Apakah Bersentuhan Kulit Mertua dan Menantu, Batal Wudhu?

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 10 Februari 2026 - 07:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Newlyweds hands affectionate touch each other

Newlyweds hands affectionate touch each other

Jemarionline.com – Dalam praktik ibadah sehari-hari, sering muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai hukum bersentuhan kulit antara mertua dan menantu, khususnya apakah hal tersebut membatalkan wudhu atau tidak. Perbedaan pendapat ulama dalam mazhab fikih menjadi dasar munculnya ragam pandangan terkait persoalan ini.

Pengertian Mahram dalam Islam

Mahram adalah orang yang haram dinikahi secara permanen karena hubungan nasab, persusuan, atau pernikahan. Dalam konteks pernikahan, mertua dan menantu termasuk mahram muabbad, artinya haram dinikahi untuk selamanya. Contohnya, ayah mertua dengan menantu perempuan, atau ibu mertua dengan menantu laki-laki.

Pendapat Ulama tentang Bersentuhan Kulit

Hukum batal atau tidaknya wudhu akibat bersentuhan kulit berbeda-beda menurut mazhab fikih:

  1. Mazhab Syafi’i
    Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang sudah baligh membatalkan wudhu, meskipun keduanya mahram, selama terjadi sentuhan langsung tanpa penghalang dan bukan dengan rambut atau kuku. Dalam mazhab ini, sentuhan antara mertua dan menantu tetap membatalkan wudhu.

  2. Mazhab Hanafi
    Bersentuhan kulit tidak membatalkan wudhu, kecuali disertai keluarnya sesuatu dari anggota tubuh. Sentuhan biasa antara mertua dan menantu tidak memengaruhi keabsahan wudhu.

  3. Mazhab Maliki
    Wudhu batal jika sentuhan disertai dengan syahwat. Jika tidak ada unsur syahwat, maka wudhu tetap sah, termasuk dalam kasus sentuhan antara mertua dan menantu.

  4. Mazhab Hanbali
    Mazhab ini sejalan dengan pendapat Maliki, yakni wudhu batal apabila sentuhan menimbulkan syahwat. Tanpa adanya syahwat, wudhu tidak batal.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Penyangga, Tiang di Masjidil Haram Punya Peran Penting bagi Jemaah

Kesimpulan

Menurut Mazhab Syafi’i, bersentuhan kulit antara mertua dan menantu membatalkan wudhu.
Menurut Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, bersentuhan tersebut tidak membatalkan wudhu, kecuali jika disertai syahwat menurut Maliki dan Hanbali.
Umat Islam dianjurkan mengikuti mazhab yang diyakini atau yang berlaku di lingkungan masing-masing untuk menjaga kehati-hatian dalam beribadah.

Baca Juga :  Lebaran 2026 Hari Apa? Ini Prediksi Pemerintah dan Muhammadiyah

Sumber Rujukan :

Al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Juz 2
Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz 1
Ibn Qudamah, Al-Mughni, Juz 1
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid 1
Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah

Berita Terkait

Masjid Indonesia di Jepang Jadi Pusat Dakwah Baru
Panduan Sholat Tahajjud, Ibadah Malam yang Penuh Keutamaan
Tata Cara Sholat Taubat Lengkap Beserta Doanya
Salat di Dekat Kuburan, Bolehkah? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Cara Nabi Muhammad Merayakan Lebaran: Sederhana Tanpa THR dan Baju Baru
Bukan Sekadar Penyangga, Tiang di Masjidil Haram Punya Peran Penting bagi Jemaah
Masjidil Haram Padat di Akhir Ramadan, Jemaah Diminta Hafalkan Nama Pintu
Lebaran 2026 Hari Apa? Ini Prediksi Pemerintah dan Muhammadiyah
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 19:00 WIB

Masjid Indonesia di Jepang Jadi Pusat Dakwah Baru

Jumat, 3 April 2026 - 06:00 WIB

Panduan Sholat Tahajjud, Ibadah Malam yang Penuh Keutamaan

Kamis, 2 April 2026 - 12:00 WIB

Tata Cara Sholat Taubat Lengkap Beserta Doanya

Rabu, 1 April 2026 - 07:00 WIB

Salat di Dekat Kuburan, Bolehkah? Ini Penjelasan Muhammadiyah

Senin, 23 Maret 2026 - 06:59 WIB

Cara Nabi Muhammad Merayakan Lebaran: Sederhana Tanpa THR dan Baju Baru

Berita Terbaru

Masjid Indonesia di Jepang Jadi Pusat Dakwah Baru (dok.Mozaik Islam-Inilah.com)

Islami

Masjid Indonesia di Jepang Jadi Pusat Dakwah Baru

Minggu, 12 Apr 2026 - 19:00 WIB