Dokter AS Positif Ebola saat Operasi Pasien di Kongo, Kini Dievakuasi ke Jerman

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Getty Images/gorodenkoff

Foto ilustrasi: Getty Images/gorodenkoff

Jakarta, Jemarionline.com – Dokter AS positif Ebola saat operasi pasien di Kongo dan kini menjalani perawatan intensif di Jerman.

Kasus tersebut kembali menarik perhatian dunia karena menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi tenaga kesehatan ketika menangani pasien di wilayah wabah.

Tim medis memindahkan dokter tersebut ke Jerman setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi virus Ebola. Otoritas kesehatan internasional juga terus memantau perkembangan situasi di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).

Dokter Menangani Operasi Sebelum Mengetahui Pasien Membawa Ebola

Dokter yang mengalami infeksi bernama Peter Stafford.

Ia bekerja di Rumah Sakit Nyankunde, wilayah Bunia, timur RD Kongo. Sejak 2023, Stafford menjalankan pelayanan medis bersama organisasi kesehatan Serge.

Menurut laporan yang beredar, Stafford menangani operasi pasien yang awalnya tidak menunjukkan indikasi kuat mengarah ke Ebola.

Setelah tindakan selesai, kondisi pasien memburuk dan meninggal dalam waktu singkat.

Beberapa hari kemudian, Stafford mulai mengalami gejala yang mengarah pada infeksi.

Tim kesehatan segera melakukan pemeriksaan lanjutan dan menemukan hasil positif Ebola.

Peristiwa itu menunjukkan bahwa tenaga kesehatan tetap menghadapi tantangan besar ketika gejala awal penyakit menyerupai kondisi medis lain.

Baca Juga :  5 Negara dengan Utang IMF Terbesar 2026, Argentina Tembus Rp967 Triliun

Tim Medis Segera Membawa Stafford ke Jerman

Setelah menerima hasil pemeriksaan, tim kesehatan langsung menyusun proses pemindahan medis.

Pesawat medis kemudian membawa Stafford menuju fasilitas kesehatan khusus di Berlin.

Dokter spesialis infeksi di Jerman langsung menangani proses perawatan dan pemantauan.

Rumah sakit menempatkan Stafford dalam fasilitas dengan sistem pengamanan biologis tinggi untuk mengurangi risiko penyebaran.

Keluarga Stafford juga mengikuti pemantauan kesehatan sebagai langkah pencegahan.

Pihak organisasi tempat Stafford bekerja menyampaikan bahwa kondisi dokter tersebut tetap stabil selama menjalani perawatan.

WHO Terus Memantau Wabah Ebola di Kongo

Kasus ini muncul ketika otoritas kesehatan masih menghadapi perkembangan wabah Ebola di RD Kongo.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mengendalikan penyebaran.

WHO menyebut wabah saat ini melibatkan varian Bundibugyo.

Varian tersebut lebih jarang muncul dibanding beberapa jenis Ebola lain.

Sampai sekarang, ilmuwan masih terus mengembangkan pendekatan penanganan yang lebih efektif untuk jenis tersebut.

Petugas kesehatan juga memperkuat pelacakan kontak dan pemantauan masyarakat di wilayah terdampak.

Baca Juga :  Indonesia–Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama 2026–2030 di Minsk

Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang mengalami infeksi.

Seseorang dapat tertular melalui darah, muntahan, cairan tubuh lain, atau benda yang terkontaminasi.

Karena itu tenaga medis menggunakan prosedur perlindungan yang sangat ketat ketika menangani pasien.

Gejala awal Ebola biasanya meliputi:

  • demam
  • nyeri otot
  • kelelahan
  • sakit kepala
  • sakit tenggorokan

Ketika kondisi berkembang, pasien dapat mengalami:

  • muntah
  • diare
  • nyeri perut
  • gangguan organ
  • perdarahan

Tenaga kesehatan biasanya bergerak cepat untuk mengisolasi pasien dan membatasi kontak.

Risiko Global Masih Relatif Rendah

Meski kasus ini menarik perhatian internasional, WHO menilai risiko penyebaran global saat ini masih rendah.

Namun otoritas kesehatan di berbagai negara tetap meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem deteksi dini.

Kasus yang dialami Stafford juga menunjukkan bahwa wabah penyakit menular masih menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan dunia.

Tenaga medis tetap menjadi kelompok yang menghadapi risiko tertinggi karena mereka berada di garis depan setiap kali wabah muncul. (man)

Berita Terkait

Pertamina Sebut NOC Berperan Jaga Ketahanan Energi Nasional dan Dorong Ekonomi
Petugas Bandara Jeddah Lakukan Penyitaan Rokok Milik Jemaah Haji Indonesia
Rusia dan Ukraina Tukar 205 Tawanan Perang, Dimediasi AS di Tengah Memanasnya Konflik
Indonesia–Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama 2026–2030 di Minsk
China dan Jepang Kembali Bersitegang, Insiden Jet Tempur di Laut Pasifik Picu Kekhawatiran Kawasan
Kamboja Deportasi Ribuan WNA Ilegal, Didominasi Kasus Penipuan Daring
Penembakan Saat Jamuan Malam Trump Gegerkan AS, Pelaku Dipastikan Tidak Terkait Iran
PBB dan Kemlu RI Ungkap Penyerang Praka Rico Adalah Israel, Fakta Ini Mengejutkan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:00 WIB

Pertamina Sebut NOC Berperan Jaga Ketahanan Energi Nasional dan Dorong Ekonomi

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:00 WIB

Dokter AS Positif Ebola saat Operasi Pasien di Kongo, Kini Dievakuasi ke Jerman

Senin, 18 Mei 2026 - 15:00 WIB

Petugas Bandara Jeddah Lakukan Penyitaan Rokok Milik Jemaah Haji Indonesia

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:00 WIB

Rusia dan Ukraina Tukar 205 Tawanan Perang, Dimediasi AS di Tengah Memanasnya Konflik

Sabtu, 16 Mei 2026 - 14:00 WIB

Indonesia–Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama 2026–2030 di Minsk

Berita Terbaru