Jawa Timur, jemarionline.com – Siaga kekeringan Jawa Timur mulai diberlakukan di sejumlah wilayah pada awal musim kemarau 2026 seiring meningkatnya potensi krisis air bersih di berbagai daerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur mencatat beberapa kabupaten mulai menunjukkan penurunan pasokan air dan langsung meningkatkan status kewaspadaan untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Bondowoso Ajukan Bantuan dan Langsung Terima Distribusi Air
Kabupaten Bondowoso menjadi daerah pertama yang mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada pemerintah provinsi setelah beberapa desa mulai kesulitan mendapatkan pasokan air.
Menindaklanjuti permintaan tersebut, BPBD Jawa Timur segera mengirimkan 10.000 liter air bersih atau setara dua truk tangki ke wilayah terdampak.
Tim lapangan kemudian menyalurkan air ke tiga dusun, yaitu Dusun Banteng Lor, Dusun Sumberwaru, dan Dusun Banteng Duk Betok.
Petugas distribusi air melayani sekitar 140 kepala keluarga yang mulai mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air harian.
Pemerintah daerah juga memperketat pemantauan wilayah lain untuk mencegah perluasan dampak kekeringan.
Kekeringan Berpotensi Meluas Hingga Ratusan Desa
Hasil pemetaan BPBD Jawa Timur menunjukkan potensi kekeringan pada 2026 dapat menjangkau hingga 916 desa di 29 kabupaten/kota.
Lembaga ini menilai musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih panas dibanding tahun sebelumnya.
Sejumlah wilayah seperti Bojonegoro, Pacitan, Trenggalek, Pasuruan, Jombang, dan Pulau Madura kembali masuk kategori rawan kekeringan.
Wilayah tersebut secara rutin menghadapi penurunan debit air saat musim kemarau tiba.
Pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kota meningkatkan kesiapsiagaan sejak awal agar mereka dapat merespons cepat jika krisis air bersih mulai muncul.
BPBD Siapkan Armada dan Infrastruktur Air Bersih
BPBD Jawa Timur mengerahkan armada truk tangki dalam jumlah besar untuk mendistribusikan air ke wilayah terdampak.
Tim distribusi melakukan pengiriman air secara bertahap sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
Selain itu, BPBD juga membagikan tandon air portable, tandon lipat, jeriken, dan kolam air terpal kepada masyarakat di desa rawan kekeringan.
Peralatan ini membantu warga menyimpan air lebih lama dan mengurangi ketergantungan pada distribusi harian.
Langkah tersebut memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau yang di prediksi berlangsung lebih ekstrem.
Operasi Modifikasi Cuaca Sudah Siap Jika Krisis Memburuk
Jika kondisi kekeringan semakin parah, BPBD Jawa Timur menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan.
Tim teknis akan menyemai bahan khusus ke awan agar proses pembentukan hujan dapat terjadi di wilayah tertentu.
Fokus OMC diarahkan ke daerah tangkapan air dan kawasan waduk yang mendukung irigasi pertanian.
Pemerintah berharap langkah ini mampu menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian.(ar)









