Jemarionline.com, Jakarta – Tanker minyak milik PT Pertamina International Shipping, Pertamina Pride, dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Persia dan belum berhasil melintasi Selat Hormuz hingga awal April 2026.
Padahal, kapal tersebut sebelumnya dijadwalkan tiba di Cilacap, Jawa Tengah pada 2 April 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Namun, berdasarkan data pelacakan kapal terbaru, posisi Pertamina Pride masih berada di sekitar perairan Timur Tengah.
Dampak Ketegangan di Selat Hormuz
Keterlambatan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia, khususnya di jalur vital Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, akses pelayaran di wilayah ini sempat terganggu akibat konflik yang melibatkan Iran dan negara-negara lain.
Kondisi tersebut membuat banyak kapal tanker, termasuk milik Indonesia, harus menunda perjalanan atau menunggu izin untuk melintas demi alasan keamanan.
Kapal Lain Juga Terdampak
Tidak hanya Pertamina Pride, kapal tanker lain milik Indonesia seperti Gamsunoro juga mengalami kendala serupa.
Kedua kapal tersebut sempat tertahan dan harus menunggu perkembangan situasi serta kepastian izin melintas dari otoritas setempat.
Upaya Diplomasi Pemerintah
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Pertamina terus melakukan komunikasi intensif dengan pihak Iran guna memastikan keselamatan kapal dan awak.
Upaya diplomasi tersebut membuahkan hasil, di mana kapal-kapal Indonesia akhirnya mendapatkan izin untuk melintasi Selat Hormuz, meski tetap dalam pengawasan ketat.
Dampak ke Pasokan Energi
Tertahannya kapal tanker ini berpotensi memengaruhi distribusi minyak ke dalam negeri, terutama jika keterlambatan berlangsung lama.
Selain itu, gangguan di Selat Hormuz juga berdampak secara global, antara lain:
- Penurunan distribusi minyak dunia
- Lonjakan harga energi
- Gangguan rantai pasok internasional









