itu, pasar juga melihat kemungkinan membaiknya hubungan dengan Iran apabila proses diplomasi terus berjalan.

Karena itu, investor mulai merespons positif perkembangan tersebut dan meningkatkan aktivitas perdagangan di pasar komoditas.

Harga Minyak Turun, Tekanan Inflasi Mereda

Meredanya ketegangan di Timur Tengah juga berdampak pada harga minyak dunia.

Pelaku pasar memperkirakan pasokan energi global akan lebih stabil apabila konflik tidak meluas. Akibatnya, harga minyak mengalami penurunan dan membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Selain itu, inflasi yang lebih terkendali dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengambil kebijakan yang lebih fleksibel.

Karena itu, kondisi tersebut ikut memperkuat sentimen positif terhadap pasar keuangan dan komoditas.

Analis Lihat Sinyal Pembalikan Tren

Sejumlah analis menilai harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah setelah mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menjelaskan bahwa harga emas berhasil bertahan di area support penting sekitar US$ 4.430 per ons troi. Setelah menyentuh level tersebut, pasar mulai menunjukkan minat beli yang cukup kuat.

Baca Juga :  Pemerintah Buka Opsi Batalkan Haji 2026, Ini Skenario Mitigasi yang Disiapkan

Selain itu, pola teknikal yang terbentuk juga mengindikasikan potensi penguatan lebih lanjut apabila momentum positif terus berlanjut.

Karena itu, sejumlah pelaku pasar mulai kembali melakukan akumulasi emas.

Investor Kembali Melirik Safe Haven

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas tetap menjadi salah satu aset safe haven yang paling diminati investor.

Logam mulia ini sering menjadi pilihan ketika pasar menghadapi risiko geopolitik, gejolak ekonomi, atau ketidakpastian kebijakan moneter. Selain itu, banyak bank sentral di berbagai negara terus menambah cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.

Karena itu, permintaan jangka panjang terhadap emas masih menunjukkan tren yang positif.

Prospek Emas Masih Menarik

Meskipun harga emas sempat terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir, banyak analis masih melihat prospek yang menarik untuk jangka menengah dan panjang.

Kekhawatiran terhadap utang global, risiko de-dolarisasi, inflasi, dan permintaan dari bank sentral masih menjadi faktor yang mendukung harga emas. Selain itu, investor jangka panjang tetap aktif melakukan pembelian ketika harga mengalami koreksi.

Karena itu, sejumlah pengamat menilai tren bullish emas belum berakhir sepenuhnya. (man)

Berita Terkait

Rekomendasi Saham Bareksa: BBNI, JSMR, dan INTP Diproyeksi Menguat Seiring Rebound IHSG
GOTO Buka Suara Usai Saham Didepak FTSE Russell dan Terancam Keluar dari Indeks MSCI
IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Kembali Dekati Zona Pandemi
Bitcoin Turun ke Level 70.000 Dollar AS, Tekanan Datang dari Strategy dan Ketidakpastian Iran
OJK Dorong Penguatan BPR dan BPRS Lewat Roadmap 2024–2027 untuk Dukung UMKM
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 25.000, Tinggalkan Level Rp 2,8 Juta
Impor Indonesia Naik 13,40% Januari–April 2026, Bahan Baku Jadi Pendorong Utama
Profitabilitas Asuransi Umum dan Reasuransi Tetap Kuat di Awal 2026, Laba Capai Rp4,22 Triliun
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:00 WIB

Harga Emas Berbalik Naik, Kabar Baik dari Timur Tengah Angkat Sentimen Pasar

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Rekomendasi Saham Bareksa: BBNI, JSMR, dan INTP Diproyeksi Menguat Seiring Rebound IHSG

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:00 WIB

GOTO Buka Suara Usai Saham Didepak FTSE Russell dan Terancam Keluar dari Indeks MSCI

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:00 WIB

IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Kembali Dekati Zona Pandemi

Rabu, 3 Juni 2026 - 11:00 WIB

Bitcoin Turun ke Level 70.000 Dollar AS, Tekanan Datang dari Strategy dan Ketidakpastian Iran

Berita Terbaru