Jemarionline.com – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah keterlibatan langsung dalam serangan yang merusak Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait. Sebaliknya, Iran mengklaim rudal pencegat Patriot milik Amerika Serikat yang menyebabkan kerusakan pada fasilitas sipil tersebut.
Pernyataan tersebut muncul setelah pemerintah Kuwait menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya. Insiden itu juga memaksa otoritas menutup sementara sebagian operasional bandara.
Karena itu, perbedaan klaim antara Iran dan pihak Kuwait memicu perdebatan baru di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Iran Klaim Rudal Patriot Jadi Penyebab
Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi mengatakan investigasi internal tidak menemukan bukti bahwa Angkatan Udara IRGC menargetkan terminal bandara Kuwait. Menurutnya, kerusakan justru berasal dari rudal Patriot Amerika Serikat yang gagal mencegat serangan dan kemudian jatuh ke area terminal penumpang.
“Kerusakan terminal penumpang disebabkan kesalahan sistem Patriot,” kata Mohebbi.
Iran menegaskan bahwa serangan mereka hanya menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dan bukan infrastruktur sipil.
Amerika Serikat Langsung Membantah
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) segera menolak tuduhan tersebut.
CENTCOM menyebut klaim Iran tidak sesuai fakta dan menegaskan bahwa Iran sengaja menargetkan wilayah Kuwait melalui serangan rudal dan drone. Menurut pihak Amerika, sistem pertahanan Patriot justru berfungsi untuk melindungi wilayah sekutu dari ancaman serangan udara.
Selain itu, pejabat Amerika menyatakan investigasi awal tidak menunjukkan adanya kegagalan sistem Patriot yang menyebabkan kerusakan utama pada bandara.
Karena itu, Washington tetap menyalahkan Iran atas insiden tersebut.
Serangan Picu Kerusakan Besar
Ledakan yang terjadi di Bandara Internasional Kuwait menyebabkan kerusakan cukup luas pada Terminal 1.
Sejumlah rekaman video menunjukkan atap bangunan runtuh, kebakaran di beberapa bagian terminal, serta puing-puing yang berserakan di area bandara. Otoritas Kuwait juga melaporkan satu korban meninggal dunia dan puluhan orang mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Selain itu, pihak bandara mengalihkan sejumlah penerbangan untuk menjaga keselamatan penumpang dan kru pesawat.
Kuwait Layangkan Protes Resmi
Pemerintah Kuwait merespons insiden tersebut dengan langkah diplomatik.
Kementerian Luar Negeri Kuwait memanggil kuasa usaha Iran di Kuwait City untuk menyampaikan nota protes resmi. Selain itu, pemerintah Kuwait menetapkan dua staf diplomatik Iran sebagai persona non grata dan memerintahkan mereka meninggalkan negara tersebut dalam waktu 24 jam.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Kuwait memandang insiden ini sebagai pelanggaran serius terhadap keamanan nasionalnya.
Karena itu, hubungan diplomatik kedua negara berpotensi menghadapi tekanan baru dalam waktu dekat.
Konflik Iran dan AS Makin Memanas
Insiden di Kuwait terjadi setelah serangkaian aksi saling balas antara Iran dan Amerika Serikat.
IRGC sebelumnya mengumumkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas operasi militer AS terhadap aset Iran di kawasan Teluk.
Di sisi lain, Amerika Serikat meningkatkan kesiagaan militer dan memperkuat sistem pertahanan udara di sejumlah negara sekutu di Timur Tengah.
Karena itu, banyak pengamat khawatir konflik dapat meluas ke negara-negara lain di kawasan.
Dunia Internasional Soroti Keamanan Kawasan
Serangan terhadap Bandara Internasional Kuwait menambah kekhawatiran mengenai keamanan jalur penerbangan dan stabilitas kawasan Teluk.
Bandara Kuwait merupakan salah satu pusat transportasi penting di kawasan. Karena itu, setiap gangguan terhadap fasilitas tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas penerbangan internasional dan mobilitas ekonomi regional.
Selain itu, insiden ini juga meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar antara Iran dan Amerika Serikat. (man)









