Jakarta, jemasrionline.com – Tren investasi generasi muda terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi dan derasnya arus informasi finansial di media sosial.
Generasi muda, terutama Gen Z, kini semakin aktif mengalokasikan dana ke berbagai instrumen investasi untuk mengejar tujuan keuangan jangka panjang.
Strategi Investasi Fleksibel yang Diterapkan Investor Muda
Ezra (26), salah satu investor muda, mulai berinvestasi sejak merencanakan kehidupan berkeluarga sekitar empat tahun lalu.
Ia kemudian menata keuangannya untuk mempersiapkan kebutuhan jangka panjang, terutama menjelang kelahiran anak pertamanya.
Dalam praktiknya, Ezra membagi dana ke berbagai instrumen seperti obligasi negara ritel (ORI), saham, deposito, dan emas fisik.
Ia tidak terpaku pada satu aset karena ia menyesuaikan keputusan investasi dengan kebutuhan hidup yang terus berubah.
Ketika membutuhkan dana untuk keperluan tertentu seperti membeli barang elektronik atau kendaraan, ia mencairkan sebagian investasinya.
Di sisi lain, ia juga memindahkan dana ke instrumen lain saat kondisi pasar berubah, misalnya ketika bunga deposito turun atau ketika pasar saham sedang bergejolak.
Peran Media Sosial dalam Keputusan Investasi
Ezra juga mengandalkan media sosial sebagai salah satu sumber informasi dalam mengambil keputusan investasi.
Ia secara aktif mengikuti influencer keuangan untuk memahami arah pasar dan membaca sentimen yang berkembang, baik positif maupun negatif.
Ia menilai informasi dari media sosial membantu dirinya memahami kondisi ekonomi lebih cepat.
Misalnya, ketika pasar saham mengalami volatilitas atau ketika harga emas turun, ia segera menyesuaikan strategi investasinya dengan menambah alokasi pada aset tertentu.
Selain itu, Ezra menggunakan layanan dari Bank Jago untuk mengatur keuangannya.
Fitur kantong digital pada aplikasi tersebut membantunya memisahkan dana investasi, tabungan, dan dana darurat secara lebih terstruktur sehingga ia lebih mudah mengelola tujuan keuangan yang berbeda.
Pergeseran Pola Aset Masyarakat Indonesia
Perubahan perilaku investasi tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga terlihat dalam data nasional.
Lembaga Penjamin Simpanan (Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)) mencatat bahwa simpanan bank masih mendominasi aset keuangan masyarakat, meskipun porsinya mulai menurun.
Pada Februari 2026, porsi simpanan bank tercatat sekitar 68 persen dari total aset individu, turun dari sekitar 73 persen pada 2023.
Sebaliknya, porsi investasi di saham dan surat berharga negara (SBN) meningkat menjadi sekitar 32 persen pada periode yang sama.
Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai mengalihkan sebagian aset mereka ke instrumen investasi yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi dalam jangka panjang.
Tantangan Konsistensi di Kalangan Gen Z
President IARFC Indonesia, Aidil Akbar, menilai tantangan utama generasi muda saat ini bukan lagi soal memulai investasi, melainkan menjaga konsistensi dalam berinvestasi.
Ia menjelaskan bahwa gaya hidup konsumtif yang semakin mudah dilakukan melalui transaksi digital membuat banyak anak muda kesulitan mempertahankan disiplin finansial.
Akses belanja online yang cepat dan kemudahan pinjaman digital mendorong pengeluaran konsumtif meningkat.
Aidil menekankan pentingnya memilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan.
Ia juga mengingatkan bahwa hasil investasi umumnya baru terasa signifikan setelah berjalan lebih dari lima tahun, sehingga kesabaran menjadi faktor penting.
Peran Teknologi dalam Pengelolaan Investasi
Industri perbankan dan teknologi finansial turut merespons perubahan perilaku tersebut.
Bank Jago mengembangkan fitur pengelolaan keuangan berbasis kantong digital untuk membantu pengguna memisahkan dana sesuai kebutuhan.
Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago, Michael Hartawan, menjelaskan bahwa banyak nasabah kesulitan mengatur keuangan karena seluruh dana tercampur dalam satu rekening.
Dengan fitur tersebut, pengguna dapat mengalokasikan dana untuk kebutuhan harian, tabungan, investasi, hingga dana darurat secara lebih disiplin.
Bank Jago juga mengintegrasikan layanan investasi dengan platform seperti Bibit dan Stockbit.
Integrasi ini memungkinkan pengguna mengelola dan memantau portofolio investasi dalam satu ekosistem tanpa harus berpindah aplikasi.(ar)









