Jakarta, jemarionline.com – Masyarakat urban kini menghadapi ancaman risiko perlemakan hati akibat rutinitas harian yang tidak seimbang. Padahal organ hati secara alami hanya menoleransi batas simpanan lemak di bawah lima persen.
Spesialis penyakit dalam Primaya Hospital Tangerang, dr. Nareswara Anugrah Widi Marbun, Sp.PD, membagikan peringatan medis tersebut saat berada di AEON Mall BSD City, Kabupaten Tangerang. Ia menerangkan bahwa kondisi fatty liver mulai terjadi saat kadar lemak menumpuk hingga melampaui lima sampai sepuluh persen.
Banyak pekerja kantoran tanpa sadar menimbun kalori cair dalam jumlah besar melalui pembelian minuman manis setiap hari. Segelas es kopi susu gula aren dengan opsi less sugar bahkan menyumbang sekitar 200 hingga 250 kalori per hari.
Asupan gula berlebih ini memicu lonjakan glukosa yang cepat berubah menjadi timbunan lemak organ dalam. Padahal orang dewasa berbobot 50 kilogram rata-rata hanya memerlukan energi berkisar antara 2.000 hingga 2.500 kalori harian.
Kekeliruan pola makan juga kerap menghampiri orang-orang yang mulai beralih mengonsumsi hidangan rebusan alami. Mereka sering menganggap makanan sehat bebas dari batasan porsi makan harian.
Seseorang yang menyantap ubi rebus langsung sebanyak setengah kilogram tetap membebani sistem metabolisme tubuh. Makanan sehat sekalipun akan menimbulkan dampak buruk pada tubuh saat seseorang mengonsumsinya secara berlebihan.
Pemicu Timbunan Kalori Tambahan Serta Lemak Trans
Ancaman perlemakan hati berikutnya datang dari santapan cepat saji yang mengandung banyak lemak trans buatan. Produsen makanan olahan kerap menambahkan lemak tidak jenuh yang telah melalui modifikasi bentuk kimia ini ke dalam sosis, kornet, hingga patty burger.
Zat lemak trans memiliki sifat yang sangat sulit terurai oleh metabolisme alami tubuh manusia. Senyawa olahan industri pangan tersebut akhirnya langsung mengendap dan merusak fungsi kerja organ hati.
Karakteristik lemak trans jelas berbeda dari lemak jenuh alami pada kulit ayam. Tubuh manusia tetap membutuhkan lemak jenuh alami dalam jumlah kecil demi menjaga keseimbangan rasio kolesterol.
Oleh sebab itu, dokter menyarankan masyarakat untuk menghindari konsumsi olahan berlemak trans secara total. Penghentian asupan lemak buatan ini langsung menurunkan beban filtrasi racun pada jaringan hati.
Pengaruh Gaya Hidup Sedentari Terhadap Pembakaran Kalori
Faktor utama lain yang mempercepat timbunan lemak adalah minimnya aktivitas fisik akibat gaya hidup sedentari. Pekerja modern menghabiskan sebagian besar waktu kerja mereka dengan duduk diam di depan layar komputer.
Kebiasaan duduk berjam-jam ini memangkas pembakaran kalori harian secara drastis dari pagi hingga petang. Tubuh kemudian mengalihkan sisa kalori yang tidak terpakai menjadi lapisan lemak baru di sekitar hati.
Dokter Nareswara bahkan mencontohkan profesi dokter sendiri yang sering kali terjebak dalam rutinitas duduk tanpa banyak bergerak. Kurangnya kesadaran masyarakat memperparah laju perlemakan hati di tengah maraknya tren makanan instan.
Masyarakat urban perlu segera mengatur takaran konsumsi harian serta meningkatkan frekuensi pergerakan badan secara rutin. Langkah pencegahan sederhana ini efektif menghindarkan tubuh dari ancaman komplikasi perlemakan hati yang membahayakan jiwa.(ar)









