BI merespons pelemahan Rupiah ke Rp17.400. Simak langkah intervensi dan analisis dampaknya di sini.

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

(Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

JAKARTA, Jemarionline.com– Bank Indonesia (BI) segera merespons pelemahan nilai tukar Rupiah. Mata uang Garuda menyentuh level Rp17.400 per Dolar AS pada Selasa (5/5/2026). Otoritas moneter berjanji mengoptimalkan seluruh instrumen untuk menjaga stabilitas nasional.Pelemahan tajam ini memicu perhatian serius berbagai kalangan. BI mengonfirmasi bahwa dinamika global menjadi penyebab utama volatilitas ini. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia tetap dinilai solid dan tahan uji.

Langkah Strategis Bank Indonesia

BI kini mengaktifkan mekanisme intervensi pasar valuta asing. Langkah ini bertujuan menyeimbangkan suplai dan permintaan dolar di pasar domestik. Pemerintah ingin mencegah efek bola salju yang merugikan ekonomi.

“Kami berkomitmen penuh menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. BI melakukan intervensi terukur di pasar spot dan DNDF,” tegas juru bicara BI.

Baca Juga :  Rupiah Melemah, OJK Sebut Perbankan Masih Aman tapi Waspadai Risiko Ini

Otoritas juga mengawasi pergerakan modal asing secara ketat. Mereka memastikan mekanisme pasar tetap efisien tanpa spekulasi yang merusak.

Faktor Eksternal Jadi Pemicu

Tekanan terhadap Rupiah bersumber dari kondisi ekonomi Amerika Serikat. Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve memicu aliran modal keluar (capital outflow). Akibatnya, banyak mata uang negara berkembang mengalami depresiasi.

Ketegangan geopolitik global juga memperburuk sentimen pasar. Investor cenderung beralih ke aset aman seperti Dolar AS. Hal ini memaksa bank sentral dunia bekerja ekstra keras melindungi mata uangnya.

Dampak Bagi Industri dan Masyarakat

Angka Rp17.400 berdampak langsung pada biaya produksi dalam negeri. Industri manufaktur yang bergantung pada bahan impor mulai merasa tertekan. Kenaikan biaya logistik dikhawatirkan memicu inflasi di tingkat konsumen.“Kami berharap BI segera menstabilkan nilai tukar ini. Beban operasional industri manufaktur bisa naik signifikan,” ujar seorang pengamat ekonomi.

Baca Juga :  Bank Indonesia: Utang Luar Negeri RI Menurun ke US$423,8 Miliar

Proyeksi Stabilisasi EkonomiBI tetap optimis Rupiah akan kembali ke titik keseimbangan. Cadangan devisa saat ini masih cukup untuk langkah stabilisasi jangka menengah. Selain itu, kinerja ekspor yang positif membantu pasokan valas domestik.

Pemerintah juga mempercepat kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Tujuannya agar dolar hasil ekspor tetap parkir di perbankan nasional. Sinergi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci menghadapi badai volatilitas.

Hingga sore, intervensi BI mulai menstabilkan pergerakan pasar. Pelaku pasar diminta tetap fokus pada fundamental bisnis. Koordinasi KSSK akan terus diperkuat untuk menjaga sistem keuangan nasional.

Berita Terkait

Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel
Daftar Harga BBM Terbaru di Semua SPBU Berlaku Agustus 2026
Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak
Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar
OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia
Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo 7 Juli 2026, Cek Daftar Terbarunya
Purbaya: Ekonomi Indonesia Terus Membaik, MBG Jadi Fondasi Pertumbuhan
PPN Strava Premium Berlaku, DJP Jelaskan Pengguna yang Kena Pajak
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Pengemudi Nilai BBM B50 Tetap Nyaman untuk Kendaraan Diesel

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Daftar Harga BBM Terbaru di Semua SPBU Berlaku Agustus 2026

Selasa, 14 Juli 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Pasar Keuangan Bergejolak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00 WIB

Rupiah Ditutup Menguat, Optimisme IMF Dorong Sentimen Pasar

Kamis, 9 Juli 2026 - 11:00 WIB

OJK Bantah Bank Asing Tarik Dana Besar-Besaran dari Indonesia

Berita Terbaru