Jakarta, jemarionline.com – Forbes Real-Time Billionaires memutakhirkan kembali susunan miliarder Indonesia akhir September 2026 pada Minggu (27/9/2026). Perubahan harga saham perusahaan publik maupun pembaruan aset pribadi menggeser jumlah nilai kekayaan para taipan Tanah Air tersebut secara berkala.
Para pengusaha sukses ini mendominasi berbagai sektor bisnis strategis, mulai dari pertambangan batu bara, industri petrokimia, jaringan perbankan, teknologi pusat data, hingga perkebunan kelapa sawit. Majalah bisnis ternama dunia itu mengkalkulasi ulang seluruh nilai kepemilikan aset secara harian dan pergerakan pasar saham setiap lima menit.
Pendiri Bayan Resources Low Tuck Kwong mengamankan posisi teratas sebagai orang terkaya di Tanah Air. Sosok raja batu bara ini mencatatkan nilai kekayaan bersih sebesar 16,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 300,72 triliun.
Kekayaan Low Tuck Kwong sebenarnya mengalami penurunan jika membandingkannya dengan kondisi pada awal bulan. Aset sang pengusaha sempat menyentuh angka 18,8 miliar dollar AS atau setara Rp 336,52 triliun pada periode awal September lalu.
Low Tuck Kwong Menguasai Tahta Orang Terkaya Indonesia
Prajogo Pangestu membuntut tepat di posisi kedua dengan total kekayaan mencapai 15,7 miliar dollar AS atau setara Rp 281,03 triliun. Pengusaha senior ini mengawali ekspansi bisnis dari industri kayu sebelum memperluas gurita bisnisnya ke sektor petrokimia dan energi terbarukan.
Imperium bisnis Barito Pacific milik Prajogo mengambil alih mayoritas saham Chandra Asri hingga berkembang pesat menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar. Ia juga mengontrol bisnis tambang dan energi hijau melalui Petrindo Jaya Kreasi serta Barito Renewables Energy.
Robert Budi Hartono menempati urutan ketiga dengan kepemilikan aset senilai 15,5 miliar dollar AS atau setara Rp 277,45 triliun. Bersama saudaranya Michael Hartono, pundi-pundi kekayaannya berasal dari kepemilikan saham mayoritas pada Bank Central Asia dan industri rokok Djarum.
Keluarga Hartono terus merambah sektor lain untuk memperkuat portofolio bisnis korporasi mereka. Salah satu langkah terbesarnya yakni menguasai platform e-commerce Blibli di bawah bendera PT Global Digital Niaga Tbk.
Anthony Salim menduduki peringkat keempat dengan total kekayaan mencapai 10,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 191,53 triliun. Pemimpin Salim Group ini mengendalikan beragam portofolio bisnis utama di bidang manufaktur makanan, ritel, perbankan, hingga penyedia jasa telekomunikasi.
Sebagai pimpinan eksekutif Indofood, Anthony Salim mengelola produsen mi instan terbesar yang menguasai pasar internasional. Grup usahanya juga memegang kepemilikan saham di First Pacific Hong Kong dan operator telekomunikasi Filipina PLDT.
Tahir beserta keluarganya mengamankan peringkat kelima dengan mencatatkan kekayaan sebesar 9,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 168,26 triliun. Mayapada Group menggerakkan lini usaha terpadu yang mencakup sektor kesehatan, jaringan perbankan, media massa, serta pengembang properti komersial.
Keluarga ini menggenggam saham Bank Mayapada dan mengendalikan aset real estat strategis melalui Maha Properti Indonesia. Tahir juga memperluas ekspansi investasi propertinya hingga ke Singapura melalui perusahaan yang tercatat di bursa efek setempat.
Sektor Pusat Data Menyumbang Nama Baru Miliarder Tanah Air
Sri Prakash Lohia berada di urutan keenam dengan kepemilikan nilai aset mencapai 8,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 155,73 triliun. Pengusaha ini membangun imperium bisnis Indorama Corp yang berfokus pada industri petrokimia, manufaktur pupuk, dan pemrosesan polimer.
Lohia merintis bisnis tersebut dari pabrik pemintalan benang sederhana pada dekade 1970-an. Kini Indorama berkembang menjadi raksasa manufaktur global yang menyuplai bahan baku tekstil dan plastik ke berbagai negara.
Sektor teknologi informasi meluncurkan nama Otto Toto Sugiri ke peringkat ketujuh dengan nilai kekayaan 8,1 miliar dollar AS atau Rp 144,99 triliun. Pria yang memelopori pertumbuhan industri data center Indonesia ini memimpin PT DCI Indonesia Tbk sebagai Chief Executive Officer.
Otto merevolusi infrastruktur digital nasional setelah sebelumnya sukses mendirikan Sigma Cipta Caraka dan penyedia jasa internet Indonet. Kebutuhan komputasi awan dan pengembangan kecerdasan buatan mendorong lonjakan nilai bisnis pusat data yang ia kelola.
Marina Budiman menyusul di urutan kedelapan dengan memegang nilai kekayaan sebesar 5,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 103,82 triliun. Rekan pendiri DCI Indonesia ini menjabat sebagai Presiden Komisaris dan memiliki rekam jejak panjang di sektor teknologi informasi.
Marina meniti karier perbankan sebelum akhirnya membangun infrastruktur internet pertama di Indonesia bersama Otto Sugiri. Sinergi kepemimpinan mereka berhasil mengantarkan DCI Indonesia menjadi pemain utama penyedia fasilitas pusat data nasional.
Lim Hariyanto Wijaya Sarwono menduduki posisi kesembilan dengan estimasi kekayaan mencapai 4,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 85,92 triliun. Keluarga Lim menguasai saham mayoritas Bumitama Agri yang mengoperasikan perkebunan kelapa sawit skala besar di Indonesia.
Melalui Harita Group, keluarga ini juga memperluas jangkauan usahanya ke sektor pertambangan bauksit dan fasilitas pengolahan nikel. Diversifikasi komoditas tambang tersebut memperkuat posisi keuangan kelompok usaha mereka di pasar global.
Theodore Rachmat melengkapi daftar 10 besar dengan nilai kekayaan mencatatkan angka 4,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 82,34 triliun. Pendiri Triputra Group ini mengoperasikan berbagai anak perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, agribisnis, serta pertambangan.
Mantan petinggi Astra ini juga memegang kepemilikan saham pada perusahaan tambang batu bara Alamtri Resources Indonesia. Rachmat aktif mengawasi arah kebijakan strategis perseroan tersebut dengan menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama.(ar)









