Jakarta, jemarionline.com – Kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap Jumat mulai mengubah pola mobilitas masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Sejak pemerintah menerapkan aturan tersebut pada 10 April 2026, jumlah pengguna transportasi umum, terutama moda berbasis rel, langsung menurun.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat jumlah penumpang LRT Jabodebek pada hari Jumat turun hingga 17 persen dibanding periode sebelum kebijakan berlaku.
Penurunan itu terlihat dari data pengguna selama Maret dan April 2026.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan kebijakan WFH ASN memengaruhi volume penumpang harian.
Pada Maret 2026, LRT Jabodebek melayani 253.373 penumpang setiap Jumat. Namun pada April 2026, jumlah itu turun menjadi 211.293 pengguna.
“Kebijakan WFH ASN memang memengaruhi jumlah pengguna LRT Jabodebek,” kata Radhitya.
Pihak LRT Jabodebek memakai data sampel dari beberapa Jumat di Maret dan April agar hari libur nasional tidak memengaruhi hasil perbandingan.
Penurunan Penumpang Tekan Pendapatan LRT
Berkurangnya jumlah penumpang ikut menekan pendapatan operasional LRT Jabodebek.
Sebagian besar pemasukan layanan ini berasal dari jam sibuk pagi dan sore saat pekerja berangkat serta pulang kantor.
PT KAI masih memberlakukan tarif maksimal Rp20.000 pada pukul 06.00–08.59 WIB dan 16.00–19.59 WIB. Di luar jam sibuk, perusahaan menetapkan tarif maksimal Rp10.000.
Meski jumlah pengguna turun, KAI tetap mengoperasikan 430 perjalanan setiap hari kerja. Operator belum mengurangi frekuensi perjalanan pada hari Jumat karena operasional masih mengikuti pola weekday.
Radhitya memastikan KAI terus memantau dampak kebijakan WFH terhadap layanan transportasi publik di Jabodetabek.
Commuter Line Kehilangan Ribuan Penumpang
KAI Commuter juga mencatat penurunan jumlah pengguna Commuter Line Jabodetabek pada Jumat, 8 Mei 2026.
Hingga pukul 13.00 WIB, layanan tersebut melayani 499.101 pengguna atau turun sekitar 9 persen dibanding hari kerja biasa.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyebut beberapa stasiun utama mengalami penurunan cukup besar.
Stasiun Bogor mencatat penurunan hingga 23 persen. Penurunan juga terjadi di Stasiun Bekasi, Sudimara, Tangerang, dan Bekasi Timur.
Jumlah pengguna di stasiun tujuan kawasan perkantoran seperti Sudirman, Gondangdia, Juanda, dan Tebet ikut berkurang.
Meski penumpang menurun, KAI Commuter tetap menjalankan 1.063 perjalanan setiap hari untuk menjaga layanan bagi masyarakat.
Pengemudi Ojol Rasakan Perubahan Order
Kebijakan WFH ASN juga memengaruhi pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta.
Dedi (41), pengemudi ojol di kawasan Menteng, mengaku lalu lintas pada Jumat pagi kini terasa lebih lancar dibanding sebelumnya.
Namun, ia justru menerima lebih sedikit order dari kawasan perkantoran pemerintahan. Menurut Dedi, permintaan perjalanan kini berpindah ke kawasan permukiman, kafe, dan coworking space.
Siti (29), pengemudi ojol di Kebon Sirih, juga melihat perubahan serupa. Ia menilai kepadatan lalu lintas saat jam sibuk masih muncul, tetapi tidak separah sebelum pemerintah menerapkan WFH.
Kemacetan Jakarta Belum Banyak Berubah
Meski jumlah pengguna transportasi umum menurun, lalu lintas Jakarta masih tetap padat, terutama pada Jumat sore menjelang akhir pekan.
Southeast Asia Director Institute for Transportation and Development Policy Indonesia, Gonggomtua Sitanggang, menilai kebijakan WFH ASN memang membantu mengurangi mobilitas pekerja.
Namun, kebijakan itu belum cukup kuat untuk mengatasi kemacetan Jakarta secara menyeluruh.
Menurut Gonggomtua, jumlah ASN hanya sekitar 17 persen dari total pekerja di Jabodetabek yang mencapai 9 juta orang. Selain itu, banyak pegawai layanan publik tetap bekerja langsung di lapangan.
Ia meminta pemerintah memperluas layanan transportasi publik dan memperkuat integrasi antarmoda agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.(ar)









