JAKARTA, Jemarionline.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus melaju cepat di berbagai sektor. Namun, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa teknologi AI tidak cukup hanya mengandalkan model besar dan kemampuan komputasi tinggi. Perusahaan juga perlu membangun fondasi yang kuat melalui keahlian atau skill yang relevan.
Pendekatan tersebut semakin penting karena banyak organisasi kini ingin memanfaatkan AI untuk kebutuhan bisnis yang lebih spesifik dan terukur. Karena itu, sejumlah pelaku industri mulai menempatkan skill sebagai elemen utama dalam pengembangan AI generasi berikutnya.
Fondasi Baru AI Tidak Hanya Bergantung pada Model
Perusahaan teknologi kini mulai mengubah cara mereka membangun sistem AI.
Sebelumnya, banyak pihak berfokus pada ukuran model dan kemampuan menghasilkan respons yang lebih kompleks. Namun, perusahaan kini juga menekankan pentingnya agentic skill atau kemampuan khusus yang membuat AI mampu menjalankan tugas sesuai kebutuhan pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga membantu menyelesaikan pekerjaan secara lebih terarah.
Skill Jadi Kunci AI yang Lebih Relevan
Pelaku industri menilai skill memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas AI.
Saat perusahaan melatih AI dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan bisnis, sistem dapat bekerja lebih efektif dan menghasilkan output yang lebih relevan.
Selain itu, perusahaan juga dapat mengurangi risiko penggunaan AI yang terlalu umum dan kurang sesuai dengan kebutuhan operasional sehari-hari.
Karena itu, banyak organisasi mulai mengembangkan kemampuan AI berdasarkan fungsi dan peran tertentu.
Red Hat Dorong Pendekatan Agentic Skill
Dalam laporan Investor.id, Presiden dan CEO Red Hat Matt Hicks menegaskan pentingnya membangun AI di atas fondasi yang dapat dipercaya.
Ia mengajak perusahaan untuk melampaui hype AI dan mulai fokus pada pengembangan agentic skill yang benar-benar relevan dan dibutuhkan pengguna.
Menurutnya, pendekatan tersebut membantu perusahaan membangun sistem AI yang lebih stabil, terukur, dan memiliki manfaat nyata dalam aktivitas bisnis.
Open Source Ikut Perkuat Pengembangan AI
Selain mengembangkan skill, banyak perusahaan juga memanfaatkan model open source untuk mendukung operasional AI.
Red Hat bahkan menjalankan sebagian besar agen riset internal menggunakan model open source yang berjalan di infrastruktur perusahaan sendiri. Langkah tersebut membantu organisasi mengontrol sistem dengan lebih baik sekaligus mempercepat proses inovasi.
Karena itu, kombinasi antara open source dan pengembangan skill mulai menjadi strategi penting dalam transformasi digital berbasis AI.
Perusahaan Mulai Fokus pada Kebutuhan Nyata
Seiring berkembangnya teknologi, perusahaan tidak lagi hanya mengejar tren AI.
Sebaliknya, banyak organisasi kini lebih fokus mencari solusi yang benar-benar membantu pekerjaan sehari-hari, meningkatkan produktivitas, dan mempercepat proses bisnis.
Selain itu, perusahaan juga mulai mempertimbangkan faktor keamanan, transparansi, dan keandalan saat menerapkan AI dalam skala besar.
Era AI Butuh Kombinasi Teknologi dan Keahlian
Perkembangan AI menunjukkan bahwa teknologi tidak bisa berdiri sendiri.
Perusahaan tetap membutuhkan manusia yang mampu membangun, mengarahkan, dan mengembangkan kemampuan AI sesuai kebutuhan organisasi.
Karena itu, banyak pengamat menilai skill manusia akan tetap menjadi faktor penting meskipun teknologi AI terus berkembang semakin canggih. (man)









