Jemarionline – Gunung es raksasa A23a di Antartika kini menunjukkan perubahan warna menjadi biru cerah, fenomena yang dikenal sebagai ‘blue mush’. Perubahan ini menandai proses pencairan dan fragmentasi yang semakin cepat setelah bongkahan es tersebut mengambang di Samudra Selatan hampir empat dekade.
A23a pertama kali terlepas dari Filchner-Ronne Ice Shelf pada 1986 dan sempat terperangkap di dasar laut selama bertahun-tahun. Setelah akhirnya bebas sekitar tahun 2020, gunung es ini mulai terapung bebas, berputar mengikuti arus laut, dan perlahan menjauh dari benua es. Selama perjalanannya, bongkahan es ini terus mengalami perubahan bentuk akibat gesekan dengan air laut, angin, dan suhu yang lebih hangat.
Fenomena Blue Mush
Foto satelit NASA Terra yang diambil pada 26 Desember 2025 menunjukkan permukaan A23a dipenuhi kolam air lelehan berwarna biru cerah. Lapisan air ini terbentuk ketika es di permukaan kehilangan struktur padatnya, sehingga air mencair menumpuk di cekungan kecil pada bongkahan es.
“Kolom air yang terlihat menunjukkan bahwa struktur es sudah melemah secara signifikan dan proses pecahnya gunung es terus dipercepat,” kata Ted Scambos, ilmuwan iklim dari University of Colorado Boulder, dikutip dari Live Science. Fenomena ini merupakan indikator bahwa A23a sudah memasuki fase akhir kehidupannya sebagai bongkahan es raksasa.
Menurut Chris Shuman, pensiunan glasiolog yang meneliti sejarah A23a, warna biru yang masih terlihat setelah bertahun-tahun menunjukkan sejarah panjang es ini dan bagaimana ia berubah seiring waktu. Seiring pecahnya bongkahan es, fragmen-fragmen besar terlepas dari bongkahan utama, mempercepat degradasi A23a.
Dampak Perubahan Iklim
Meski pencairan gunung es terapung seperti A23a tidak langsung menaikkan permukaan laut, karena es sudah mengapung, fenomena ini tetap menjadi indikator penting perubahan iklim global. Perubahan warna dan fragmentasi bongkahan es memberikan gambaran bagaimana sistem es di Antartika merespons pemanasan global dan memengaruhi dinamika lautan sekitarnya.
Kisah A23a menyoroti interaksi kompleks antara formasi es terbesar di planet ini dengan lingkungan sekitarnya. Dari kejayaannya sebagai raksasa es yang mengambang di Samudra Selatan hingga masa akhirnya yang berwarna biru dan terfragmentasi, A23a menjadi studi kasus penting bagi ilmuwan yang memantau perubahan iklim dan sistem es Antartika.
Pemantauan Masa Depan
Komunitas ilmuwan terus memantau perubahan A23a melalui citra satelit. Beberapa bulan mendatang diperkirakan akan menunjukkan pecahan-pecahan es yang semakin banyak terlepas, serta perubahan warna yang semakin intens. Observasi ini tidak hanya penting untuk memahami nasib A23a, tetapi juga sebagai indikator awal bagaimana formasi es lain di Antartika mungkin bereaksi terhadap pemanasan global.
Kisah A23a mengingatkan kita bahwa perubahan iklim bukan hanya soal suhu dan cuaca; dampaknya terlihat nyata pada sistem bumi yang luas, termasuk bongkahan es raksasa yang telah bertahan puluhan tahun. Fenomena blue mush menjadi simbol visual dari bagaimana planet kita sedang berubah di bawah tekanan pemanasan global.









