Jakarta, Jemarionline.com – Pasar keuangan domestik mencatat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026). Aksi jual aset oleh investor asing serta meluasnya sentimen penghindaran risiko di pasar global menekan posisi mata uang Garuda.
Berdasarkan data Doo Financial Futures, kurs rupiah terkoreksi sebesar 19,00 poin atau 0,11 persen menuju level Rp18.046 per dolar AS. Posisi penutupan ini menunjukkan tren pelemahan jika pelaku pasar membandingkannya dengan capaian perdagangan hari sebelumnya.
Derasnya arus keluar modal asing atau capital outflow terus mengikis tenaga mata uang domestik sepanjang sesi transaksi. Pelaku pasar global memilih melepas instrumen investasi berisiko untuk mengamankan likuiditas portofolio mereka.
Tekanan Pasar Keuangan Asia Menyeret Mata Uang Garuda
Koreksi mata uang Garuda ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia yang tunduk di hadapan dolar AS. Baht Thailand mencatat penurunan paling dalam sebesar 0,48 persen, disusul dolar Baru Taiwan yang terkikis 0,33 persen.
Mata uang Asia lain seperti peso Filipina melemah 0,15 persen dan yen Jepang turun 0,07 persen. Dolar Singapura juga mencatat penurunan tipis 0,05 persen, sedangkan ringgit Malaysia tergelincir 0,01 persen.
Kendati demikian, sejumlah mata uang kawasan masih sanggup mencatatkan penguatan di tengah tekanan global. Won Korea Selatan melesat paling tinggi sebesar 0,23 persen, yuan China naik 0,06 persen, dan rupee India menguat 0,03 persen.
Sementara itu, pergerakan dolar Hong Kong cenderung bergerak stagnan tanpa mencatatkan perubahan nilai yang berarti terhadap mata uang greenback. Pasar Asia secara umum memperlihatkan pola perdagangan yang bervariasi dengan dominasi pelemahan.
Ketegangan Geopolitik Global Memicu Penguatan Indeks Dolar AS
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa meluasnya sentimen risk off global memicu gelombang pelepasan aset domestik oleh investor asing. Dolar AS kemudian memanfaatkan momentum ini untuk melakukan rebound tajam terhadap mata uang negara berkembang.
Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah memicu kepanikan investor sehingga mendorong aksi borong aset lindung nilai. Intensifikasi perang antara Ukraina dan Rusia kian mempercepat pelarian dana internasional menuju mata uang safe haven tersebut.
Minimnya rilis agenda ekonomi penting dari pasar luar negeri hari ini membuat fokus investor beralih penuh ke ranah domestik. Pelaku pasar kini menanti hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu mendatang.
Lukman memproyeksikan rupiah masih akan bergerak dalam tren tertekan apabila fenomena penarikan dana asing belum mereda. Pergerakan mata uang rupiah diperkirakan bertahan di rentang Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan.(ar)









