Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong peningkatan kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa membebani anggaran. Kepala BGN, Dadan Hindayana, secara terbuka menantang para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menghadirkan sajian berkualitas tinggi dengan biaya tetap terjangkau.
Menurut Dadan, setiap porsi makanan dalam program MBG ditargetkan memiliki standar rasa dan tampilan layaknya hidangan “bintang lima”, meski anggaran yang disediakan hanya Rp10.000 per porsi.
Kualitas Tak Harus Mahal
Ia menegaskan bahwa keterbatasan biaya bukan alasan untuk menurunkan mutu makanan. Justru, kondisi tersebut diharapkan memacu kreativitas para penyedia layanan dalam mengolah bahan pangan menjadi menu bergizi, lezat, dan menarik.
“Yang penting bukan mahalnya bahan, tapi bagaimana mengolahnya dengan baik,” menjadi pesan utama dalam dorongan tersebut.
Efisiensi dan Manajemen Jadi Kunci
BGN menilai bahwa kunci utama untuk mencapai target tersebut terletak pada pengelolaan yang efisien. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan harus dilakukan secara tepat agar tidak terjadi pemborosan.
Selain itu, pola kerja sama dengan SPPG dinilai mampu menekan biaya operasional dibandingkan jika seluruh proses ditangani langsung oleh pemerintah.
Tantangan untuk Tingkatkan Standar Gizi
Tantangan ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk meningkatkan standar layanan dalam program MBG. Pemerintah berharap, selain memenuhi kebutuhan gizi, makanan yang disajikan juga mampu memberikan pengalaman makan yang lebih baik bagi masyarakat.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari upaya nasional dalam memperbaiki kualitas gizi, khususnya bagi kelompok yang membutuhkan, seperti anak-anak dan masyarakat rentan.









