Jakarta, jemarionline.com – Polda Banten memastikan jasad di Pulau Enggano merupakan anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I bernama Surakman. Tim forensik mencocokkan data DNA korban secara ilmiah setelah pencarian maraton di perairan Selat Sunda.
Kapolda Banten Irjen Hengki mengonfirmasi kepastian identitas jenazah tersebut dalam konferensi pers. Petugas menerima laporan resmi mengenai kecocokan sampel genetik dari keluarga korban.
Kronologi Hilangnya Kapal Pembawa Rombongan Jurnalis Meliput Krakatau
Kapal Arupadhatu I bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang pada 7 September pukul 14.00 WIB. Rombongan kapal berlayar menuju perairan Gunung Anak Krakatau untuk keperluan peliputan erupsi.
Pihak keluarga melaporkan insiden hilang kontak pada 8 September. Kapal membawa lima jurnalis media nasional, satu kapten, satu pemandu, dan satu ABK.
Tim SAR memperluas area penyisiran ke berbagai titik wilayah laut. Warga menemukan jenazah tanpa identitas di kawasan perairan Pulau Enggano pada 12 September.
Hasil Pemeriksaan Forensik Tes DNA Mengonfirmasi Identitas Korban
Polda Banten berkoordinasi intensif dengan Polda Bengkulu untuk proses evakuasi. Tim medis langsung mengumpulkan data antemortem dari delapan keluarga korban guna keperluan pencocokan.
Proses pengujian DNA membutuhkan waktu pemeriksaan laboratorium selama 10 hari. Tim kedokteran kepolisian memastikan ketelitian tinggi sebelum mengumumkan hasil akhir kepada publik.
Hasil tes mengonfirmasi bahwa jasad tersebut identik dengan data genetik putra kandung Surakman. Hasil laboratorium ini menjawab ketidakpastian mengenai keberadaan salah satu awak kapal.
Posisi penemuan jenazah berjarak sekitar 345,05 kilometer dari lokasi hilang kontak. Data Google Earth menunjukkan bahwa kapal terakhir terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Lampung Selatan.
Arus laut membawa jasad korban hingga menyeberangi Samudra Hindia menuju wilayah Bengkulu Utara. Pihak kepolisian terus melanjutkan pencarian terhadap tujuh korban lain yang masih hilang.(ar)









