NTT, jemarionline.com – Konektivitas pariwisata Labuan Bajo menunjukkan penguatan signifikan pada April 2026 seiring meningkatnya mobilitas transportasi di Nusa Tenggara Timur.
Badan Pusat Statistik (BPS) Manggarai Barat mencatat pertumbuhan kuat di sektor angkutan laut dan stabilnya transportasi udara.
BPS Manggarai Barat melaporkan lonjakan paling tinggi terjadi pada transportasi laut. Jumlah penumpang naik 56,92 persen, sementara aktivitas pelayaran meningkat 31,91 persen.
Data ini menunjukkan pergerakan masyarakat dan wisatawan semakin aktif melalui jalur laut.
Sementara itu, sektor transportasi udara tetap stabil. BPS mencatat jumlah penerbangan hanya naik 0,38 persen.
Meski tidak melonjak tinggi, tren ini menandakan konektivitas udara tetap terjaga di tengah meningkatnya aktivitas wisata.
Bandara dan Pelabuhan Jadi Pusat Konektivitas
BPS Manggarai Barat menilai Bandara Komodo Labuan Bajo dan Pelabuhan Labuan Bajo berperan penting dalam mendukung mobilitas wisatawan.
Kedua infrastruktur ini menjadi simpul utama yang menghubungkan wisatawan menuju berbagai destinasi di Flores.
Dyonisius Jewaru selaku Statistik Muda BPS Manggarai Barat menjelaskan bahwa peningkatan arus penumpang memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai gerbang wisata strategis.
Ia menegaskan bahwa jalur udara dan laut sama-sama berkontribusi terhadap pertumbuhan pariwisata daerah.
Menurut dia, perkembangan ini mencerminkan tren positif konektivitas transportasi di NTT. Aktivitas yang meningkat di dua moda transportasi tersebut turut mendorong pergerakan wisatawan ke kawasan wisata unggulan.
Di sisi lain, BPOLBF memperkuat kolaborasi dengan BPS Manggarai Barat untuk membangun ekosistem pariwisata berbasis data.
Kerja sama ini diarahkan untuk menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
BPOLBF menekankan pentingnya akurasi data dalam memetakan sektor pariwisata, mulai dari perhotelan, perjalanan wisata, hingga sektor kuliner.
Data tersebut menjadi dasar untuk memahami dinamika industri secara lebih detail.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk menyatukan pemahaman antar pemangku kepentingan.
Ia menilai data yang kuat akan membantu pelaku industri mengambil keputusan bisnis yang lebih efektif.
Sensus Ekonomi dan Outlook Pariwisata
Kolaborasi ini juga mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi yang menyasar pelaku industri pariwisata di Labuan Bajo Flores.
BPOLBF dan BPS ingin memastikan seluruh aktivitas ekonomi tercatat secara akurat dan menyeluruh.
Forum “Bincang Kepariwisataan II” yang digelar pada 18 Juni 2026 di Kantor BPOLBF menjadi ruang diskusi penting antara pemerintah dan pelaku industri.
Kegiatan ini berlangsung secara hybrid dan menghadirkan pembahasan terkait Tourism Outlook 2025 serta proyeksi Triwulan I 2026.
Andhy menegaskan bahwa hasil diskusi ini diharapkan membantu pelaku usaha menyusun strategi pengembangan yang lebih adaptif terhadap perubahan pasar.
Ia juga menilai forum tersebut memperkuat sinergi antara data dan kebijakan pembangunan pariwisata.
Peningkatan konektivitas transportasi dan kolaborasi data memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi utama di Indonesia.
Arus wisatawan yang terus meningkat menunjukkan daya tarik kawasan ini semakin kuat.
Dengan dukungan infrastruktur, data yang akurat, dan kerja sama lintas lembaga, Labuan Bajo berpeluang mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata secara berkelanjutan.(ar)









