Jemarionline.com – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya. Ia menyampaikan hal tersebut setelah rapat terbatas bersama Presiden di Istana Negara.
Perry menegaskan bahwa kondisi ini tidak mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Ia menyebut ekonomi domestik tetap solid dengan pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, dan sistem keuangan yang terjaga.
“Rupiah saat ini undervalued,” kata Perry.
Tekanan Rupiah Berasal dari Faktor Eksternal
Bank Indonesia melihat tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor global. Kenaikan suku bunga Amerika Serikat, ketidakpastian pasar keuangan, serta tensi geopolitik mendorong investor global mencari aset yang lebih aman.
Selain itu, kebutuhan impor dan permintaan dolar AS dalam periode tertentu juga ikut menekan rupiah.
Kondisi ini membuat rupiah melemah, meskipun ekonomi domestik tetap menunjukkan kinerja yang baik.
BI Jalankan 7 Strategi untuk Menguatkan Rupiah
Untuk menjaga stabilitas dan mendorong penguatan nilai tukar, Bank Indonesia menjalankan tujuh strategi utama:
1. Intervensi Pasar Valas
BI aktif masuk ke pasar valuta asing untuk menjaga keseimbangan supply dan demand. Langkah ini membantu meredam gejolak yang berlebihan.
2. Optimalkan Kebijakan Moneter
BI mengelola suku bunga dan likuiditas agar tetap mendukung stabilitas rupiah sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi.
3. Dorong Arus Modal Masuk
Bank Indonesia meningkatkan daya tarik investasi agar modal asing terus masuk ke dalam negeri.
4. Perkuat Koordinasi dengan Pemerintah
BI bekerja sama dengan pemerintah untuk menjaga keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter.
5. Jaga Likuiditas Pasar
BI memastikan likuiditas tetap cukup agar pasar keuangan berjalan stabil tanpa tekanan berlebih.
6. Kembangkan Pasar Keuangan
BI terus memperluas instrumen keuangan domestik agar investor memiliki lebih banyak pilihan.
7. Kendalikan Permintaan Dolar
BI mengatur kebijakan devisa untuk menekan permintaan dolar AS yang berlebihan.
Cadangan Devisa Jadi Andalan
Bank Indonesia memanfaatkan cadangan devisa sebagai alat utama untuk menjaga stabilitas rupiah. Dengan cadangan yang kuat, BI dapat melakukan intervensi secara terukur saat pasar bergejolak.
Perry menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia berada pada level yang aman dan cukup untuk menghadapi tekanan eksternal.
Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
Sejumlah indikator menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen, inflasi terkendali, dan sektor perbankan mencatat pertumbuhan kredit yang positif.
Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa rupiah memiliki potensi untuk kembali ke level yang lebih kuat.
Rupiah Berpeluang Menguat
Dengan strategi yang dijalankan, Bank Indonesia optimistis rupiah akan menguat secara bertahap. Banyak analis juga melihat kondisi undervalued sebagai peluang bagi penguatan di masa depan.
Ketika tekanan global mereda, rupiah berpotensi naik lebih cepat karena didukung fundamental yang solid.
Investor Perlu Tetap Waspada
Meski prospek terlihat positif, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan global. Perubahan kebijakan suku bunga, konflik geopolitik, dan arus modal dapat memengaruhi pergerakan rupiah.
Karena itu, investor perlu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan risiko dan peluang secara seimbang.









